Surau Kami

Penulis: Eris Arisanti

 

Lepaslah pandang sepuluh meter ke arah kanan dari rumahku. Akan kau temui sebuah bangunan berdinding triplek yang mencoba berdiri melawan waktu. Dinding yang berlubang, atap yang bocor serta cat yang terlihat menua. Tak nampak layak untuk sebuah tempat di mana perputaran ilmu berlangsung. Pun tak begitu layak jika kita menyebutnya sebagai tempat para hamba bersujud di hadapan Penciptanya.

Itulah surau kami.

***

Kala itu aku tak lebih dari seorang bocah yang akan berlonjak senang setiap terik siang memudar. Teriak anak-anak lapang yang kehausan lemparan bola, memberiku semangat untuk terus berkawan peluh. Kami berlari, mengejar bola hingga senja mulai membayang.

Senja kembali datang. Kami tahu bahwa sebentar lagi seorang ibu berbadan gendut dengan pipi bulat akan berkacak pinggang sambil berteriak, “Pulang hai anak-anak nakal! Penuhi surau, shalat dan mengajilah!” Selalu sama. Wanita itu seperti tak punya kalimat lain sebagai cara untuk mengusir kami dari gersangnya tanah ini.

Wak Min, begitu warga sini memangilnya. Seorang janda tua yang kabarnya tak lagi waras. Seingatku, Wak Min mulai seperti ini semenjak empat tahun lalu. Semenjak anak lelaki satu-satunya yang berusia tujuh tahun itu tewas terseret arus sungai saat bolos mengaji di surau.

Kami tak senang jika Wak Min telah datang. Ia akan mengejar-ngejar, memaki-maki sambil terus menyuruh kami pergi ke surau. Orang tua kami akan tertawa riang di sisi lapang. Oh, tentu. Mereka pastilah gembira karena tak perlu mengurusi kebadungan anak-anaknya yang lebih memilih tak menghiraukan adzan ashar yang sebentar lagi berkumandang.

Kami bagai tikus-tikus got yang dikejar kucing pemangsa. Lari terbirit-birit dan masuk ke dalam rumah. Wak Min menang! Selalu menang. Kami pastilah diteriaki untuk segera mandi oleh ibu kami masing-masing. Aku, si bengal, bahkan selalu mendapat bonus. Sebuah jeweran di kuping yang selalu berhasil membuatku meringis meski tak pula kapok mengulangi. Bukan Arkana namanya jika tak mencari seribu alasan agar bisa mangkir mengaji bersama ustadz Baihaqi. Kutepuk dadaku sebagai bukti bahwa aku memanglah si pemberani. Sok berani mungkin. Karena ibu pun memiliki seribu cara agar kedua kakiku ini bisa bergerak menuju surau. “Tidur di serambi depan tanpa selimut!” Itulah titah ibu jika mulutku mulai berkomat kamit menyenandungkan syair-syair rayuan agar tak pergi mengaji.

Terkikik geli Delima--adik balitaku—di samping kursi kayu yang lapuk. Tak sekali ia melihat abangnya dimarahi seperti ini. Ia telah menjadikanku sebagai selingan pengumbar tawa dalam rutinitas hariannya. Mulutnya yang hanya berisi beberapa gigi putih itu akan terbuka lebar menertawakan kesusahan abangnya ini.

Ibu pernah berkata bahwa mungkin ketika mengandungku ia tak banyak beramal hingga lahirlah aku, Arkana si pemberontak. Lain cerita dengan Delima yang manis. Saat adikku itu dalam kandungan, ibu begitu senang memberi pada orang lain. Dongeng kami saat masih berbentuk janin itu sudah sering kudengar. Mungkin ibu ingin menyindirku. Tapi sampai saat ini sindiran itu masihlah seperti angin lalu yang masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. “Tidak, Bu, aku bukan pemberontak, aku hanya tak suka mengaji.”

Ibu tak menjawabnya dengan kalimat ancaman. Kedua matanya melotot. Aku mendengus kesal. “Baik, Bu, aku akan pergi ke surau!”

***

Sore hari ketika lelah menggelayut di pelupuk mata, tentu tidur terlelap menjadi sesuatu yang dirindu. Dan apalagi yang bisa dilakukan si perindu ulung jika lelah itu benar-benar telah menjadi candu?

Kutopang daguku ini agar tetap terlihat seperti orang yang tengah menyimak. Duduk paling belakang beginilah asyiknya! Dekat jendela yang tak lagi berkaca (setahun lalu kacanya pecah gara-gara terkena bola yang ditendang oleh Amir), aku termanggut-manggut menahan kantuk. Suara ustadz Baihaqi yang tengah bercerita tentang perang Badar, terdengar samar di antara gemerisik dedaunan pohon jambu yang berada tepat di luar jendela. Oh, Arkana yang pintar!

***

“Sapu dan pel lantai sebelum maghrib datang!”

Begitu perintah ustadz Baihaqi saat mendapatiku tertidur pulas di jam mengaji.

Aku menunduk, berpura-pura menyesali perbuatanku. Kuambil alat-alat kebersihan di belakang surau.

Bersenandung pelan sebagai cara menikmati hukuman. Kusapu debu-debu untuk kemudian kubasahi dengan kain pel putih lusuh yang telah lama berganti kehitaman. Pekerjaan sia-sia sebenarnya, lantai surau ini berkali-kali dipel pun tak akan mengubah apapun. Surau ini tetaplah dekil. Lantai semen yang dialasi tikar pandan ini tetap akan menjadi sarang debu. Sekali saja disuruh membersihkan surau ini, kepayahan telah mematahkan semangatku. Tak akan ada yang bertahan jika berurusan dengan surau payah yang selalu berbau pengap ini selain ustadz Baihaqi, agaknya.

Setiap pagi saat akan berangkat sekolah, akan kujumpai ustadz Baihaqi dengan kaos dan celana bututnya tengah menjemur tikar-tikar pandan usang ini. Sapu dan pel yang kupegang pun pasti telah beribu-ribu kali dipegang olehnya. Kadang aku merasa heran, ustadz Baihaqi masihlah muda, ada banyak hal-hal menyenangkan di luaran sana, tapi anehnya ia memilih sendiri untuk terjebak bersama kekusaman yang melingkupi surau ini.

Satu waktu kuberanikan diri bertanya pada ustadz Baihaqi, “Mengapa Pak ustadz mau mengurusi surau yang hampir rubuh ini?”

Ustadz Baihaqi terdiam sebentar, tak lama ia pun menjawab. “Kita membutuhkan surau ini, sangat membutuhkannya, Arkana. Jika surau ini tak ada maka desa akan menjadi sunyi. Tak ada suara terbata-bata anak-anak yang mengeja al-quran, tak ada canda tawa petani-petani kelelahan sehabis shalat berjamaah. Terlalu sepi, Arkana.”

Kuhembuskan napas penuh kata lelah. Sapu dan kain pel telah kusimpan kembali ke belakang surau. Aku terduduk di sudut kanan surau sambil memandangi dinding triplek yang berlubang. Menganga, cukup besar. “Surau yang malang!”

***

Halaman: 1 | 2 |