Serba Dua Tapi Cuma Satu

Diposting: Rabu, 01 Juli 2009 / 23:20:58 | Oleh: annida | Kategori: Catcil

Halaman ini diakses sebanyak: 459 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Muhammad Yulius

 

Mafhum kita bahwa logika kehidupan ini seperti dua sisi mata uang, berbeda tapi bersisian. Siang dan malam, laki-laki dan perempuan, lautan dan daratan, senang dan susah, halal dan haram, hitam dan putih. Namun, mengapa seringkali kita hanya punya satu sisi pandang: kalau susah yang susah saja, kalau senang yang senang saja; yang kita lihat hanya sisi depan/atas mata uang. Lalu, kita ke manakan sisi belakang/bawahnya?

Terpukau, barangkali kata ini tepat untuk menggambarkan cara pandang kita terhadap serba-dua sisi kehidupan ini. Saat yang kita lihat adalah kesusahan, kita tak melihat sisi di baliknya, yaitu kesenangan, sehingga kita tak punya gambaraan tentang kesenangan orang yang kesusahan. Padahal, orang susah juga punya sisi senang, misalnya karena mereka tak perlu berurusan dengan KPK atau dituduh selingkuh dengan caddy golf—sisi kesusahan yang menjadi konsumsi orang senang.

Sensasi terpukau juga mengakibatkan kita mengalami ketumpulan-rasa dalam upaya mencoak sisi belakang/bawah dari sesuatu. Bila yang sedang kita pandang adalah kesenangan, maka kita tak mampu melihat-tembus sisi kesusahan sehingga kita membayangkan seandainya dapat bertukar posisi dengan orang senang. Sebagai orang susah, kita memandang kehidupan seperti gambar teve yang sedang di-pause-kan—diam, tak bergerak. Padahal, Tuhan tak pernah mem-pause-kan kehidupan ini. Kedua sisi serba-dua itu terus berputar, seperti roda gerobak, menepatkan sisi atas ke bawah dan sisi bawah ke atas, begitu seterusnya.

Jadi, serba-dua sisi kehidupan ini memang berlaku untuk semua manusia dalam setiap posisinya. Tak peduli apakah mereka saat ini sedang menjadi orang senang atau orang susah, mereka—pada saat yang bersamaan—merasakan kedua sisinya. Orang senang merasa susah dalam kesenangannya, sebagaimana orang susah merasa senang dalam kesusahannya. 

yulius1073@yahoo.com

Lampiran movie tidak tersedia.

Tidak ada posting sebelumnya

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :