Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

Kota Banjir (Part 2)

21 Feb 2012 | Rubrik: Cerpen Interaktif - Dibaca: 731 kali

 

Penulis : Ilham Fauzi

 

“Bismillah.” lirih Hadi sebelum mengulang kembali panggilan yang sama.

Tuuut.

Bunyi panggilan masuk itu benar-benar membuat hatinya yang diselimuti cemas berangsur lega. Kemudian kecemasannya benar-benar terobati ketika panggilan itu diangkat.

“Sudah mengungsi, Nur?” Tanya Hadi langsung.

“Halo?” Suara bariton seorang pria menjawab di ujung sana.

Hadi mengernyitkan dahi. Setahunya malam tadi tak ada saudara laki-laki yang tidur di rumah mereka. Memang biasanya Sahrul, adiknya Nurma yang sedang kuliah, tinggal sementara di tempat mereka untuk mencari kos yang cocok.

“Ya halo, ini siapa? Bukankah ini nomor istri saya Nurma?”

“Maaf Pak, kami tim sukarelawan yang bertugas mengevakuasi warga Perumahan Indah Permai. Handphone ini kami temukan di atas tembok pagar rumah C20.”

“Lalu istri saya?”

“Kami tidak menemukan orang di rumah C20. Sepertinya sudah dievakuasi dengan perahu karet yang lain.”

“Perahu karet yang lain?” Hadi tercekat.

Setelah mengucapkan terima kasih, Hadi menutup pembicaraan. Ia termenung sesaat. Teringat akan nasib rumahnya. Ditatapnya jalan yang mulai semrawut. Macet di hadapannya semakin meluber. Kendaraan yang berjubel mulai menimbulkan suara bising. Saling membalas membunyikan klakson.

Hadi masih berdiam diri di depan toko elektronik yang ia perkirakan tak akan buka hari ini. Ia belum punya peluang untuk balik arah. Hujan terus menderas diselingi petir yang sesekali menggelegar. Hadi semakin kedinginan. Bajunya yang tadi basah kuyup kini mulai lembab. Membuat dingin terus menyebar ke seluruh tubuh hingga menyusup ke tulang-tulang.

Pikirannya melayang pada Nurma. Baru tiga bulan mereka menikah, selama itu pula mereka mengontrak di Perumahan Indah Permai. Selama tinggal di sana, mereka selalu membayar uang sampah tiap bulan kepada pemuda-pemuda tanggung yang mengatasnamakan sebagai pengelola sampah. Memang setiap pagi sampah-sampah tersebut selalu diangkut dari komplek. Namun, mengingat banjir yang kini mungkin sudah menenggelamkan separoh rumahnya, pasti ada yang tidak beres. Bisa saja para pemuda tersebut mengambil alih penanganan sampah ini dari petugas kebersihan yang legal. Dan mereka tak membuangnya ke tempat akhir pembuangan sampah, tapi bisa saja ke...

Selain itu, pernah Hadi pulang lembur ketika subuh akan masuk beberapa menit lagi. Ia mendapati pemuda-pemuda tanggung itu tertawa sambil bermain kartu di pos ronda. Sementara berbagai nominal uang bertumpukan di hadapan mereka. Tak luput matanya menangkap beberapa botol minuman bermerk anker.

Sebentar ia tercenung akan satu ayat yang sering didengarnya.

Dan penduduk negeri itu telah (Kami) binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” 

Mungkinkah? Hadi menepis pikiran itu. Ia harus bertemu Nurma sekarang. Tapi ke mana? Bodohnya ia tak menanyai kepada relawan tadi. Diulangnya sekali lagi panggilan ke hape Nurma.

“Nomor yang anda hubungi...,” suara monoton itu lagi.

Hadi mendengus kesal. Menyesali ketelodorannya. Hujan masih terus turun. Ditambah lagi angin yang kembali menderu kencang. Persis ketika Hadi berteduh di tempat pertama tadi. Ia kembali melirik halei peraknya. Tepat pukul tujuh. Suara klakson itu masih terus bersahutan. Ingin ia berteriak agar mereka segera memutar arah. Namun rasanya tak mungkin. Lebih baik ia meninggalkan tempat ini sekarang. Mengunjungi rumah Izai, teman satu kantornya, bisa jadi pilihan yang tepat.

Masih belum ada pertanda hujan akan berhenti. Hadi nekat meninggalkan tempat itu sekarang. Dengan sedikit ketangkasan, ia menyelip ke depan mobil-mobil yang masih terus menunggu. Ketika sudah berada di jalur yang berlawanan, dipercepatnya kecepatan motor matic itu. Tubuhnya kembali kuyup dan ia semakin menggigil.

“Kraaaaak!”

Suara itu jauh lebih keras dengan yang pernah ia dengar sebelumnya. Spontan Hadi menghentikan motornya. Tak peduli dengan hujan yang telah sempurna membasahi sekujur tubuh.

Satu baliho raksasa kembali rubuh hingga menimpa separoh badan jalan. Ia terkesima ketika melihat pemandangan itu. Kini baliho besar itu menimpa seorang pengendara motor yang juga basah kuyup sepertinya. Jalanan lengang, tak ada satu kendaraan pun yang lewat.

Ketika ia telah berada dalam jarak dekat, matanya mamancarkan kecemasan yang luar biasa melihat satu sosok yang berlumur darah itu tergeletak tak berdaya.

***

Note: 

1.       Surat Al-Kahfi, ayat 59.


Yuhuuu...!

PERHATIAN-PERHATIAN! Bagi Sobat Nida yang tertarik melanjutkan Cerpen interaktif Kota Banjir (part 3 / Tamat), silakan kirim lanjutannya ke email: majalah_annida@yahoo.com, dengan format .rtf atau .doc, subject: cerpin Kembali 3. Selambat-lambatnya 10 hari setelah pemuatan Kembali (part 2), atau selama naskah Part 3-nya belum ada yang tayang (artinya dari sekian banyak naskah kiriman, belum ada yang dinyatakan layak muat)

Jangan lupa sertakan nama dan alamat lengkap, karena ada bingkisan yang berhak kamu dapatkan jika karyamu yang terpilih. Makanya, cepetan tulis... dan kirim! ^_^  

 

 

Artikel Sebelumnya :

1 Komentar :
2012-02-25 05:54:38 WIB

Nta

Wah... wah... Subhanallah ceritanya makin seru, musti ditutup kayak gimana niih cerpinnya?


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)