Buletin Sastra Pawon Gelar Bedah Buku “Garis Perempuan”
Diposting: Selasa, 23 Februari 2010 / 03:09:30 | Oleh: annida | Kategori: Berita Komunitas
Halaman ini diakses sebanyak: 119 kali
Rating: 0
Annida-Online— Dari sekian banyak penulis perempuan, nama Sanie B. Kuncoro bisa jadi patut
diperhitungkan dalam khasanah sastra
“Novel ini cukup matang secara tema dan penggarapan ceritanya. Pembahasan keperawanan di kalangan perempuan dikemas secara cerdas dalam pergulatan konflik empat tokoh utamanya,” ujar Saifur, yang didaulat membedah buku tersebut.
Sanie yang sudah
Baginya, Garis
Perempuan juga media yang digunakan untuk memotret dan mengkritisi berbagai
“nasib” dan takdir yang kurang berpihak pada perempuan pada saat ini. Sanie
mencontohkan, penjualan perempuan di bawah umur, perselingkuhan, sikap
konsumerisme perempuan, dan berbagai eksploitasi tubuh perempuan adalah
masalah-masalah yang masih dihadapi perempuan
“Meski yang dibahas adalah seks, namun Sanie maju selangkah tanpa menyentuh tubuh ketika menjelaskannya,” lanjut Saifur yang baru saja menerbitkan buku Pengantar Studi Poskolonial Indonesia (Jalasutra, 2010).
Saifur yang membandingkan Garis Perempuan dengan Pada Sebuah Kapal karya NH. Dini, melihat bahwa beberapa adegan seksual yang dibahas Sanie cukup digambarkan melalui pendekatan alur, sama halnya dengan yang dilakukan oleh NH. Dhini. Menurut Saifur, Sanie menciptakan suasana yang sangat bermanfaat mendukung alur kendati peristiwanya sama-sama di atas ranjang di dalam kamar. Saifur juga menambahkan bahwa taburan metafora yang digunakan Sanie dalam novel ini menjauhkan kesan karya sastra “murahan” yang mengandalkan cerita tentang seksualitas.
Bagi Sanie, Garis Perempuan juga media yang digunakannya untuk memotret dan mengkritisi berbagai
“nasib” dan takdir yang kurang berpihak pada perempuan pada saat ini. Sanie
mencontohkan, penjualan perempuan di bawah umur, perselingkuhan, sikap
konsumerisme perempuan, dan berbagai eksploitasi tubuh perempuan adalah
masalah-masalah yang masih dihadapi perempuan
Garis Perempuan berkisah tentang empat sahabat di masa kanak-kanak; Ranting, Gendhing, Tawangsari, dan Zheng Mey, yang menemui takdirnya masing-masing sebagai perempuan. Bila Ranting diciptakan sebagai simbol kemiskinan dan ketidakberdayaan, maka Gendhing adalah simbol sebaliknya; kemiskinan yang berdaya. Sementara Tawangsari dikisahkan sebagai simbol dari pencarian cinta sejati, dan Zhang Mey sebagai simbol dari perlawanan. Kelak, di satu waktu, keempatnya ditakdirkan bertemu dalam satu fase untuk memaknai takdir mereka. [nyimas/liputan: Yeni Febrianti, Solo]
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




