Sudah Waktunya

Diposting: Senin, 14 Desember 2009 / 07:21:37 | Oleh: annida | Kategori: Catcil

Halaman ini diakses sebanyak: 505 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

 

Apakah kita merasa begitu berkuasa terhadap waktu dalam hidup kita? Tak ada waktu untuk sakit, misalnya, karena kita merasa bahwa waktu dalam hidup kita hanyalah untuk sehat. Jadi, kita tak pernah bisa rela bila, entah kapan, kita terjerembab dalam flu berkepanjangan, sakit kepala tak kunjung reda, atau diare melilit-lilit. Kita selalu perlu menyempatkan diri untuk mengutuk-ngutuk, memproduksi sumpah serapah, untuk penyakit yang sama sekali tak punya hak mengambil sedikit saja waktu dalam hidup kita.

Kita tak pernah memikirkan konsep “sudah waktunya”, yaitu sejenis jeda, rehat, dalam kelebat waktu kita. Jeda itu sesungguhnya hanya seketil peristiwa yang menjalankan tugasnya sebagai dekorasi kehidupan. Ia bahkan dapat berwujud apa saja, yang tanpa kita sadari justru membuat kita selalu dapat bernafas lega saat melewati kelokan kehidupan. Takut, kecewa, marah, stress, bahkan depresi, adalah beragam wujud dari seketil peristiwa yang tak kita kehendaki, tapi mereka amat setia menanti di ujung jeda waktu kita.

Terlalu banyak orang bijak yang memulai kehidupan ajaibnya dengan pertama-tama berdiri di sebuah jalan lurus-mulus. Mereka, sama seperti kita, berusaha keras agar tak ada remah-remah waktu yang terbuang percuma. Untuk alasan penting ini, terciptalah pemeo agung mereka: time is money. Apa jadinya jika uang menjadi kaca benggala waktu hidup kita? Rugi dan untung. Tapi, atas nama uang, mereka menjadi pribadi yang pilih kasih terhadap waktu. Mereka hanya menyebut waktu, jika itu adalah kegiatan berorientasi uang, menguntungkan secara finansial, setidak-tidaknya sesuatu yang berhubungan dengan fulus.

Di mana posisi sakit dalam lintasan waktu mereka? Tak ada, karena mereka telah membuat pagar tinggi menjulang agar tak ada sepotong pun jenis virus, kuman, atau bakteri yang dapat menembus kelebat waktu mereka. Di mana kecewa, sedih, stress? Mereka telah menghalaunya dengan bermacam-macam jenis hiburan, vitamin, dan buku-buku humor.

Sayangnya, saat mereka mengira sakit adalah musuh, sedih adalah rival, dan stress adalah maut, mereka justru kecewa karena hidup yang berlimpah sehat-gembira-optimistis tak memberikan sekadar nafas lega. Tak ada dramatik yang membuat mereka menjadi arif dan penuh syukur, karena sakit sesungguhnya dapat memberi mereka perasaan berharap, karena sedih dapat men-charge perasaan tak berdaya, dan stress mampu menyuplai rasa tak berarti. Mereka, tanpa sadar, berharap berada dalam jeda itu, dengan seketil peristiwa yang menuntun mereka untuk menyadari bahwa sudah waktunya sakit agar mereka memiliki rasa syukur, sudah waktunya sedih agar mereka beroleh lapang dada, sudah waktunya stress agar mereka mendapatkan rasa plong!

Nah, anggarkanlah waktu dalam hidup kita untuk menerima seketil peristiwa yang tak pernah kita harapkan, dan percayakan kepada mereka bahwa kita adalah pribadi yang bersahabat sehingga apapun nama peristiwa itu—sakit, sedih, kecewa, stress—kitalah tempat yang tepat untuk membesarkan dan memuliakan waktu dalam kehidupan kita.

 

Muhammad Yulius

yulius1073@yahoo.com

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :