Jejaring Muhammad Bantu Rampungkan Novel Tasaro
Diposting: Selasa, 09 Februari 2010 / 18:10:24 | Oleh: annida | Kategori: Berita Penulis
Halaman ini diakses sebanyak: 620 kali
Rating: 0
Annida-Online--Kerja kepengarangan besar baru saja dilewati Taufik Saptoto Rohadi alias Tasaro. Penulis asal Gunung Kidul, Jogjakarta ini baru saja menyelesaikan novel sosok bersejarah dalam peradaban dunia, Muhammad Saw. Tasaro menjanjikan novel yang berjudul MUHAMMAD; Lelaki Penggenggam Hujan ini beredar awal Maret mendatang, diterbitkan Bentang Pustaka. Membuat novel seorang Muhammad, menurut Tasaro adalah pekerjaan yang melelahkan sekaligus menakjubkan. Tanpa menyadari sejak awal, pada proses kreatifnya ia bertemu orang-orang yang belum dikenalnya lewat peristiwa-peristiwa tak terduga. Lalu perlahan menyatu membentuk jejaring menuju satu pribadi, Jejaring Muhammad.
“Kesulitannya beda dengan ketika menulis Galaksi Kinanthi dulu. Biasanya saya tidak melibatkan oranglain saat menulis novel. Kali ini serombongan orang terlibat, makanya belasan kali mengalami revisi,” kata Tasaro saat berbincang dengan Annida Online.
Novel Muhammad selesai karena jejaring aneh tapi menakjubkan itu menghubungkannya dengan banyak orang yang memuluskannya menulis. Di antaranya sang editor Fahd Djibran, penghapal Al-Quran Tutik Hasanah yang meneliti kesahihan sirah nabi, Salman Faridi yang menawarinya menulis novel tentang Muhammad, sampai pada perkenalannya dengan nonmuslim Rampa Maega (yang kelak perbincangan itu mewarnai corak novel Muhammad). Dalam pengantar novel tersebut Tasaro melukiskan pengalamannya saat menulis. Ini bukan serangkaian kebetulan yang tidak berarti apa-apa. Ini jejaring raksasa yang memusat pada satu kata, satu nama, satu konsep, satu kemuliaan: MUHAMMAD. Jadi selama bertahun-tahun ini saya dibimbing menuju titik ini.
Sebelumnya Tasaro tak yakin mengapa dirinya yang harus menulis novel tentang Rasulullah, bukan penulis lain yang lebih relijius dan terpuji. Namun lewat karya inilah akhirnya dia berpikir Tuhan menjawab doanya jauh sebelum ia memulai terlibat menggarap novel tersebut. Dia ingat doanya untuk diberi pertobatan yang indah dan menyejukkan dari Allah. “Ini yang saya inginkan. Pertemuan dengan Tuhan dan kedekatan dengan manusia mulia sepanjang zaman, Muhammad Saw. Tak perlu alasan lain,” imbuh Tasaro yang sempat menangis ketika menuliskan pengantar pada novel terbarunya itu.
Apakah ada hal berbeda lainnya ketika menuliskan Muhammad? Tasaro menjelaskan dirinya harus sangat berhati-hati. Apalagi ia menempatkan tokoh Muhammad sebagai orang kedua (seperti penulis sedang berbicara dengan beliau). Dengan tingkat kehati-hatian yang benar-benar diupayakan terjaga, Tasaro menjamin tidak ada satu kalimat Rasulullah yang fiktif.
“Memang butuh kerja keras untuk merunutkannya. Membayangkan proses menuliskannya sangat melelahkan. Soul-nya beda sekali saat menulis. Harus dalam kondisi bersih, bersih….” pungkas Tasaro. [Elzam]
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.





