Allah Maha Memungkinkan dan Maha Tidak Memungkinkan -Yang Penting Optimis!

Diposting: Sabtu, 01 Agustus 2009 / 13:44:38 | Oleh: annida | Kategori: Bianglala

Halaman ini diakses sebanyak: 929 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Syahdan, pada tahun 1986 di New York, diselenggarakan kompetisi lari marathon tingkat dunia yang diikuti oleh ribuan pelari. Ada satu peserta yang menjadi pusat perhatian karena ia berbeda dengan para peserta lainnya. Ia tak memiliki sepasang kaki yang menjadi modal utama dalam kejuaran itu. Tapi ia tak kehilangan akal-juga semangat-untuk berpartisipasi dalam lomba tersebut. Ia gunakan kedua tangannya untuk menempuh jarak puluhan kilometer dan mencapai garis finis sebagai tujuan akhirnya. Sulit membuat prediksi bahwa ia akan menang pada kompetisi itu.

Pada putaran pertama misalnya, ia jauh tertinggal di belakang peserta lainnya. Kilometer demi kilometer harus ditempuhnya dengan susah payah. Beberapa kali ia harus mengganti sarung tangannnya yang koyak. Meskipun ia hanya mampu berlari sejauh 10 kilometer sehari, tapi ia terus berlari. Di hari kelima, ia masih berusaha untuk menyelesaikan lomba tersebut dengan melempar-lemparkan tubuhnya ke depan dengan kedua tangannya. Dokter yang melihat kondisi jantung, alat pernafasan, serta pencernaannya  kian melemah ditambah luka-luka di tangannya, menyarankan ia menyerah. Tapi ia justru memejamkan mata dan mulai berlari lagi. Sang ayah yang hadir di antara ribuan penonton yang menyaksikan perjuangannya hanya berteriak menyemangati: "Ayo, bangkit!Selesaikan apa yang telah kamu mulai. Buka matamu, dan tegakkan badanmu. Lihatlah ke depan,
garis finish telah di depan mata. Cepat bangun ! Tunjukkan ke semua orang siapa dirimu, jangan menyerah! Cepat bangkit!!!"

Akhirnya si pelari tanpa kaki ini benar-benar menyelesaikan pertandingan itu dan yang tak pernah disangka-sangka oleh banyak orang: IA MENANG! Namanya pun digoreskan dalam Guiness Book of Record sebagai satu-satunya orang cacat yang berhasil menyelesaikan lari marathon. Dialah Bob Willen, veteran perang Amerika yang kehilangan kedua kakinya akibat ranjau saat bertugas di medan perang Vietnam. Kemenangannya telah memupuskan prediksi banyak orang akan kegagalan dirinya di ajang marathon itu. Dan ia adalah salah satu ayat (bukti) betapa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini, karena mungkin-tidak mungkin adalah kuasa Allah sebagai penentu segalanya yang terjadi di alam dan seisinya.

Sama halnya ketika Allah memungkinkan Nabi Musa dan Bani Israil melintasi lautan ketika dikejar oleh Firaun di Laut Merah. Seperti dikisahkan dalam QS.Yunus ayat 90: "Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga tatkala Firaun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

Dalam ayat ini sesungguhnya Allah ingin menunjukkan kepada manusia bahwa siapapun orangnya, bagaimanapun keadaannya, apapun tantangan dan hambatannya, akan selalu ada kemungkinan yang lahir ketika ia telah berusaha untuk mencapai apa yang diimpikannya dengan berserah diri pada Allah.

Beberapa penulis bahkan telah membuktikan hal tersebut. Gola Gong, yang sejak usia sebelas tahun harus kehilangan satu tangannya karena kecelakaan, menurut akal sehat kita, rasanya tak mungkin ia dapat menelurkan banyak karya dengan satu tangan saja. Atau yang lebih senior, ada Ibu Ratna Indraswari Ibrahim, yang juga sejak usia 10 tahun harus kehilangan fungsi organ tangan dan kakinya. Dokter memvonis radang tulang (rakhitis) yang dideritanya akan bersamayam sampai usianya purna. Namun sekali lagi, itu bukan alasan untuknya berhenti berkarya, meski tanpa tangan atau kaki.

Cerita-cerita tentang kesuksesan di balik keterbatasan yang menjadi sebuah kisah nan ajaib bagi sebagian besar orang. Hal ini karena akal manusia dibatasi oleh pengalaman sehingga  manusia juga senantiasa dilingkupi ketidakmungkinan-ketidakmungkinan di sekitarnya. So, di sinilah fungsi iman yang ada dalam diri kita. Kepercayaan dan keyakinan kita pada sesuatu yang akan kita capai akan mewujudkan hal-hal yang imposibble menjadi posible. Dalam Hadits Qudsi Allah telah menegaskan hal ini, bahwa sesungguhnya Allah berada di tiap-tiap prasangka hamba-Nya. Kalau kita berprasangka kepada Allah dengan baik, Dia pun akan baik sama kita. Begitu juga sebaliknya.

Intinya sih, kita mesti optimis. Pokoknya terus semangat berusaha, hasil akhir ya...serahkan pada Allah semata...Serahkan duka gembiramu, agar damaiii senantiasa..hatimuuu. Hehe, jadi kayak lagu hits-nya Novia Kolopaking yang dinyanyiin lagi sama band Gigi itu ya. Tapi ngomong-ngomong, kalau kita lagi di pucuk kesulitan nih, apa iya masih ingat untuk seperti itu?

Kayak yang dialami sama salah satu Sobat Nida. Sebut saja namanya Ulfa. Dia tuh anak kost yang jauh dari keluarga. Nah, pada suatu hari (tapi nggak pakai dahulu kala di hutan belantara), Ulfa lagi benar-benar tongpes. Apes banget deh, tanggal tua perut keroncongan karena seharian belum keisi, sudah gitu uang yang tinggal 20 ribu rupiah dipinjam teman yang ngaku kepepet banget. Untung masih ada koin recehan buat jaga-jaga, kalau dikumpulin jadi 5 ribuanlah. Tapi dalam hati, dia sih yakin banget Allah yang Maha Kaya nggak akan membiarkannya mati kelaparan.

Benar saja. Uncluk-uncluk-uncluk, eh, ibu kost tiba-tiba ngetok pintu kamar, ngasih nasi kotak. Rezeki memang bisa lewat mana aja yang nggak diduga-duga. Terus, pas iseng-iseng ngecek ATM, saldonya menakjubkan! Ada kiriman dari penerbit koran yang memuat cerpennya! Alhamdulillah, akhirnya tersambung juga ongkos hari-hari Ulfa sampai ada transfer dari ortunya.

Yang barusan cuma contoh kecil. Ingat kan sama tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata? (Awas, jangan bilang belum baca!) Di situ Andrea kecil terkagum-kagum sama Edensor, desa indah di Eropa, yang dilihatnya lewat buku pemberian Aling. Dia pengen banget tuh suatu saat pergi ke sana. Nggak tahunya, kesampaian juga kan waktu dia kuliah di Paris terus taruhan keliling Eropa (malah sampai Afrika ya?) dengan ngamen pakai kostum aneh. Hemmm ...

Pengen contoh lagi? Kali ini bukti kalau Allah Maha tidak Memungkinkan. Masih ngulik dari kisah si keriting Andrea sih. Dia kan "nggak banget" kalau besarnya nanti jadi tukang pos. Makanya dia berdoa mulu, minta supaya enggak dijadiin post man. Rupanya Tuhan berkehendak Andrea mesti bergelut sama surat-surat orang dulu, baru bisa kerja di Telkom terus jadi novelis deh.

Contoh lainnya ... yang zuper-duper jempolan; kisah sukses Bill Gates, si empunya Microsoft itu. Tahu nggak, dulu impiannya buat menghadirkan setiap komputer di setiap rumah dianggap sebagai hil yang mustahal. Dibarengi kerja kerasnya bertahun-tahun, Tuhan mewujudkan mimpinya dan bahkan menjadikan Bill sebagai orang paliiing tajir di muka bumi ini! Untunglah, Bill bukan tergolong manusia bakhil. Lelaki kelahiran Seattle, Amrik, itu mau berbagi kepada orang-orang susah dengan mendirikan yayasan sosial bareng istrinya, Bill & Melinda Gates Foundation. Sumbangannya ke yayasan itu disebut-sebut sebagai sumbangan tergede di seluruh dunia (untuk yayasan sosial). Ck-ck-ck ...kereeen! Try this at home giiih!

Belum lagi perjalanan ilmuwan Thomas Alfa Edison. Hayoo, lupa ya dia penemu apa ... Bukan, bukan yang nemuin radionya tetangga. Tapi penemu bola lampu, setelah sekian ratus kali gagal. Hemmm...hebat ya Thomas, dan pantang menyerah. Pada dasarnya, proseslah (ketekunan dan kesabaran kita) untuk terus berupaya. Dan itu yang dilihat oleh Allah. Kita hanya memungkinkan usahanya, penentu prosesnya doang.

Simak deh ayat ke-5 Quran Surat Al Insyirah. "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." So, yakinlah ... yakin kalau di balik keras dan runcing-runcingnya kulit durian tersimpan daging legit yang harum banget. Di sela-sela ngeselinnya duri bandeng, terkandung daging gurih kaya protein. Nggak asik banget kalau kita masih pesimis, cemen. Atau maju-mundur-maju-mundur kayak mainan kanak-kanak di depan minimarket, kalau nggak dimasukin koin nggak jalan.

Sobat Nida, kalau nggak diri kita sendiri yang keukeuh berusaha sambil tetap meminta kepada-Nya, lalu siapa lagi? Kalau cuma ngandelin doa restu ortu sementara kita diam bae ... Jiaahhh, sama aja kayak ngedorong mobil bobrok! Oke, buat yang belum punya optimisme dan selalu meragukan kuasa-Nya, mulai sekarang yuk kita belajar ikhtiar (dan tawakal tentu). Percayalah kawan, semua serba mungkin (atau malah nggak mungkin) di tangan-Nya. [Esthi/Nyimas]

Download Movie

Posting Sebelumnya

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :