Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

Badai di Cakrawala

17 Feb 2012 | Rubrik: Cerpen - Dibaca: 3104 kali

Penulis: Donny Muhammad Ramdhan

 

Ini hanya sementara, ini hanya sebentar.

Pria kaukasoid itu melangkah keluar dari gerbang terminal di bandara internasional O”hare, Chicago. Awalnya dia berjalan dengan mantap, tapi kemudian dia berhenti dan tersenyum kecil. Dia perhatikan sekelilingnya sejenak dan masih tersenyum; senyum yang seolah berkata, aku tidak menyangka bisa berdiri lagi di kota ini. Ya, sebenarnya Chicago adalah kota kelahirannya, tapi sepuluh tahun silam dia pernah beranggapan tidak akan lagi menginjakkan kaki di kota angin ini. Tapi sepertinya sekarang pun anggapan itu tidak berubah, karena kemudian dia menarik nafas panjang dengan rahang tampak mengeras dan dia kembali berjalan mantap.

Ini hanya sementara, ini hanya sebentar, ucap batinnya lagi.

Pria ini mungkin berada di awal tiga-puluhan, berambut pirang dengan potongan gaya militer. Matanya biru jernih mengapit hidung yang terkesan besar. Perawakannya tinggi besar, dengan bahu lebar dan tangan yang tampak kokoh; sedikit-banyak memberi petunjuk kalau dia bukan tipe orang yang menyepelekan arti olah raga. Penampilan pria ini pun cukup rapi; kemeja putih lengan panjang yang tergulung hingga sikut, celana katun hitam dan sepatu hitam. Hanya saja, penampilan itu akan terlihat lebih rapi seandainya yang dia bawa adalah tas koper, bukannya tas ransel besar yang juga hitam.

Baru lima langkah dia berjalan, tampak seorang perempuan muda kaukasoid berambut coklat menghampirinya.

“Mr. William Fortesquieu?” sapa perempuan itu datar. Perempuan ini berpenampilan sangat elegan dengan blazer dan rok panjang biru tua, bergaya bak tokoh pengacara yang baru keluar dari serial “Ally Mcbeal”, atau serial “Justice”. Tapi omong-omong, perempuan ini memang seorang pengacara.

Si pria menoleh dan tersenyum. Dia mengenal perempuan itu. “Miss Carver,” sapa pria bernama William Fortesquieu itu.

“Lama tak jumpa, Bill,” ucap Miss Carver seraya menjulurkan tangan.

Yang dipanggil Bill itu tidak menyambut tangan Miss Carver, tapi merespon dengan membungkuk dan berkata, “Ya, sudah sangat lama. Jadi kamu yang menjadi komite penyambutannya?”

“Ya…. Lewat sini, Bill… Atau kamu lebih nyaman dipanggil Ahmad?”

“Terserah kamu, Rebbeca.”

“Oke, lewat sini, Bill. Bagaimana penerbangannya? Lancar?”

Miss Carver mulai berjalan ke satu arah. Bill mengikuti.

“Sedikit bergoncang, tapi lancar,” jawab Bill. “Bagaimana keadaan dia?”

“Dia baik-baik saja, tapi pasti akan kecewa jika dia tahu kamu tidak membawa cucunya.”

“Yah. Regulasi di Indonesia tidak secepat di sini.”

Di luar mereka disambut dengan hujan yang cukup deras, tapi mereka segera mendapat perlindungan setelah dihampiri oleh seorang sopir yang membawa payung, yang kemudian sopir itu menuntun mereka ke sebuah limousine mewah. Tak lama kemudian, limousine mewah itu membawa mereka memasuki jalan tol Tri State menuju pusat kota.

“Aku berasumsi kamu tidak lagi bekerja di firma ayahmu,” ucap Bill membuka percakapan.

“Aku sekarang pengacara pribadi ayah kamu,” jawab Miss Carver. “Sejak kamu meninggalkan aku, ayahmu berusaha untuk menarik aku dari firma ayahku.”

“Bisa aku bayangkan. Dia memang menyukai kamu. Dia setengah mati ingin menjadikan kamu menantunya…. Jadi siapa yang beruntung dari kedua adikku? Jarred atau Frank?”

“Tidak satu pun,” jawab Miss Carver dingin seraya berpaling menatap jendela.

Mereka kemudian terdiam dan suasana jadi sedikit kurang nyaman.

Limousine keluar dari jalan tol lewat Milwaukee Avenue.

“Aku dengar kamu sudah menikah dan punya satu putri?” tanya Miss Carver membuka kembali percakapan.

Bill mengangguk.

“Dan kamu bahagia?”

Bill tersenyum. “Ya. Sangat.”

“Aku sulit mempercayainya. Aku masih tidak bisa percaya kamu tinggalkan aku, tinggalkan ayahmu, tinggalkan bisnis keluargamu, tinggalkan semua kemewahan ini, demi menjadi seorang Muslim. Kenapa, Bill? Katakan kenapa? Aku sungguh tidak mengerti.”

Senyum Bill melebar. “Sepertinya kamu masih tidak percaya sama Tuhan, ya?”

“Apa hebatnya Tuhan? Jika dia memang benar-benar Pencipta, Dia bukan Pencipta unggulan. Dia ciptakan otak yang hanya bisa diakses dua puluh persennya saja. Coba pikir. Apa maksud-Nya dengan itu?”

Bill tertawa; tertawa meski dia sendiri bisa menangkap sarkasme dari kalimat gadis itu yang kurang-lebih mengatakan, Tuhan itu hanya untuk orang bodoh! Muslim itu hanya kumpulan orang tidak punya otak!

“Apanya yang lucu?”

Bill menarik nafas sejenak. “Jelas sekali kamu belum pernah melahirkan.”

“Apa maksudmu?” Intonasi suara Miss Carver meninggi.

“Kamu tahu? Waktu putriku lahir, aku melihat semuanya. Tiap momennya. Aku lihat bagaimana istriku menjerit-jerit kesakitan, aku melihat bagaimana dokter menggunting vaginanya, mendorong perutnya hingga bayi itu keluar. Lalu setelah keluar, bayi itu disimpan di dada istriku, dan dia tersenyum; tersenyum seakan lupa kalau sebelumnya dia menjerit-jerit, lupa kalau bayi itulah sumber rasa sakit itu. Kamu bisa lihat, mungkin itulah alasan mengapa Tuhan menciptakannya seperti itu; memberi kita kemampuan untuk “lupa”. Apa kamu mau setiap saat, setiap desah nafas kita, kita selalu ingat akan bagaimana rasanya sakit, bagaimana rasanya dipermalukan, bagaimana rasanya ditinggalkan dan diabaikan?”

Miss Carver terdiam.

“Tapi aku juga tidak bisa bilang hal itu tidak ada efek samping yang buruk,” lanjut Bill, “Maksudku, tadi di pesawat, di sampingku duduk seorang Jepang. Dia sedang makan dengan lahap sambil nonton CNN yang memberitakan kelaparan di Somalia. Aku pikir, bagaimana dia bisa terus makan sementara dia melihat, dia mendengar saudaranya sesama umat manusia tengah kelaparan? Kamu bisa lihat, Rebbeca, kita diberi kemampuan untuk “menutup diri” dari moral, dari etika, dari… keberadaban… Mungkin jika kita diberi akses penuh ke otak kita, yang seperti itu tidak akan terjadi, atau bahkan mungkin kamu pun tidak akan tidak percaya sama Tuhan.”

Miss Carver mendengus. “Oke, bagaimana kalau ini. Jika Tuhan-mu begitu hebat, bisakah Dia menciptakan batu yang sangat berat sehingga Dia sendiri tidak bisa mengangkatnya?”

Bill kembali tersenyum. “Kamu tahu? Aku juga pernah menanyakan pertanyaan yang hampir mirip kepada seseorang; tiga bulan kemudian aku menikahinya,” ucapnya.

“Apa dia bisa menjawabnya?”

Bill menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan. “Kamu ingat Ferrari-ku dulu ketika kita masih SMA?”

Miss Carver tampak tercekat, seakan tidak menyangka kalau Bill akan mengatakannya, tapi sebagaimana seorang pengacara bersyaraf baja, dia berhasil meredam rasa kaget itu, meski mungkin sedikit terlambat. Entah apa alasan dia terkejut dengan pertanyaan Bill itu, tapi bisa direka-reka kalau dia dan Bill pernah punya kenangan yang melibatkan sebuah Ferrari.

Hanya saja Bill tidak peduli dengan keterkejutan Miss Carver, karena dia terus menekan pembicaraan.

“Dua ratus mil per jam kecepatan yang luar biasa, bukan? Kadang aku penasaran ingin mengeluarkan seluruh kemampuan mesin itu. Coba bayangkan, apa aku bisa melakukannya di daerah Gold Coast?”

“Kamu pernah seratus tiga belas kali kena tilang,” jawab Miss Carver.

“Ya, aku ingat. Kamu bisa lihat, kan? Aku punya kemampuan untuk menjajaki ganasnya mesin hebat itu, tapi aku tidak bisa sembarangan melakukannya. Frame work yang sama berlaku juga sama Tuhan; Tuhan ciptakan batu itu lalu dia ciptakan hukum yang membuat-Nya tidak bisa mengangkatnya. Itupun jika ada manfaatnya.”

“Itu absurd! Maksud kamu Tuhan takut akan konsekuensi perbuatan-Nya sendiri?”

“Kamu seorang pengacara, kan? Apa kamu pikir hukum ditegakkan untuk ditakuti? Atau demi terciptanya masyarakat yang berkeadilan sosial?”

Miss Carver tampak tercenung. Keningnya mengerenyit.

“Tapi aku bisa mengerti,” lanjut Bill. “Terdengar absurd memang, tapi bukankah itu tandanya kita, manusia, terkurung oleh logika? atau sebenarnya kita sendiri yang mengurung diri dalam logika, sehingga kita sulit untuk menerima apa yang di luar logika, dan menyebutnya absurd, padahal Tuhan-lah yang menciptakan dualisme tersebut.”

Bill menghela nafas agak panjang, “Faktanya, semua orang akan mati, Rebbeca. Semuanya akan berakhir… Akan datang suatu hari di mana langit meleleh bak cairan tembaga, lalu setiap hukum akan runtuh, dan logika ditutup bak sebuah buku, lalu satu-satunya yang menjadi pusat perhatian hanyalah… Tuhan…”

Bill kemudian mengangkat bahu. “Bagaimanapun, aku tidak bermaksud memaksa kamu untuk mengerti, Rebbeca, atau untuk percaya… Percaya saja apa yang kamu percayai, dan aku akan percaya apa yang aku percayai.”

Bill kemudian menatap Miss Carver, sekadar mencari tahu reaksi apa yang akan ia dapatkan. Tanpa Bill sangka, yang ditatap balas menatap dan tersenyum.

“Kamu tahu?” ucap Miss Carver, “Aku merindukan diskusi seperti ini. Selamat datang kembali di rumah, Bill.” Miss Carver membuka pintu limousine.

Tanpa disadari Bill, limousine telah berhenti, entah telah berapa lama. Mobil berhenti di depan sebuah gedung; sebuah menara dengan plakat besar di atas gerbang bertuliskan “Fortesquieu Corp.” Bill keluar dari limousine dan mengikuti langkah Miss Carver.

“Sepertinya kini dia tinggal di penthouse di atas menara ini, ya?” tanya Bill, dari belakang Miss Carver.

