Atas Sampurno Danusubroto: Menulislah dari yang Terdekat
Diposting: Jumat, 13 Nopember 2009 / 00:00:00 | Oleh: annida | Kategori: Berita Penulis
Halaman ini diakses sebanyak: 181 kali
Rating: 0
Annida-Online–Setelah mendapat penghargaan Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk novel Trah, Atas Sampurno Danusubroto (59) kini tengah menyiapkan tiga novel sekaligus. Tiga karya tersebut antara lain novel Pulung dan Sang Pangeran serta satu novel berbahasa Jawa, Sagebyaring Thathit.
Novel “Trah” yang diterbitkan oleh Narasi, Yogyakarta tahun 2009 itu berkisah tentang seorang gadis korban woman trafficking. Disebutkan, si tokoh berasal dari Purwodadi, kecamatan yang sama dengan Atas, mantan wartawan dari Desa Bubutan, Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Si perawan dilacurkan dan terjerumus di dunia prostitusi Jakarta. Padahal gadis miskin itu keturunan bekas orang terpandang di daerahnya. Melalui pemuda yang pernah ditolak cintanya, gadis itu dientaskan dari lembah kegelapan.
Dalam novel yang meraih penghargaan tertinggi di jagad sastra Jawa ini, Atas mencantumkan nama-nama daerah di Jawa hingga cerita tersebut banyak dikira berangkat dari kisah nyata. Sama halnya dengan cerpen maupun novel-novel Atas lainnya. Atas memang terbiasa menuliskan semua yang dekat dengan dirinya, yang menurutnya lebih diketahui.
“Kalau menulis novel, saya selalu mengungkapkan yang terdekat, yang diketahui dengan pasti. Dalam novel bahasa Jawa, saya coba hadirkan yang baru bagi pembaca serta menggunakan bahasa yang sederhana,” ujar Atas.
Seperti pada novel Pulung yang menceritakan seputar pemilihan kepala desa. Pulung sendiri punya makna luas. Di Jawa Tengah dan sekitarnya, masih banyak yang punya anggapan pulung itu menentukan siapa yang bakal menjadi pemimpin masyarakat di suatu wilayah. Ia semacam bola api dari langit, yang terbang dari atas rumah pemimpin lama lalu berputar-putar di atas rumah calon pemimpin baru.
“Pulung itu luas, butuh waktu lebih dari satu jam untuk menjelaskannya. Lebih baik baca bukunya saja nanti,” kata Atas, yang mengaku seangkatan dengan Emha Ainun Nadjib, Korrie Layun Rampan, dan lainnya.
Baik Pulung, Trah, juga cerita-cerita lain, merupakan hasil pengamatan Atas sehari-hari maupun pengalamannya selama meliput untuk sebuah koran harian di Yogyakarta.
Mengenai kemenangannya meraih Hadiah Sastra Rancage 2009, menurutnya itu merupakan kemenangan bagi warga Purworejo. Dengan penghargaan tersebut berarti sastrawan Purworejo mulai diperhitungkan, setelah sebelumnya novel Glonggong karya Junaedi Setiyono dari Purworejo juga meraih penghargaan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006 dan masuk nominasi Katulistiwa Literary Award 2008. [Esthi/foto: Dulrokhim, Wawasan]
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




