Komik Indonesia: Bisa Maju, Asal Kontinu
Diposting: Kamis, 25 Februari 2010 / 00:12:17 | Oleh: annida | Kategori: Berita Umum
Halaman ini diakses sebanyak: 95 kali
Rating: 0
Annida-Online—Dunia perkomikan Indonesia mati suri? Siapa bilang? Fabianus Koesoemadinata, kolektor serta pengamat komik Indonesia, tak setuju soal ini.
“Buktinya, dari waktu ke waktu, kita sesungguhnya masih memproduksi komik-komik khas Indonesia. Hanya saja, industri komik Indonesia belum menjadi industri kreatif yang mapan. Para kreator dan penggiatnya masih bergerak sendiri-sendiri, sehingga susah untuk berkembang,” kata Bian, dalam acara talkshow “Perkembangan Komik Indonesia” yang digelar pada Festival Komik Indonesia, Selasa (23/2) lalu di Pasar Festival Plaza, Kuningan, Jakarta Selatan.
Dalam diskusi interaktif tersebut, Bian ditemani oleh Gerdi Wiratakusuma, komikus Indonesia yang menciptakan karakter wanita superhero khas Indonesia, Gina. Bian menjelaskan bahwa fenomena yang dipaparkannya tersebut berbanding terbalik dengan industri komik mancanegara yang menyerbu pasar Indonesia.
“Mereka (industri komik impor) itu bersatu menciptakan pasar dan dukungan dari pemerintahnya luar biasa, maka dari itu, akhirnya mereka bisa menguasai pasar Indonesia,” lanjut Bian.
Hal ini diamini oleh Gerdi selaku kreator komik. Ia bahkan tegas mengatakan bahwa kondisi perkomikan di Indonesia saat ini tak bisa dijadikan sebagai sandaran hidup bagi pegiatnya. “Sebelum tahun 1985-an, komikus mungkin bisa hidup dari komik-komik yang mereka buat. Tapi setelah itu, apa yang terjadi? Komik-komik itu nggak bisa menjamin kelangsungan hidup para kreatornya,” jelas pria kelahiran Ciamis, 13 April 1953 ini.
Gerdi menilai kemandekan yang dialami oleh para komikus di medio tahun 1980-an disebabkan oleh hadirnya televise kabel dan televisi swasta yang menyebabkan sebagian orang mencari alternative hiburan lewat media audio visual yang lebih baru. “Saat itu, jangankan komik, film pun mengalami kemunduran. Nah, sebenarnya kalau nggak mau kalah sama industri TV itu, ya komikus diharapkan tetap saja berkarya, terus menghasilkan komik secara kontinyu,” tambah Bian.
Kontinuitas dalam berkarya ini sesungguhnya diakui oleh Gerdi memang sulit dilakukan oleh para komuikus. Ia mencontohkan dirinya sendiri ketika industri komik Indonesia stagnan, ia justru beralih menjadi orang kantoran dan meninggalkan dunia komik. Beberapa komikus juga menempuh jalan ini. Itulah mengapa Gerdi setuju dengan pendapat Bian yang mengedepankan kontinuitas berkarya bila ingin industri komik kembali berjaya.
“Banyak faktor memang, bukan saja kontinyu, tapi juga dibutuhkan inovasi, dan penyesuaian dengan pasar komik saat ini, sehingga komik Indonesia bisa berjaya di negerinya sendiri. Tentunya, sekali lagi, bila ingin industri komik ini menjadi industri yang mapan, kita semua harus mengupayakannnya bersama. Sambil menunggu dukungan yang positif dari pemerintah soal industri komik Indonesia ini,” pungkas Gerdi. [nyimas]
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




