ISTIQOMAH yang GAMPANG-GAMPANG SUSAH
Diposting: Senin, 19 Oktober 2009 / 10:52:41 | Oleh: annida | Kategori: Bianglala
Halaman ini diakses sebanyak: 1156 kali
Rating: 0
Kalau saja kita menyadari keistimewaan Ramadhan, tentu hati kita akan mengharap semua bulan adalah Ramadhan. Bukan! Ramadhan menjadi istimewa bukan karena menu hidangan berbuka yang selalu menggugah selera, bukan pula karena momen reuni di ifthor jama i yang selalu dinanti, apalagi karena gaji ke-13 alias THR yang menyenangkan hati, mudah-mudahan bukan hal remeh-temeh itu yang membuat kita merindukan kedatangan Ramadhan sampai-sampai berdoa tiap bulan adalah Ramadhan.
Keistimewaan Ramadhan justru karena selama sebulan penuh itulah kita dididik oleh Allah secara langsung, dengan segenap kesadaran hati, bahkan lingkungan sekitar pun turut mendukung pendidikan ini, istilahnya terkondisikan-lah begitu.
Ambil contoh gampang, bukankah ketika kita sedang berpuasa kemudian tiba-tiba ada hal yang membuat darah kita naik hingga kepala sampai terasa mau meledak, akan ada setidak-tidaknya seseorang-yang entah dengan bercanda atau serius-mengingatkan, "Woy, sabar! Lagi puasa...", kemudian kita akan beristighfar. Begitu pula ketika kita tergoda ingin berbohong, menggosip, mengumpat kasar atau mengeluh. Selama Ramadhan, biasanya akan ada "alarm" yang berbunyi dan menahan kita untuk tidak jadi melakukan hal-hal buruk tersebut. Bentuk pendidikan yang luar biasa bukan? Bahkan banyak juga orang yang tadinya tidak pernah shalat, jadi rajin ke masjid ketika Ramadhan. Subhanallah...
Lantas, kalau Ramadhan begitu berharga, kenapa Allah tidak menjadikan seluruh bulan seperti Ramadhan saja?
Karakteristik Pendidikan
Sudah menjadi karakter bahwa pendidikan itu memiliki tahapan. Waktu masih kecil, kita yang tidak tahu apa pentingnya makan dan tidur, dikenalkan dengan suapan dan kelonan. Iya dong... anak kecil kan kalau mau makan tinggal tunggu disuapi, mau tidur pun harus dikeloni dulu, ditepuk-tepuk, sampai akhirnya bisa ditinggal setelah terlelap. Hal tersebut wajar dan sah-sah saja untuk mendidik mereka dan mengenalkan mereka akan kebutuhan makan dan tidur.
Semakin tumbuh dewasa, seharusnya kita tidak lagi memerlukan "suapan" dan "kelonan" seperti itu, malahan terasa janggal dan tidak lucu melihat anak gede yang ogah makan kecuali kalau disuapi, dan ogah tidur kecuali kalau dikeloni, itu namanya anak gede tidak tahu diri. Wong makan dan tidur adalah kebutuhannya sendiri, kok minta orang lain bertanggung jawab memenuhi kebutuhannya, lucu!
Memang sesekali ada orangtua yang rela menyuapi sendok demi sendok makanan untuk anaknya yang sudah dewasa, mungkin karena sang anak sakit, atau untuk menunjukkan betapa besar kasih sayangnya. Nah, keadaan istimewa seperti ini sama persis seperti Allah memberi Ramadhan pada kita.
Selama sebulan penuh Allah menunjukkan kasih sayangnya dengan "menyuapi" kita, mengingatkan kebutuhan kita akan shalat, membaca Qur "an, memakmurkan masjid, silaturahmi, saling bertaushiyah, bersedekah, menahan amarah, dan menu-menu "hidangan bergizi" lainnya.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.



