Mozaik Manusia dalam "Gigo-gigo" Yusran Pare

Diposting: Rabu, 18 Nopember 2009 / 01:24:37 | Oleh: annida | Kategori: Berita Penulis

Halaman ini diakses sebanyak: 169 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

 

Annida-Online--Kedengarannya agak aneh ya, apa sih "Gigo-gigo"? Inilah judul buku Yusran Pare, seorang pemimpin redaksi sebuah harian di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Gigo-gigo berisi tulisan kolom selama kurang lebih 5 tahun. Menurut Yusran, kumpulan tulisan itu sudah dipilih lagi berdasar konteks yang masih layak dan diterbitkan oleh PT Grafika  Wangi Kalimantan. Peluncurannya sih sudah sejak Agustus lalu, dan kini penjualannya disebut-sebut sudah tembus 5.000 eksemplar.

"Sebagian tulisan itu sudah diposting lama di blog saya, curahbebas.wordpress.com. Di situ juga ada beberapa tulisan kolom, biasanya tajuk yang menurut saya layak diblogkan, saya post," kata Yusran.

Karya tersebut berupa tulisan-tulisan umum, makanya disebar via toko buku yang punya jaringan luas.

"Aku cuma menyusun mozaik tentang manusia-manusia di tengah realitasnya. Nggak ada pesan-pesan muluk," imbuhnya. Manusia yang dimaksud bisa berprofesi sebagai gigolo, politisi, artis, astronot, teroris, babu, pelacur, pendeta, rahib, santri dan lain-lain.

Minat pembaca pada buku itu tampak dari antusiasme mereka mengikuti pemaparan isi buku di Banjarmasin tengah bulan kemarin. Peserta menanyakan alasan pemilihan judul Gigo-gigo.

Sebenarnya, istiah tersebut merupakan sebutan untuk pria panggilan alias gigolo. Menurut sang penulis, Gigo-gigo mengupas sisi lain dari peristiwa besar yang terjadi saat itu. Dari peristiwa besar itu banyak hal-hal kecil yang sering terlena dari perhatian masyarakat, padahal punya nilai lebih. Misalnya persoalan prostitusi mudah dijumpai di setiap daerah, selain perkembangan pembangunan yang sering kali terabaikan oleh masyarakat. Selain itu, persoalan hukum "geger" sekarang ini menurut Yusran persoalan tersebut pernah mewarnai dunia hukum di Banjarmasin.  "Masyarakat disuguhi ketidakpastian dan “rekayasa” mengenai penegakan hukum," katanya.

Ia menyebut, dalam tulisan "Negeri Sakau", itu pernah terjadi enam tahun lalu di Banjarmasin.

Walau tulisan itu dibuat sekitar enam tahun lalu, toh masih relevan dengan zaman sekarang. Isi buku ini juga relatif dekat dengan pembaca, karena memberikan gambaran tentang hal-hal yang kerap ditemui di masyarakat dan disertai dengan fakta. [Est/foto: dok. pribadi Yusran Pare]

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :