Komunitas Bambu dan Kisah Pembredelan Buku di Era Baru

Diposting: Kamis, 14 Januari 2010 / 00:00:00 | Oleh: annida | Kategori: Berita Penerbit

Halaman ini diakses sebanyak: 125 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Annida-Online—Pembaca Indonesia mungkin belum lupa dengan buku Membongkar Gurita Cikeas yang saat ini masih sulit ditemui di toko-toko buku besar seperti Gramedia, Toko Gunung Agung, atau beberapa toko buku lainnya. Peristiwa penarikan buku MGC bukan saja menjadi ironi di tengah bangsa Indonesia yang menerapkan sistem demokrasi. Hal ini juga menjadi tanda bahwa budaya intelektual di Indonesia masih sangat lemah.

“Buku yang dianggap atau dinilai bermasalah kan sesungguhnya bisa diperkarakan di pengadilan atau membuat buku tandingannya. Menurut saya, saat ini era baru. Bukan jamannya lagi buku dibredel. Masyarakat sudah melek buku. Tindakan pembredelan malah akan mendatangkan image negatif bagi pemegang kekuasaan,” kata Martina, dari Komunitas Bambu (Kobam).

MGC sendiri bukanlah satu-satunya buku yang pernah dibredel di Indonesia. Buku HM Misbach, Kisah Haji Merah karya Nor Hiqmah yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu adalah salah satu buku yang dilarang peredarannya secara bebas di jaringan-jaringan toko buku di seluruh Indonesia. Menurut Martina, meski pembredelan buku HM Misbach, Kisah Haji Merah hanya dikarenakan fisik buku yang dinilai melanggar, penarikan buku dari pasaran adalah tindakan yang tidak tepat untuk mengedukasi masyarakat terhadap satu isu yang dianggap berbahaya.

“Waktu itu HM Misbach, Kisah Haji Merah dilarang karena Kejagung menilai pemilihan gambar untuk sampul buku menyalahi ketentuan hukum,” jelas Martina yang juga menjabat sebagai staf promosi di penerbitan Kobam.

Martina menjelaskan bahwa gambar HM Misbach yang diapit palu arit tersebut dianggap menyalahi Tap MPR perihal komunis yang melarang keras penggunaan simbol-simbol atau atribut komunis. Martina mengakui bahwa gambar yang digunakan sebagai cover buku merupakan satu-satunya gambar HM Misbach yang dimiliki oleh Kobam ketika itu. Meski hanya dilarang karena fisik buku, namun ketika itu Kobam tak berusaha mengganti sampul buku dan memilih untuk menempuh jalur distribusi independen dengan tidak bergantung pada toko buku yang tak mau menerima buku tersebut.

“Secara isi, buku tersebut tak ada masalah dan tak ada yang berbahaya. Hanya berisi biografi HM Misbach dan pemikirannya. Selama ini kita hanya tahu tokoh Sarekat Islam itu kan Tjokroaminoto yang cenderung moderat, HM Misbach ini tokoh SI yang berbeda dengan Tjokroaminoto,” ungkap Martina.

Komunitas Bambu sendiri pada awalnya merupakan komunitas mahasiswa pecinta sejarah. Namun kini, kegiatannya lebih difokuskan untuk menerbitkan buku-buku saja, utamanya buku-buku sejarah. “Sebenarnya keanggotannya masih ada, sifatnya lebih terbuka dan umum. Kami sering mengadakan acara bedah buku-buku bagi para anggota Kobam.”

Buku-buku terbitan Kobam lebih banyak menyoal sejarah yang ada di Indonesia. Tak jarang buku-buku produk Kobam mengungkap sejarah yang selama ini disembunyikan oleh para penguasa, yang artinya penuh risiko untuk dibredel kembali. Martina berkeyakinan bahwa buku-buku yang diterbitkan memiliki fungsi edukasi yang penting dikhasanah kesejarahan. Oleh karenanya, Martina juga menegaskan bahwa Kobam tak pernah takut jika suatu saat buku-buku terbitan mereka dibredel lagi.

“Karena sejarah itu seperti kotak yang memiliki banyak sisi. Tidak bisa disajikan dengan satu versi saja. Maka dari itu kami meyakini diri untuk tetap fokus pada fungsi edukasi tersebut,” pungkas Martina. [nyimas]

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :