Menjemput Impian
22 Feb 2012 | Rubrik: Cerpen - Dibaca: 4251 kali
Ketika kita diharuskan memilih salah satu antara cita–cita dan bakti kepada orang tua, kalian pilih mana? Ya, itulah yang terjadi padaku. meski dengan gundah yang teramat akhirnya memilih yang kedua.
***
Hari ini, aku duduk di sini. Di sebuah universitas swasta di kotaku di pulau Kalimantan. Ah, jujur saja aku tak pernah menginginkan untuk ada di sini. Apalagi dengan status mahasiswa baru Fakultas Keguruan.
Aku tak begitu mendengarkan ocehan kakak senior di depan yang sedang memberi pengarahan untuk acara orientasi mahasiswa baru selanjutnya. Masa bodoh kalaupun nanti aku jadi tak mengerti apa yang harus aku kerjakan dan akhirnya mendapatkan hukuman.
Aku benar–benar tak bergairah menjalani hari–hariku beberapa hari ini. Bagiku, ini semua mimpi buruk. Mimpi buruk yang diawali dengan mimpi yang teramat indah. Mimpi yang sudah aku pelihara sejak aku duduk di bangku SD, yang hampir saja menjelma menjadi nyata, tapi lalu hancur berkeping–keping seperti tak tersentuh lagi.
Sejak kecil aku punya satu cita–cita. Cita–cita yang bisa dibilang klise bagi anak seumuranku waktu itu. Jadi dokter! Menjelang remaja aku punya satu lagi cita–cita. Kali ini agak tidak lazim. Mungkin jauh lebih tepat disebut sebagai impian, atau malah obsesi?! Yang jelas, sejak SMP, aku amat suka dengan salah satu kota di Indonesia yang sering dijuluki sebagai “kota pelajar”. Ya, Jogjakarta!
Entah apa latar belakangnya, aku amat terpesona dengan kota itu meski belum sekalipun melihatnya secara nyata, melainkan hanya dari berbagai bacaan ataupun tayangan di televisi. Sejak itu pula aku seperti terserang obsesi yang begitu mengherankan bagi banyak orang. Aku amat suka mengoleksi apapun tentang Jogja. Gambar keraton Jogja yang aku dapat dari buku sejarah, artikel di koran nasional tentang Malioboro, dan apapun tentang Jogja selalu aku simpan dalam sebuah binder besar hadiah ulang tahunku ke–14. Lalu, aku pun bermimpi bahwa suatu saat aku akan mengunjunginya!
***
Tiga minggu yang lalu hatiku diliputi kebahagiaan tak bertepi, ketika Pak Pos mampir ke rumahku mengantarkan sebuah amplop coklat. Setelah mengetahui amplop coklat tersebut, kebahagiaan itu semakin menjadi. Aku lolos seleksi penerimaan beasiswa Fakultas Kedokteran di sebuah universitas ternama di Jogja! Seketika aku tersungkur dalam sujud. Seluruh tubuhku gemetar membayangkan bahwa beberapa minggu ke depan aku akan menginjak tanah impian–Jogja.
Hari–hari ku disibukkan dengan urusan mengurus ini itu untuk persiapanku berangkat ke Jogja. Jam seperti amat lama berputar saking tak sabarnya aku untuk segera berangkat ke sana. Dan setelah penantian yang terasa amat lama itu, hari itu pun tiba. Hari di mana aku siap menjemput impian. Mengawali langkah menjadi seorang dokter, dan melihat hidup di kota yang amat aku sukai. Melihat Malioboro, melihat Monumen Jogja Kembali, melihat Keraton Jogjakarta, ah… semua itu sudah teramat lama ada di tiap jenak mimpiku.
Namun, ternyata kita memang tak punya sedikitpun kekuatan untuk mengendalikan apa yang terjadi, agar selalu sesuai dengan yang kita inginkan. Tak terkecuali aku.
“Naniiiiiis… cepat ke sini, ayah jatuh di kamar mandi!” Teriak ibuku di pagi itu, tepat satu jam sebelum keberangkatanku menuju kota impianku.
Beberapa jam kemudian aku dan ibu sudah berdiri resah di depan sebuah ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit kecil di kotaku. Kami tak diijinkan masuk. Ibu menangis tersedu, khawatir sekali terjadi sesuatu yang buruk pada Ayah.
Tadi Ayah langsung tak sadarkan diri, hingga harus meminta bantuan pada beberapa tetangga untuk mengangkat Bapak ke mobil salah satu petugas Puskesmas yang tak sengaja lewat lalu berbaik hati menolong.
Aku pun menangis. Dadaku amat sesak hingga terasa sulit bernafas. Bedanya dengan Ibu, aku tak tahu apa penyebab utama aku menangis. Tentu saja aku juga khawatir pada keadaan Ayah, tapi hatiku juga amat perih melihat jam di tanganku yang menunjukkan pukul 09.15. Pesawat yang dipesankan oleh pemberi beasiswa itu berangkat pukul 10.00. jika melewatkan pesawat itu, berarti dianggap aku mengundurkan diri.
Ya Allah… tak adakah dispensasi waktu barang sehari? Ratapku dalam hati diiringi sedu sedan yang kian menjadi.
13 Komentar :
TOP cerpenya membuat air mata ini mengalir..mungkin hikmah yg dpt dipetik "baik menurut kita belum tentu baik menurut alloh, ia selalu memberikan sesuatu yg kita butuhkan bukan sesuatu yg kita inginkan" keep spirit..!!
yup pilihan yg amat sangat berat
pastinya ini cerpen persis kisah nyata yah???
sunihanina
sedih...
tp inilah ketentuan Nya...
pasti sll ada hikmah disetiap kejadian
bgus menyentuh bgt ceritax tpi konflikx msh bs d tbak. . . Seandaix aj dy jd k jogja trz ad sdkt konflik dgn ortux pst crtax jd lbh hdup. . Tp intix bgus salut sob
Sungguh pilihan yg berat,tp jka tetap teguh brbaik sangka pd allah,pasti allah akan menberikan kebaikan dlam keadaan itu,..
Subhanallah.... ini cerpen pertamaku yg tembus annida :)
makasiii nidaaa...
ini separo nyata separo fiksi... :)
semoga bermanfaat....
raelita
wew .. aku sangat sensitif dengan cerita yang berbau tentang "ayah". love Dad much.
Isi Komentar :




