Kineforum Gelar Pameran Sejarah Bioskop Indonesia
Diposting: Rabu, 03 Maret 2010 / 08:26:45 | Oleh: annida | Kategori: Berita Komunitas
Halaman ini diakses sebanyak: 99 kali
Rating: 0
Annida-Online—Memasuki bulan Maret ini, Kineforum, Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, bekerjasama dengan beberapa komunitas film seperti rumahfilm.org dan karbonjournal.org menggelar Pameran Sejarah Bioskop Indonesia di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, untuk menyambut hari film nasional yang jatuh setiap tanggal 30 Maret. Nggak tanggung-tanggung, acara yang bertajuk “Sejarah adalah Sekarang” ini digelar selama sebulan penuh, mulai tanggal 1-31 Maret 2010 mendatang.
Menurut Lisabona Rahman, Manager Program Kineforum, visi dari event ini adalah melestarikan dan memperkenalkan budaya serta sejarah perfilman nasional. “Makanya, event ini nggak hanya berisi pameran bioskop film semata. Kami juga putar film-film Indonesia dari beberapa generasi, konser musik dan ruang publik semacam ruang diskusi tentang perkembangan film Indonesia dari masa ke masa,” jelas perempuan yang akrab disapa Lisa ini.
Sekitar 59 film telah dipersiapkan untuk memeriahkan acara ini. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Lisa mengakui bahwa acara ini dipersiapkan lebih matang. Hal ini ditunjukkan dengan ragam film yang dibagi menjadi beberapa segmen.
“Ada film-film karya Soekarno M. Noer, ayah dari Rano Karno, dalam segmen Body of Work. Lalu ada film-film remaja dari tiga dekade film Indonesia, mulai dari film Masa Badai dan Topan di era 1960-an, Catatan si Boy dan Lupus di tahun 1980-an hingga jelang 1990-an, sampai Ada Apa dengan Cinta di tahun 2000-an,” imbuh Lisa.
Dari sekian banyak film yang akan
diputar, Lisa menilai bahwa industri film Indonesia benar-benar telah melalui
tahapan sejarah yang teramat panjang. “Industri perfilman kita itu sudah
memasuki usia 100 tahun,” tegas Lisa, “Bioskop, produksi film, sampai
distribusinya telah mengalami pasang surut yang panjang dimuali jauh sebelum
Indonesia merdeka.”
Tak berlebihan bila Lisa berharap pameran dan acara yang telah dilaksanakan empat kali berturut-turut oleh Kineforum ini dapat menjadi wadah dan ajang membaca kembali hubungan sejarah film Indonesia dan berbagai entitas di dalamnya (seperti bioskop, dan lain-lain) di tengah gejolak zaman dan masyarakatnya.
“Semoga kelak usaha dari pembacaan kembali ini menuntun kita untuk lebih arif dalam menyemarakkan perfilman Indonesia dengan karya-karya yang berkualitas, sesuai dengan kebutuhan dan berpihak pada nilai-nilai ke-Indonesiaan yang kita anut,” harap Lisa. [nyimas]
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




