Ramadhan, Ujian Kenaikan Iman
Diposting: Kamis, 03 September 2009 / 00:30:54 | Oleh: annida | Kategori: Bianglala
Halaman ini diakses sebanyak: 225 kali
Rating: 0
Ramadhan dan Ujian
Sobat Nida, kalau Ramadhan diumpamakan sebagai ujian alias tes, kira-kira kita ini peserta ujian yang seperti apa ya?
Coba deh perhatikan! Berdasarkan pengamatan dan pengalaman Nida, karakter para peserta ujian setidaknya terbagi ke dalam 3 kelompok berikut:
1. Kelompok Maksimalis. Orang-orang yang masuk dalam kelompok ini mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian dengan baik, jauh sebelum waktu ujian tiba mereka telah menyisihkan waktu untuk belajar sungguh-sungguh (Marhaban yaa Ramadhan). Ketika ujian berlangsung pun mereka berusaha menjawab soal yang ada dengan sebaik mungkin (puasa perut, puasa lidah, puasa mata, dkk, banyak tilawah, shalat sunah, sedekah), mereka tidak hanya berharap bisa lulus ujian, tapi juga memperoleh nilai tinggi, bahkan nilai terbaik (menjadi insan bertakwa).
2. Kelompok Setengah-setengah. Nah, kalau ini beda! Mereka yang tergolong kelompok ini punya prinsip: Siap nggak siap, harus siap! Artinya, meskipun persiapannya belum seberapa, tapi mereka tetap berusaha tegar menghadapi ujian (waduh, sudah Ramadhan lagi!). Biasanya mereka akan tersenyum senang saat menjawab soal-soal yang mudah dalam ujian (Sahur dan berbuka nggak pernah absent), tapi mulai grasah-grusuh ketika menemukan soal susah (wah, ngintip komik atau film bokep siang bolong boleh nggak ya? or Gue pengen banget ngamuk sama sopir angkot nggak tau diri yang nyalip motor gue!)
Ada beberapa peserta ujian dari kelompok ini yang ketika dihadapkan oleh "soal sulit" kemudian memutuskan untuk tengok kanan-kiri, tanya depan-belakang, nyari contekan plus kambing hitam! (ah, ngegosip pas puasa nggak pa-pa kok, tuh di TV artis-artis rame ngegosip, nggak ada ustadz yang ngelarang, kalau mereka boleh... kenapa gue nggak?). Namun ada juga yang menahan diri untuk tidak melanggar peraturan ujian (mendingan bobo aja deh, aman. Tidur selama puasa kan bernilai ibadah).
Bagi kelompok ini, yang terpenting adalah lulus! Kalau standar lulusnya adalah nilai 4, maka mereka sudah puas dan lega luar biasa ketika memperoleh 4,1. (Alhamdulillah, udah adzan Maghrib!)
3. Kelompok Minimalis. Kelompok ini bisa dikatakan sebagai kelompok penentang ujian, hati mereka protes terhadap adanya sistem ujian (ngapain sih ada puasa segala?), bagi mereka... kalau ada jalan belakang, ngapain juga capek-capek menghadapi tes? (gue nggak puasa ah, gue kan sibuk. Mending gue bayar fidyah aja deh, lebih nyata manfaatnya buat orang miskin).
Kepala mereka puyeng melihat soal ujian (Masa" iya nggak boleh marah, nggak boleh makan-minum, nggak boleh lihat aurat orang, nggak tahan lah yauw!). Nah, para penganut minimalis ini pun akan mencoba segala jurus dan alasan untuk tidak mengikuti ujian (gue punya penyakit maag, jadwal gue padat, gue pergi ke berbagai kota Ramadhan ini, berarti kan gue musafir, boleh doong nggak puasa!)
Bagi kelompok ini... kalau pun tahu bahwa ujian ini penting, mereka akan berpikir: Toh masih ada ujian lagi tahun depannya (Ramadhan tahun depan gue puasa deh, janji!). Yang pasti, saat perayaan kelulusan, mereka akan ikut serta berbaur dengan yang lainnya, juga ikut-ikutan bawa pylox untuk coret baju, rame-rame-an (lebaran kumpul-kumpul pakai baju baru, makan ketupat, kirim-kirim parcel), kan nggak ada yang tahu siapa yang lulus dan nggak lulus! Hmm...
Sobat Nida, kamu termasuk tipe "peserta ujian" yang mana? Maksimalis, Setengah-setengah, atau minimalis? Sudah siapkah untuk "insyaf" menjadi peserta ujian yang baik pada Ramadhan kali ini?
Yang mana pun kamu, pastikan terus membaca bianglala edisi ini hingga titik terakhir ya!
Buat Apa Ujian?
Berapa usiamu sekarang? Kalau sudah di atas sepuluh tahun, rasa-rasanya tidak mungkin kamu belum pernah merasakan apa yang namanya ujian. Setiap akan kenaikan kelas, sekolah pasti akan melaksanakan ujian untuk para siswanya. Jangankan sekolah, anak-anak yang mengikuti homeschooling saja mau tidak mau harus menghadapi ujian. Begitu juga mahasiswa, calon PNS, bahkan untuk sekedar masuk les bahasa Inggris pun setiap lembaga biasanya sudah menyiapkan soal ujian untuk calon siswanya, yang beken dengan istilah placement test (tes penempatan).
