Wanting Mor
Diposting: Sabtu, 31 Oktober 2009 / 19:34:10 | Oleh: annida | Kategori: Buku Luar
Halaman ini diakses sebanyak: 238 kali
Rating: 0
Wanting Mor
Penulis: Ruksana Khan
Penerbit: Groundwood Books (Toronto, 2009)
Tebal: 189 halaman
Bagi Sobat Nida yang sudah akrab dengan karya-karya Rukhsanah Khan, pasti akan terkejut-kejut dengan buku teranyar yang ditulisnya ini. Penulis asal Lahore, Pakistan, ini memang sudah kadung terkenal sebagai penulis buku-buku anak, khususnya yang berlatar Timur Tengah. Wanting Mor adalah buku pertamanya yang mengisahkan konflik wanita dewasa. Tapi cerita yang disajikan Khan masih tetap berbalut konflik Afghanistan di tengah prahara perang tak berkesudahan.
Wanting Mor berkisah tentang perjuangan seorang gadis Afgan; Jameela, yang selalu penuh dengan penderitaan. Ia hidup dari sebuah keluarga miskin yang juga harus menghadapi konflik negaranya. Keadaannya serba susah ketika sang ibu; Mor, satu-satunya orang yang ia banggakan dan membuatnya merasa perlu untuk tetap bertahan hidup dan melakukan yang terbaik bagi hidupnya, meninggal dunia. Hidup dengan sang ayah, yang kemudian menikah lagi dengan seorang perempuan bengis adalah penderitaan selanjutnya yang telah menanti Jameela.
Bukan saja karena sang ayah adalah pecandu obat-obatan terlarang dan pemabuk berat, dengan perangainya yang kasar. Keberadaan ibu tiri dalam rumahnya kian menggambarkan bagaimana Jameela harus terus berjuang di dua tempat sekaligus; keluarganya yang carut-marut dan negaranya yang kacau-balau. Ia harus membuat pilihan: pergi ke luar rumah dengan segala risiko kejahatan di tengah konflik, ancaman rudal di mana-mana, dan orang-orang asing yang menyimpan niat-niat busuk, atau tetap tinggal di dalam rumah dengan caci maki ibu tiri dan ayahnya. Intinya, kebahagiaan memang tak pernah mau bersahabat dengan Jameela.
Suatu ketika ia benar-benar ingin mengakhiri hidupnya ketika ayah dan ibu tirinya memutuskan untuk membuang Jameela di pasar. Ia linglung, ketakutan, hingga ingin mati. Tapi beruntung, ia kembali mengingat sosok ibunya yang ia kenal penuh dengan kelembutan. Jameela tak jadi mati karena ia ingin seperti ibunya yang dikenal dan dikenang banyak orang karena keshalihan dan beragam kebajikan yang dilakukannya. Maka, Jameela kemudian mulai menata hidupnya di panti asuhan. Kesulitan dan cobaan tetap ia temui; kerasnya kota Kabul, dikhianati teman, hingga gejolak dari orang-orang korban perang.
Cerita dalam buku ini mengingatkan kita pada dongeng Cinderella yang sepanjang hidupnya penuh derita. Tak heran bila banyak orang mengira Khan terisnpirasi oleh dongeng dunia tentang penderitaan seorang anak dengan ibu tirinya itu. Kalau saja Khan tak mahir memasukkan unsur-unsur budaya Afganistan secara sosiologis, mulai dari pengenalan bahasa Persi, Arab, dan Pastho di beberapa dialog, hingga sudut pandang korban perang di Afganistan dengan data-data yang akurat, pastilah novel ini sudah dianggap sebagai kisah Cinderella versi Afganistan.
Walaupun demikian, Khan memang punya keahlian dalam penggambaran karakter tokoh-tokoh dalam buku-bukunya. Hal ini memaksa pembaca larut dalam cerita dan karakter tokoh utamanya. Begitupun dengan Wanting Mor, pembaca akan menikmati sajian Afganistan yang penuh konflik dengan segala kekacauan di dalamnya melalui perjuangan Jameela yang mencoba menjadi karang di tengah terpaan ombak. [nyimas]
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




