Fatma Elly: Lawan Nilai-Nilai Barat Lewat Fiksi
Diposting: Selasa, 09 Februari 2010 / 00:00:00 | Oleh: annida | Kategori: Berita Penulis
Halaman ini diakses sebanyak: 78 kali
Rating: 0
Annida-Online—Sore itu Nida beruntung sekali bisa bersilaturahim ke rumah ummahat (bunda) yang yang tak lagi muda namun semangatnya melebihi anak-anak muda; Fatma Elly atau biasa disapa Ummi Fatma. Bukan saja disambut oleh aneka makanan yang lezat, Nida disuguhi beragam pengalamannya seputar kegiatan menulisnya.
“Setelah tak lagi mengajar (baca: dulunya Ummi Fatma adalah dosen) di Mahad Al-Hikmah, masa ummi mau berdiam diri saja, nggak berdakwah? Padahal hakikatnya manusia itu kan berdakwah, selalu mengajak kebaikan orang lain pada nilai-nilai Allah,” kata Ummi Fatma saat mengawali obrolan bersama Annida-Online.
Diakui Ummi, saat ini dirinya memiliki lebih banyak waktu untuk menulis. Ibu tiga anak ini bahkan telah merampungkan novel religi, Love Never Ending yang tengah memasuki proses produksi. “Novel ini sebenarnya kelanjutan dari novel sebelumnya; Pintu Cinta,” jelas Ummi Fatma.
Menurut Ummi Fatma dalam Love Never Ending, tokoh sentral masih diarahkan pada Lestari, anak ketiga yang dikisahkan memiliki trauma psikologis akibat kelakuan ayahnya di masa lalu yang menyia-nyiakan ibu dan keluarganya. Seperti dua kakak perempuannya; Ria dan Ratna, Lestari mendendam pada seluruh pria hingga terjebak pada percintaan terlarang; cinta sesame jenis. Kehidupannya mulai berubah ketika ia bertemu dengan Salama.
“Salama inilah profil yang sebenarnya ingin Ummi tampilkan, di mana ia adalah muslimah yang cantik, memiliki keluhuran akhlak dan budi, dan wawasan keislaman dan pengetahuan umum yang luas. Ia hampir tak memiliki setitik celah. Kayaknya zaman sekarang udah nggak ada ya sosok seperti Salama. Tapi itulah, Ummi katakana tadi, Ummi ingin menampilkan profil, bukan profil yang utopis, tapi barangkali jumlahnya saja yang sedikit,” beber penulis buku Terpasung
Lebih jauh, perempuan berusia 64 tahun itu mengakui bahwa Love Never Ending ini adalah novel yang ditujukannya untuk menangkal nilai-nilai yang datangnya dari kebudayaan Barat. “Cerita fiksi tentang Lestari, Salama, dan Ridwan ini hanya wadah saja. Misi besar saya sebenarnya ingin meruntuhkan pemikiran Barat soal determinisme, feminisme dan kawan-kawannya,” tegas Ummi Fatma.
Dalam paham determinisme, Ummi Fatma menjelaskan bahwa setiap pola dalam kehidupan manusia itu telah terbangun secara konstan, tetap. Determinisme juga menjelaskan tentang eksistensi manusia di dunia ini sebagai gejala hukum sebab-akibat. Artinya, segala sesuatu itu bisa terjadi karena telah ditentukan terjadi. Menurut Ummi Fatma, paham ini menjerumuskan seseorang pada keputusasaan. Seseorang pada akhirnya beranggapan bahwa hasil dari perilaku bisa ditentukan dari faktor-faktor seperti lingkungan rumah, perilaku masa kecil, dan lain-lain. Ummi Fatma tidak setuju dengan pemikiran ini karena menafikan proses usaha dan doa dari seseorang.
“Allah sendiri kan sudah berfirman bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, bila kaum tersebut tidak punya upaya mengubahnya. Dalam kisah Lestari di Love Never Ending, Ummi mau mengingatkan pembaca pada esensi dari QS Az Zumar ayat 53 tentang larangan berputus asa dari rahmat Allah. Seluruh tokoh di novel ini nantinya akan jadi baik semua, akan melakukan proses pencarian pada Tuhannya,” imbuh Ummi Fatma.
Meski masih bergenre fiksi, Ummi Fatma mengakui bahwa novelnya kali ini agak lebih serius. Dirinya menyertakan beberapa ayat Al-Quran yang menjadi pesan utama di beberapa dialog. Apalagi di beberapa bagian, Ummi Fatma menilai penulisannya lebih mirip esai. “Mungkin udah nggak nyastra atau teenlit lagi, tapi apapun itu Ummi memang mendedikasiakn novel dan karya-karya Ummi untuk dakwah, sekali lagi, untuk menyerukan ke jalan Allah,” pungkas Ummi Fatma yang sudah menulis sejak usia 13 tahun ini. [nyimas]
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.



