Mengejar Idola
22 Feb 2012 | Rubrik: Dapur Penulis - Dibaca: 534 kali
Penulis: Femi Noviyanti
Mendekati penulis adalah dengan menulis. Mungkin kalimat ini terdengar janggal. Namun pas untuk saya. Awal saya menulis adalah karena ingin berdekatan dengan sosok yang saya kagumi. Sosok tersebut adalah AZ, seorang penulis produktif yang karyanya sudah dimuat di berbagai media. Kala itu saya masih SMA, tapi saya pun begitu paham kalau saya tak mungkin datang dan berdekatan sama dia dengan otak kosong. Setidaknya saya harus memiliki sedikit bekal terlebih dahulu agar tidak terlihat sebagai orang yang konyol di hadapannya.
Bermula dari inilah saya begitu bersemangat dalam menulis. Mula-mula menulis hal yang ringan-ringan seperti puisi lalu cerpen. Setahun kemudian saya memutuskan untuk masuk ke klub jurnalistik yang ada di SMA saya. Dengan berada di lingkungan tersebut, saya semakin termotivasi untuk berkaya. Apalagi ketika ada lomba menulis resensi tingkat kabupaten Jepara, saya sangat bersemangat untuk mengikutinya. Sebuah tantangan yang menyenangkan, batin saya. Saya ingat sekali bahwa buku yang dilombakan pada waktu itu adalah buku N.H Dini, yang berjudul Langit dan Bumi Sahabat Kami. Sebuah buku yang sampai sekarang saya banggakan karena lahir dari hati penulisnya. Dan berkat buku itulah saya berhasil menjuarai peringkat 2.
Sebagai penulis pemula, saya tentu senang dengan predikat juara itu. Apalagi orang yang saya idolakan mulai menengok keberadaan saya. Namun kebanggan itu cepat berganti dengan kesadaran akan sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab untuk terus mempertahankan imaji serta semangat menulis. Untuk memenuhi tanggungjawab tersebut, saya menjadi seseorang yang gila membaca kemudian mengkonstruksikan bacaan yang telah saya lahap menjadi sebuah tulisan yang layak dibaca orang lain.
Kewajiban yang juga merupakan kegemaran ini saya lanjutkan sampai ke jenjang kuliah. Di kampus, saya ikut menyumbangkan ide dan tulisan di berbagai media, di antaranya majalah Paradigma, buletin Detik, dan website Paradigma Institute.
Tidak lagi rubrik cerpen dan puisi, tetapi juga rubrik artikel, opini dan liputan lainnya. Orientasi saya juga telah berubah, tidak lagi untuk mendapat pujian dan dekat dengan penulis yang saya idolakan. Justru lebih pada kebutuhan pribadi saya sendiri.
Buku dan Semangat Kepenulisan
Dalam menulis kita bisa memperoleh jiwa dari tulisan itu sendiri, ketika yang kita tulis bukanlah bualan semata. Namun tulisan yang berisi dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Maka dari itu, ketika menulis kita membutuhkan asupan gizi untuk meningkatkan mutu tulisan kita. Dan asupan itu dapat kita peroleh melalui buku dan bacaan-bacaan lain.
Buku akan memacu seseorang untuk menulis dan terus menulis. Penulis tidak akan mengungkapkan kalimat “saya kehabisan ide” ketika ia meluangkan waktu untuk membaca buku. Karena buku bisa menginspirasi kita untuk menulis apapun juga.
Hal ini pula yang saya alami. Ketika saya memenangkan lomba resensi tingkat kabupaten tersebut, uang pembinaan yang diberikan sebagai hadiah saya alokasikan untuk membeli buku. Dari buku yang saya beli saya mendapatkan ide yang menjadi tulisan. Tulisan tersebut saya kirimkan ke salah satu majalah di jepara: majalah PENA, yang dikelola pemerintah kabupaten Jepara. Honor dari pemuatan tulisan itupun lagi-lagi saya gunakan untuk membeli buku dan menghasilkan karya baru. Begitu seterusnya.
Dari hal tersebut saya mendapatkan kepuasan tersendiri serta mendorong semangat saya untuk menulis dan menulis. Hingga sekarang saya masih menekuni kegemaran tersebut dan tulisan saya telah berhasil dimuat di beberapa media, di antaranya Okezone.com, Kompas untuk rubrik Argumentasi Mahasiswa, dsb.
Dan baru-baru ini tulisan saya berhasil dimuat di salah satu koran lokal di Pulau Jawa. Tulisan dengan judul “Marital Rape”, tersebut dimuat di rubrik Perempuan Bercerita. Ya, sebagaimana nama rubrik yang disuguhkan, tulisan yang saya buat tentunya berkaitan dengan masalah kaum perempuan. Memaparkan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di dalam lingkup rumah tangga (marital rape) yang sampai saat ini masih dipandang sebelah mata. Ide tulisan ini berawal ketika saya membaca buku mengenai marital rape, dan saya ingat kepada salah satu teman yang pernah mengalami hal tersebut. Dengan penuh semangat saya menuliskannya sebagai wujud tanggung jawab kepenulisan saya, menyadarkan orang-orang yang belum memahami hal tersebut. Semangat kepenulisan bisa kita miliki dari buku. Mari berkarya!
*Penulis tinggal di Jepara, aktif di Paradigma Institute Kudus.
3 Komentar :
Terimakasih tulisanku sudah dimuat, semoga bisa menumbuhkan semangat menulis bagi sobat annida yg lain.... (n_n)
Erna Susilowati
Selamat ya mbak!!! ^_^ ditunggu karya-karya selanjutnya...Semangat!!!
Isi Komentar :




