Penerbit Kaki Langit Kencana Gelar Diskusi Buku “Akikah Novel Trilogi Epitaph”
Diposting: Kamis, 14 Januari 2010 / 09:46:34 | Oleh: annida | Kategori: Berita Penerbit
Halaman ini diakses sebanyak: 180 kali
Rating: 0
Annida-Online—Alunan denting biola dimainkan apik oleh Danan Danang Setiawan untuk mengiringi monolog yang dibawakan oleh Lisa Febriyanti. Aksi dua orang tersebut mengawali acara bedah buku bertajuk “Akikah Novel Trilogi Epitaph” yang digelar oleh penerbit Kaki Langit Kencana di Newseum Café, Jakarta, Selasa (12/11) lalu. Diskusi yang mendatangkan sang penulisnya; Daniel Mahendra dan dua orang pembicara; Taufik Razen dan Sihar Ramzes Simatupang, berlangsung mengalir juga mengharukan. Hal ini karena peserta yang datang tidak saja disuguhkan obrolan mengenai proses kreatif penulisnya dalam meramu Epitaph.
“Kami juga memutar film yang bercerita tentang tiga orang awak helikopter yang tengah membuat film dari udara, sebelum helicopter tersebut hilang dan ketiga awaknya tak ditemukan hingga saat ini. Salah satu awaknya adalah Diaz, kakak kandung Daniel. Dan, kisah inilah yang menginspirasi Daniel dalam menulis novel Epitaph,” jelas Syarifuddin Azhar, dari penerbit Kaki Langit Kencana.
Saat pemutaran film dokumentasi milik mahasiswa Institut Kesenian Jakarta ini, nampak DM, sapaan akrab sang penulis, larut dalam suasana haru mengenang sang kakak tercinta. DM mengakui bahwa Epitaph memang diangkat dari kisah nyata. Dan inspirasi terbesarnya adalah kehilangan sang kakak yang dicintainya.
“Epitaph ini berkisah tentang kematian, namun gambaran kematian yang dikemas oleh DM menjadi sesuatu yang indah dan patut untuk direnungi karena olahan cerita dan alur yang baik dari sang penulis,” lanjut Syarifuddin.
Epitaph bercerita tentang proses pencarian kekasih yang hilang di udara. Haikal, sang tokoh utama dalam novel, harus menempuh jalan yang berliku dalam membongkar jejak hilangnya Laras, kekasihnya yang hilang dalam sebuah misi kemanusiaan. Namun, dalam proses pencariannya, Haikal justru menemukan sejumlah fakta lain yang menarik untuk diungkap.
Meskipun membahas kematian, Syarifuddin menegaskan bahwa misi novel ini adalah mengajak para pembacanya tentang esensi dari kematian itu sendiri. Bahwasanya kematian adalah sebuah keniscayaan, maka hanya dengan membekali diri dengan segala kebaikan di dunialah setiap orang bisa bersiap untuk menghadapinya. [nyimas]
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.