Nah, kalau untuk masuk les saja lembaga berhak memberi ujian penempatan, apalagi untuk masuk surga. Masa iya kamu masih bingung sama Allah dengan bertanya: kenapa sih mau jadi Islam yang bener aja harus syahadat, shalat, puasa, zakat, haji bila mampu? Ribet bener!
Lha, itu kan ujian penempatannya!
Kalau kamu cuma mampu bersyahadat doang, jangan marah kalau ditempatkan oleh penduduk langit dan bumi sebagai penganut Islam KTP, yang berhak masuk surga nantinya juga cuma KTP-nya aja. Toh kalau KTP hilang, orang tidak akan tahu apakah kamu seorang muslim atau bukan. Wong tidak pernah shalat. Ramadhan pun berani merokok di pinggir jalan. Boro-boro zakat... penghasilan saja tidak ada, etc. Eit, itu cuma contoh ekstrem loh, Nida percaya itu bukan kamu.
Bagi kita sebagai peserta, ujian memang berguna untuk mengukur kemampuan diri sendiri. Sebenarnya berapa sih nilai pemahaman kita? Sementara bagi "panitia pelaksana", ujian tentu saja berguna untuk menyaring. Menyaring apa? Tentu saja menyaring para peserta yang hanya "mengaku mampu" dengan yang "beneran mampu", agar jelas dan mudah dibedakan.
Di dunia ini kan ada milyaran manusia yang mengaku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kalau tidak diuji, tentu pengakuannya tidak valid dan bisa digolongkan sebagai omong kosong alias tong kosong nyaring bunyinya. Na udzubillah... jauh-jauh deh!
Ramadhan, Sebuah Momentum
Nah teman-teman, Ramadhan adalah momentum yang bagus untuk menaikkan level keimanan kita. Allah menghadiahkan Ramadhan untuk kita. Sayangnya, banyak dari kita yang tidak paham... mengira Allah senang mempersulit kita dengan "ujian sebulan" yang begitu berat, senang melihat kita merintih kelaparan. Ini persis seperti kisah seorang tukang bangunan yang akan pensiun. Pernah dengar?
Nida ceritakan lagi deh gubahan singkatnya, alkisah ada seorang pria paruh baya yang akan "pensiun" dari kerjanya sebagai tukang bangunan. Akan tetapi, tepat saat ia seharusnya pensiun, bos-nya malah menyuruhnya membangun sebuah rumah terakhir, si tukang bangunan bahkan hanya diberi waktu sebulan untuk menyelesaikan.
Tukang bangunan itu sebenarnya mau protes, tapi tidak mungkin, secara... bos-nya yang nyuruh gitu loh. Akhirnya terpaksa ia bangun rumah itu dengan peluh dan keluh. Batu batanya disusun cepat-cepat, temboknya disemen asal jadi, lantai dan atapnya pun demikian, pokoknya asal jadi rumah. Ini adalah bentuk protesnya pada sang bos.
Sebulan kemudian rumah mungil itu telah selesai dibangun. Betapa kagetnya sang tukang bangunan saat bos-nya dengan senyuman memberi kunci rumah itu padanya dan menyatakan bahwa rumah itu sebenarnya untuk dirinya. Tempat istirahat bersama keluarga di masa pensiun. Terbayang dong betapa menyesalnya sang tukang bangunan? Kalau saja ia tahu lebih awal, tentu tembok, lantai, dan atap rumah itu tidak seburuk sekarang.
Belum terlambat untuk menyadari bahwa Ramadhan adalah hadiah dari Allah untuk kita! "Ujian" 30 hari ini adalah momentum yang luar biasa untuk "membangun rumah keimanan" kita dengan baik.
Apakah kamu masih ingat apa yang dimaksud momentum? Ya, momentum merupakan hukum alam kebalikan dari inersia. Kalau inersia-nya Newton menyatakan bahwa sebuah benda yang diam akan mempertahankan diamnya, sementara momentum menjelaskan bahwa sebuah benda bergerak akan terus mempertahankan geraknya.
Biar lebih jelas, coba Nida ilustrasikan dengan sebuah mobil. Kalau ada mobil mogok (diam), bukankah kita akan kesulitan mendorongnya untuk bergerak? Ini yang disebut inersia, mobil itu mempertahankan diamnya. Nah, tidak berapa lama setelah susah payah kita dorong, mobil mogok itu akan bergerak pelan-pelan dan kemudian bergerak semakin mantap meskipun tenaga yang kita keluarkan untuk mendorongnya tidak terlalu besar, hal ini disebabkan mobil itu telah mendapat momentum untuk mempertahankan geraknya.
Sebenarnya manusia dan mobil tidak jauh beda. Kalau kita lagi futur (mogok), alias malas ngapa-ngapain (malas baca qur an, malas shalat tepat waktu, malas shalat malam, etc.), bukankah sangat susah untuk "digerakkan"? Nah, bukankah Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk membangkitkan momentum-mu!
