Peringatan untuk Kebaikan
Diposting: Selasa, 12 Januari 2010 / 15:26:29 | Oleh: annida | Kategori: Catcil
Halaman ini diakses sebanyak: 426 kali
Rating: 0
Apakah selamanya kebaikan harus diberi ruang yang seluas-luasnya, dibiarkan berjalan tanpa catatan, didukung tanpa reserve, bahkan tak perlu ditanya mengapa dilakukan?
Tidak, ternyata tidak. Pada waktunya, kebaikan tak sekadar harus dibatasi atau dikritisi, bahkan juga harus diperingatkan. Kapankah itu?
Saat kita memelihara prasangka bahwa berbuat baik kepada orang yang kita tengarai memiliki daya dukung tinggi terhadap kebaikan—dan dengan sendirinya akan menghasilkan keberpihakan yang kuat—saat itulah benih-benih sikap yang berbahaya mulai bertumbuhan. Merasa yakin kepada dukungan orang kuat, merasa optimistis bahwa dukungan merekalah yang bakal memberi daya dorong bagi kebaikan di masa mendatang hingga akhirnya kecambah itu nyaris menutupi pohon tawakal, kebun wala (bergantung) kepada Allah, dan pagar bara’ (berlepas diri) kita kepada selain-Nya. Usaha di tangan kita dan hasil di tangan Allah nyaris berganti jargon menjadi usaha dan hasil berada di tangan kita.
Sejak pagi-pagi sekali, Allah telah memperlihatkan model pendekatan kebaikan macam ini, yaitu saaat Nabi saw asyik mengajak kaum bangsawan Quraisy untuk memeluk Islam. Dalam logika kebaikan, ini adalah tindakan yang strategis dan mulia. Namun, strategis dan mulia tidaklah berarti apa-apa ketika Allah mengirim pilihan yang lebih tinggi nilainya, yaitu komitmen dan kepastian, meski dalam wujud seseorang bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Lelaki miskin dan buta itu datang kepada Rasulullah dengan kesiapan untuk hidup dan mati dalam Islam.
Maka, ketika yang dilakukan Nabi adalah memalingkan wajah dengan ekspresi masam, Allah segera memberikan peringatan: abasa watawalla! (dia bermuka masam dan berpaling). Maksud Allah segera dapat dipahami. Kebaikan, selain membutuhkan dukungan kekuatan, yang lebih penting lagi sesungguhnya adalah dukungan kepastian. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan Nabi saw sampai surat Abasa diturunkan, belum menghasilkan dukungan kepastian itu, sehingga Allah memandang perlu untuk memperingatkan beliau. Jelas, jika dibandingkan dengan Ummi Maktum, usaha Nabi mendekati golongan kaya Quraisy tidak berarti apa-apa. Sudah bercapek-capek, tapi belum seorang pun yang memberikan kepastian dukungan.
Situasi yang dihadapi Nabi, yang menjadi sebab turunnya (asbabun nuzul) surah Abasa, bukan saja memberikan pelajaran kepada kita tentang pentingnya memberi pembatasan kepada kebaikan, kritik, catatan, bahkan peringatan, melainkan juga tentang nilai dukungan. Kebaikan, selamanya membutuhkan dukungan komitmen dan kepastian, bukan janji—apalagi sekadar janji manis. Hebatnya, dalam pandangan Allah, komitmen dan kepastian tidak dibandingluruskan dengan strata sosial. So, saat Ummi Maktum datang, urusan komitmen dan kepastian yang diharapkan Nabi dari kaum bangsawan Quraisy, selesai sudah. Nabi telah menemukannya pada diri Ummi Maktum, dan Allah-lah yang mengirimkannya.
Apa itu komitmen dan kepastian, yang jika kebaikan tak menemukan keduanya maka kebaikan itu harus dibatasi, diberi catatan, kritik, bahkan peringatan? Dalam kasus surah Abasa, jelaslah bahwa komitmen dan kepastian adalah kesiapan diri untuk mengetahui, memahami, meyakini, dan, segera setelah itu, menindak-buktikan nilai-nilai kebenaran Ilahi yang dinubuatkan. Nah, karena dalam praktiknya kesiapan diri itu tidak berurusan dengan stratitifikasi buatan manusia, seperti kekayaan atau status sosial, kita sebagai penyeru kebaikan mesti waspada terhadap jebakan subjektivitas atas target-target kebaikan.
Kaya dan berpengaruh mungkin bisa menjadi jaminan kekuatan, tapi jika kekuatan tak menghasilkan komitmen dan kepastian, buat apa? Sebaliknya, miskin dan papa bisa saja menjadi jaminan kelemahan, tapi jika kelemahan dapat memantik komitmen dan kepastian, apa salahnya?
Muhammad Yulius
yulius1073@yahoo.com
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




