Tentukan Output, Biar Hidup Tak Semrawut
Diposting: Senin, 09 Nopember 2009 / 14:05:59 | Oleh: annida | Kategori: Bianglala
Halaman ini diakses sebanyak: 1280 kali
Rating: 0
Kita mungkin sering mengklaim, "Output itu kan tergantung input-nya!" kalau di-input hal-hal bagus yaa tentu output-nya juga bagus, kalau di-input hal yang buruk, pasti output-nya buruk juga. Jadi semuanya tergantung input!
Yaa...perkataan tersebut memang masuk akal sih! Ibaratnya teko kosong, kalau diisi air teh tentu yang keluar akan air teh, tapi kalau diisi air kopi, tentu yang keluar air kopi juga. Air yang keluar (output) dari teko tergantung apa yang diisi (input) ke dalam teko tersebut. Memang benar begitu!
Akan tetapi, kalau mengikuti alur pemikiran seperti itu, secara tidak sadar kita terjebak menjadi korban loh! Hasil akhirnya malah memakai prinsip apa boleh buat, terima saja apapun output yang keluar, karena terlampau berfokus pada input:
"Apa boleh buat, wong isi tekonya kopi, yaa saya minum kopi saja."
"Apa boleh buat, saya sudah masuk jurusan psikologi, yaa kerja sesuai bidang psikologi!"
"Apa boleh buat, saya sudah jadi pegawai swasta, yaa jalankan saja..."
"Apa boleh buat, saya dari sononya begini, nggak mungkin jadi begitu..."
Seolah tidak ada pilihan lain, mati kutu.
Padahal tidak ada aturan yang mengharuskan seperti itu, menyamakan output sesuai dengan input-nya. Bukankah setiap orang bisa saja keliru memasukkan input? Misalnya salah masukin air plus tanah liat ke dalam teko, padahal maksudnya ingin membuat cokelat hangat. Kalau harus pasrah terima outputnya... nggak banget dong!
Contoh terdekat bahwa output tidak musti sama dengan input: Ada banyak sekali penulis yang bukan ber-input sastra, malah ada yang berlatar belakang dokter hewan, arsitektur, drop out universitas, atau bahkan penarik becak. Mereka akhirnya bisa jadi penulis, karena mereka tidak tergantung pada input alias latar belakang, melainkan berfokus pada output yang mereka inginkan.
Output dan Kembarannya VS Angan-angan
Sobat Nida, output yang Nida maksud kali ini punya banyak kembaran, mungkin kalian lebih mengenal kembarannya yup! Mereka bernama Impian, Cita-cita, dan Visi. Tapi hati-hati! Jangan samakan output dan kembarannya itu dengan angan-angan, karena mereka sangat berbeda.
Di mana letak perbedaannya?
Angan-angan biasanya merujuk pada sesuatu yang berlawanan dengan kenyataan yang sudah terjadi. Biasanya ada kata kuncinya:
"Ah, coba kalau begini... pasti nggak begitu jadinya."
"Kalau saja..."
"Andaikan..."
Apa yang diangan-angankan biasanya jauh dari kondisi yang sebenarnya.
"Coba hidung gue mancung kayak Julia Roberts, pasti gue ditaksir banyak cowok."
(Artinya, hidungnya saat ini tidak mancung, dan tidak banyak cowok yang naksir dia saat ini). Angan-angan cenderung ngabisin waktu untuk hal tidak penting, dan seperti mengeluh. Setan paling suka ngebikin manusia berangan-angan loh. Hati-hati!
Sementara yang Nida maksud dengan output di sini adalah blueprint alias gambaran masa depan kita; mau jadi seperti apa sih kamu kelak?
Salah satu kisah nyata yang menginspirasi mengenai impian atau cita-cita atau visi atau output ini adalah apa yang telah dilakukan oleh John Goddard pada tahun 1940, saat ia masih berusia 15 tahun. Waktu itu ia menguping pembicaraan bibi dan neneknya yang berangan-angan, mengatakan andai saja dulu mereka melakukan ini dan itu, di usia senja kini mereka menyesal karena kehidupan yang telah lalu tidak bisa diulang lagi. Ketika mendengar keluhan dan penyesalan itu, Goddard bertekad di usia senjanya nanti ia tidak akan pernah mengatakan kata "menyesal" terhadap hidupnya. Oleh karena itulah kemudian Goddard mengambil kertas bergaris warna kuning dan menuliskan 127 hal yang ia inginkan terjadi dalam hidupnya. Kamu tahu? Tulisan ini kemudian menjadi cetak biru kehidupannya.
Goddard menyukai tantangan alam dan petualangan, sebab itulah dalam buku impiannya ia menuliskan 8 nama sungai dunia yang ingin ia arungi, gunung-gunung dunia yang ingin ia daki, air terjun dunia yang ingin ia potret, tujuh keajaiban dunia yang ingin ia kunjungi, samudera yang ingin ia selami, dan lain sebagainya hal-hal yang ingin ia wujudkan dalam hidupnya. Termasuk berperan sebagai Tarzan (walaupun untuk yang satu ini ia sadar bahwa itu cuma khayalan kanak-kanaknya) dan pergi ke bulan.
Tahun 1972, saat ia berusia 47 tahun, Goddard telah mencapai 103 dari target orisinalnya sebagaimana dilaporkan majalah Life dalam artikel yang berjudul "Hidup Seorang Manusia Tanpa Penyesalan." Artikel yang berisi wawancara Goddard tersebut menjadi artikel yang paling banyak diminta copy ulangnya sepanjang sejarah majalah tersebut.
Bayangkan! Goddard telah berhasil menjelajahi Grand Canyon (bahkan untuk yang keempat kalinya), mengunjungi semua negara di dunia (tinggal 30 yang belum), menulis buku (Perjalanan di Sungai Nil), membaca karya Shakespeare, Plato, Aristotle, Dickens, Thoreau, Rousseau, Hemmingway, Twain, Burrough, Keat, Poe, Bacon, Whittier dan Emerson (meski tidak keseluruhan karya mereka), mengenal komposisi musik Bach, Beethoven dll, melihat upacara fire walking (di Bali dan Suriname). Bahkan kemudian ia menjadi penceramah yang dibayar tinggi untuk bercerita mengenai petualangan-petualangannya itu.
Wow?
Output yang memiliki kekuatan seperti inilah yang sedang kita bahas kali ini.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.