Saat Ramadhan seperti ini di mana-mana orang akan melantunkan bacaan Qur an minimal satu juz sehari, coba deh ikutan khatam 30 juz Ramadhan ini!
Saat Ramadhan pula semua masjid dipenuhi oleh orang yang shalat Dhuha, mengkaji al-Qur an, shalat sunah rawatib, dan ibadah sunah lainnya, kenapa kita tidak ikut ambil bagian untuk mendorong momentum dahsyat ibadah kita? Lakukanlah semua ibadah yang mungkin dilakukan saat Ramadhan ini! (Termasuk menulis buku, artikel, atau cerpen islami, kemudian mengirimkan ke Nida! Hmm).
Tips Sukses "Ujian" Ramadhan
Semoga sekarang kita sudah benar-benar "ngeh" betapa berharganya detik demi detik di bulan Ramadhan. Bagaimana supaya kita lulus dengan memuaskan pada Ramadhan kali ini? Berikut beberapa tips "ujian" yang bisa Nida bagikan, mudah-mudahan bisa sama-sama kita praktekkan ya!
- Bunuh rasa putus asa!
Kadang kita terhinggapi penyakit perfeksionis, sehingga kalau ada sedikit saja yang tidak beres, kita merasa sudah terlanjur... sekalian saja tidak beres sampai akhir!
Misalnya, sepuluh hari pertama Ramadhanmu kacau, banyak target tidak terpenuhi, harusnya ngaji sudah sampai juz 10, eeh malah masih juz 3. Nah, bukannya mengejar ketertinggalan dengan mengaji lebih banyak dan lebih sering, banyak orang yang malah keburu putus asa dan malas. Ini nih yang harus diwaspadai!
Bunuhlah rasa putus asa dengan rumus "Just Beat it!" dan juga "Just Do It!" Segera lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan hari ini! Tidak usah kebanyakan melihat "kaca spion" yang menyebabkanmu terkenang masa lalu yang sudah tertinggal. Lihatlah waktu yang masih ada, selama belum lebaran, berarti masih bulan Ramadhan, artinya kesempatan "mengikuti ujian" dengan baik masih tersisa. Isilah dengan baik! Ayo tarawih! Ayo baca Qur an!
- Hindari rasa Kepedean!
Ada kisah nyata yang menarik untuk direnungi. Salah seorang sahabat Nida pernah mengalami peristiwa buruk saat ujian masuk universitas. Ia telah mempersiapkan diri dengan baik, bahkan saat ujian pun ia merasa telah menjawab banyak pertanyaan dengan benar. Namun ada satu hal yang luput ia perhatikan, yaitu mengisi nomor kode soal. Bisa ditebak... ia gagal dalam ujian itu, meski mungkin kebanyakan jawabannya sebenarnya betul.
Nah, belajar dari pengalaman tersebut, janganlah kita sampai terlalu pede karena merasa telah banyak "mengerjakan soal" dengan baik pada "ujian Ramadhan" kali ini.
"Aku sudah ngaji 2 juz per hari, sedekah sepuluh ribu per minggu, baca 2 buku tafsir per sepuluh hari, dan melakukan shalat Tahajud, Dhuha, serta sunah Rawatib setiap harinya selama Ramadhan!"
Percaya deh... semua itu percuma kalau kamu lupa menyertakan "password" ujian Ramadhan. Apakah passwordnya?
Ya tentu saja: Ikhlas!
Kalau kamu melakukan semua ibadah itu sekedar demi untuk mengisi Agenda Ramadhan yang diberikan guru ngaji atau guru Agama di sekolah, duuh...sayang banget deh!
Tapi ada lagi loh bentuk "kepedean" yang lebih dahsyat:
"Gue mah ngaji cukup selembar per hari, sedekah gope per minggu, pokoknya biar pun sedikit yang penting kan ikhlas!"
Nah lo, pede banget sudah berbuat ikhlas! Bukankah manusia pembunuh pertama, Qobil putra Adam As., pemberiannya tidak diterima Allah lantaran ia mengurbankan kambing paling kurus dan berpenyakit, serta memilih hasil tanaman yang paling buruk untuk dikurbankan?
Lha, yaa pasti ikhlas-lah... wong cuma memberikan sesuatu yang tidak berharga, tidak memerlukan pengorbanan sedikit pun. Jadi, mari kita hati-hati dengan rasa pede yang tidak tepat!
- Pertahankan Momentum hingga Syawal!
Kalau kamu telah berhasil menemukan momentum yang menggerakkan ibadahmu, teruskanlah hingga bulan-bulan setelah Ramadhan! Tetaplah berpuasa di bulan Syawal, minimal 6 hari. Juga pertahankanlah ritme mengkhatamkan 30 juz Qur an dalam sebulan, dan ritme bangun malam untuk Tahajud, serta lain sebagainya.
Dengan demikian, ujian kenaikan iman yang kita ikuti selama Ramadhan bisa dinyatakan lulus dan berbekas ke bulan-bulan selanjutnya. Amiin. [Syamsa]
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.



