Sri Andiani Menulis untuk Menjadi “Sama”
Diposting: Sabtu, 21 Nopember 2009 / 05:03:20 | Oleh: annida | Kategori: Berita Penulis
Halaman ini diakses sebanyak: 184 kali
Rating: 0
Annida-Online—Sekilas ia tampak seperti anak normal. Tak ada
yang membedakannya dengan remaja lain seusianya, kecuali artikulasi kata yang
agak terbata-bata ia ucapkan saat berbicara.
“Ini efek yang biasa ditemui pada anak-anak tunarungu. Anak yang tidak bisa
mendengar namun sanggup berbicara bila dilatih dan diajak bicara seperti
anak-anak normal lainnya,” ujar Sri Andiani singkat, ketika memberikan sambutan
atas terpilihnya ia menjadi salah satu penerima Penghargaan Penulis Muda UNICEF
Award 2009 yang diselenggarakan oleh Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia
(YKAI) dan The United Childrens Fund (UNICEF).
Dian, begitu ia biasa disapa, memang anak dengan keterbatasan pendengaran. Ia
adalah satu-satunya peserta Lomba Menulis Remaja Unicef 2009 yang memiliki
keterbatasan fisik. Sejak lahir, dokter telah mendiagnosa kemampuan dengarnya
hanya di bawah 90 desibel. Beruntung, karena menurut Dian, ia dibesarkan dalam
keluarga yang dapat menerima kekurangannya, bahkan menjadikan kekuranggannya
sebagai keunikan yang dapat dioptimalkan sehingga ia bisa sama dengan anak-anak
lainnya.
“Dan saya pun tumbuh menjadi anak yang normal, yang tidak pernah merasa
berbeda, sekolah di sekolah umum, dan lain-lain. Walaupun dalam beberapa
kesempatan orang-orang di luar sana masih memperlakukan saya berbeda dengan
anak-anak normal lainnya,” kenang Dian.
Perlakuan diskriminatif yang kerap dirasakan oleh Dian dan remaja-remaja
yang senasib dengannya inilah yang ditulis dalam essai berjudul Susahnya
Mencari Sekolah Bagi Mereka. Dian menilai anak-anak cacat seringkali
mendapatkan perlakuan tidak adil karena tidak memiliki akses untuk bergaul
dengan lingkungan normal. Maslah tidak diterimanya anak-anak cacat di sekolah
umum atau sektor umum lainnya, adalah bukti perlakuan diskriminatif ini masih sangat
berkembang di Indonesia. Berkat essai-nya tersebut, Dian terpilih sebagai
Penulis Muda 2009 dalam UNICEF Award 2009. Menurut siswi kelas III SMP Alam
Insan Mulia, Surabaya, ini, kemenanganya dalam ajang ini merupakan sebuah “pintu
masuk” baginya untuk memperjuangkan hak-hak orang-orang dengan keterbatasan
fisik sepertinya untuk bisa hidup dan diterima sama dengan anak-anak normal.
“Aku sudah mulai menulis sejak TK. Ada sensasi berbeda ketika aku
menuliskan apapun yang aku rasakan, aku lihat, atau kritik atas hal-hal yang
aku anggap tak benar. Dengan menulis, aku lebih merasa sepadan dan sama saja
dengan anak-anak lainnya,” tambah sulung dari tiga bersaudara ini.
Penghargaan yang baru saja diterimanya pada Kamis (19/11) lalu ini cukup
mengangetkan dirinya, karena Dian mengaku meski ia sudah lama menulis dan
beberapa kali tulisannya dimuat di berbagai media sekolah maupun beberapa media
lokal Surabaya, ia baru sekali itu mengikuti kompetisi menulis tingkat
nasional. Bahkan Dian mengirimkan karyanya sehari sebelum lomba ditutup.
“Tapi alhamdulillah bisa terpilih, senang pasti. Tapi aku berharap
tulisanku itu tulus bisa menjadi wadah aspirasi bagi “kaum”-ku yang sudah lama
dimarginalkan. Lebih dari itu, aku lebih suka bila tulisanku bisa menjad bahan
renungan bagi pihak sekolah umum dan pemerintah untuk tidak membeda-bedakan
anak-anak cacat dalam hal pendidikan,” harap Dian.
Ke depan, Dian berjanji akan terus memperjuangkan nasib anak-anak cacat
melalui berbagai tulisan dalam karya-karyanya. Bahkan ia juga ingin suatu hari
nanti menulis sebuah buku yang secara khusus membahas tentang nasib, perasaan,
dan hal-hal yang masih dilakukan oleh orang-orang normal pada anak-anak cacat
sepertinya.
“Mudah-mudahan nggak sampai di sini, karena saya memang mau menulis buku
tentang nasib anak-anak cacat yang bukan minta untuk dikasihani, tapi hanya
ingin bersama untuk menjadi sama. Mudah-mudahan cepat terealisasikan,” pungkas
gadis kelahiran Surabaya, 30 Agustus 1995 ini.
Yups, Sobat Nida ikut mendoakan kok! [nyimas]
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.





