Untitled Document

Kategori : Resensi

Dibaca : 2600 Kali

Film NEGERI 5 MENARA Tularkan Semangat Menulis

Sobat Nida, tentu tidak mudah untuk mengadaptasi sebuah novel menjadi film. Apalagi kalau novel tersebut telah memiliki banyak penggemar, sudah pasti banyak pembacanya yang mempunyai ekspektasi tinggi terhadap film adaptasinya. Padahal, durasi yang terbatas sering kali mencegah film adaptasi untuk mentah-mentah memvisualkan segala adegan yang tersaji di novelnya. Selain itu, kepiawaian akting pemeran film, teknik pengambilan gambar, musik dan efek suara juga berpengaruh besar terhadap puas atau tidak puasnya penonton menikmati film tersebut.

Bahkan film sekelas Harry Potter pun bisa membersitkan kekecewaan lantaran banyak yang tidak sesuai dengan harapan. Lalu bagaimana dengan film Negeri 5 Menara yang telah tayang di bioskop 1 Maret ini? Mengecewakan ataukah memuaskan penggemar novelnya? Pastinya pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh yang sudah menonton film, yang belum nonton? Silakan nonton dulu doong!

 

Beda dari Novelnya, tapi Tetap Satu Getaran

Yang pasti, film Negeri 5 Menara telah diakui sendiri oleh sang penulis memiliki beberapa hal yang berbeda dari cerita novelnya. Film adaptasinya lebih menonjolkan persahabatan di antara shahibul menara, dan ada beberapa adegan yang ditonjolkan dan dibuat berbeda meski sebenarnya pada novelnya tidak demikian.

Akan tetapi, baik yang telah membaca novelnya ataupun belum, insya Allah bisa merasakan getaran “Man jadda wajada” dalam film Negeri 5 Menara. Adegan pengenalan “mantera” Man jadda wajada di dalam kelas bahkan bisa membuat bulu kuduk merinding dan air mata mengalir, tentu saja jika menontonnya dengan penuh penghayatan dan tidak keburu membanding-bandingkan antara film dan novelnya.

Sepanjang film, penonton juga akan dihibur oleh banyaknya adegan kocak yang membuat terbahak. Misalnya, adegan shahibul menara bersepeda di kota Bandung dan kemudian melewati halaman sekolah yang penuh dengan siswi-siswi yang sedang berolahraga. Pasti bikin geli sendiri!

Juga adegan saat Alif mengetes kameranya untuk mengambil foto bersama ponakan Kiyai Rais. Wahh... kocak deh!

Satu adegan klimaks yang bikin air mata nggak kuat dibendung adalah saat kepulangan Baso kembali ke kampung halamannya, siapin tisu aja deh Sob!

Belajar Menulis dari Film Negeri 5 Menara

Satu hal yang ingin Nida angkat dari film ini adalah semangat menulis dan jiwa jurnalis yang ditunjukkan oleh tokoh Alif. Siapa yang sangka kalau seorang Alif yang awalnya memandang remeh belajar di Pondok Pesantren kemudian malah terpincut gabung jadi jurnalis di Syams Pondok Madani, dan ternyata di ending nya ia benar-benar menjadi seorang penulis yang meliput di luar negeri. Hmmm... inspiratif deh!

Padahal, pertanyaan yang Alif buat saat mewawancara Kiyai Rais di Pondok Madani bener-bener nggak banget deh Sob! Hehe, pertanyaan dan cara bertanyanya sangat lucu sekaligus polos. Musti-kudu-harus lihat adegan Alif wawancara Kyai Rais! Nah... Siapa yang sangka kalau jalan hidup tokoh Alif justru berubah karena ia bisa menulis?

Kalau kita mau melihat Negeri 5 Menara tidak hanya sekedar film dan Novel, tapi juga based on true story penulisnya, kita akan mendapat kesimpulan bahwa kemampuan menulis itu sangat penting Sob! Kalau A. Fuadi tidak dapat menulis dengan baik, tentu ia tidak akan mampu menceritakan pengalamannya selama di Pondok Madani dalam novel Negeri 5 Menara, kalau ia tidak menulis novel ini, tidak akan ada jutaan orang yang terinspirasi dengan Shahibul Menara dan kisah nyatanya itu hanya terkubur di antara para pelakunya saja. Sayang banget doong!

Jelas bahwa kemampuan menulis membuat sesuatu yang awalnya hanya menginspirasi diri sendiri, menjadi sumber inspirasi tak bertepi untuk berbagi dengan yang lain. Yuuk, tularkan semangat menulis pada sebanyak mungkin orang, salah satunya bisa jadi dengan menonton film Negeri 5 Menara... Ayoo berbagi inspirasi! (Nida)

 

 

 

 

 

 

 

 


Artikel Sebelumnya :

Untitled Document