“Ya, dan jarang sekali meninggalkannya. Saat ini dia sedang ada rapat dewan direksi, tapi itu tidak akan jadi masalah. Aku bisa menduga dia memang sengaja mengatur jadwal rapat ini dengan kedatangan kamu; secara terselubung memberi tahu mereka kalau pewaris tahta perusahaan telah kembali.”

“Aku tidak akan mewarisi apapun,” tanggap Bill dingin.

“Ya. Aku tahu.”

Halaman: 1 | 2 |

Artikel Sebelumnya :

13 Komentar :
2012-02-17 20:13:58 WIB

Mega Chairani (Asfia Shafana)

Penggambaran setting dan karakter sudah sangat mencirikan jiwa masyarakat AS. Pemilihan California state dengan latar tambahan pemandangan Sungai Michigan jg sdh sgt tepat. California dan Michigan memang merupakan 2 state dg jumlah dan komposisi Muslim terbanyak di AS. Tapi ada satu yang terasa kurang bahkan tdk ada sama sekali (⌣́_⌣̀). Di mana dialog dlm bahasa Inggris khas Amerika?! Ini penting diperhatikan bagi penulis yg memilih Amerika sebagai spesialisasi ceritanya. Bahasa adlh ciri terkuat entitas suatu bangsa. Wallahua'alam. Asfia Shafana

2012-02-18 17:07:12 WIB

qianu

laris manis deh cerpennya Donny, dimuat terus sama nida,

2012-02-19 13:21:08 WIB

Nta

Mantab bgt nih cerpen. Banyak pesan yang bisa didapat. Bener bener gak kosong...

2012-02-19 14:40:45 WIB

nananuris

suka suka suka.....

2012-02-19 21:59:20 WIB

yuni nurnengsih isral

Subhanallah....mantap banget gambaran isinya. serasa terhanyut saat membacanya

2012-02-20 10:39:55 WIB

Ammu Fatik El-Arofy

cerita yg model gini nich yg aku suka..
serasa mbaca novel trjemahan karya sidney sheldon..
tapi bener bgt..coba kalo diselipi bahasa inggris khas amerika pasti lebih hidup..
trus sedikit ending ceritanya koq aku sedikit gak nyambung ya...
gak nangkep maksudnya...hehe
ntar dech coba ta' baca lagi..sapa tau stlh baca dua kali bisa nyambung.. :)
but overall kereeennnn... ^^"

2012-02-20 16:25:34 WIB

sarah fiza

Good! cerpennya mantap, dialog2 cerdas yang diselipkan menjadi poin penting. hanya saja, menurut saya. latar dan suasana masih kurang kuat.
karena, jika cerpen ini latarnya diubah, tidak mempengaruhi isi cerpennya. nah, ini yang saya rasa kurang kuat di latar. kalau saja ada american english yang diselipkan mungkin akan mnambah "rasa" cerpen yang lebih menarik.

demo, sugoi na!

2012-02-21 08:02:58 WIB

Ammu Fatik El-Arofy

setelah baca 2 kali akhirnya tau jalan ceritanya sprti apa..hehe
makin suka ja sama cerpen ini.. ^^"
yg bikin pnasaran itu apa yg mmbuat bill mninggalkan rumah..
apa gara2 dia masuk islam..? kan ayahnya jg tdk mprmasalahkn...
mnghindar dri jangkauan ayahnya..? apa maksudnya tdk mau diatur oleh ayahnya..?
coba klo ada flashback ttg kejadian prtengkaran atau apa masalah y mbuat bill pergi dri rmh..psti lbh mantabs.. ;)

2012-02-21 14:23:45 WIB

Aan

subhanalloh, bagus sekali...

2012-02-22 13:13:51 WIB

Ervina

Subhanalloh, mantap cerpennya. Sukses terus ya :)


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)