KURSI AYAH
15 Feb 2012 | Rubrik: Cerpen - Dibaca: 4184 kali
“Yah, Aby berangkat ya...”
Pria di depanku tidak menengok sedikitpun. Hanya pupil matanya yang bergerak-gerak mengikuti gerakan tubuhku. Aku mengambil tangannya. Menjabatnya dan kemudian menciumnya. Kemudian aku meletakannya kembali ke atas lengan kursi tempatnya duduk menghabiskan pagi di beranda rumah kami yang sederhana. Ia masih tak bereaksi.
“Aby, kamu pergi naik apa?” Ibu keluar dari dalam rumah dengan semangkuk bubur tepung beras hasil racikannya. Tidak ada bubur oat untuk ayah. Padahal dokter menyarankan agar ayah banyak-banyak makan makanan yang rendah kalori untuk kesehatan jantungnya. Tak apalah, asal ayah makan.
“Nebeng Ihsan, Bu,” jawabku berbohong. Ihsan hari ini tidak masuk sekolah karena dia dan keluarganya pergi berlibur ke luar kota. Asik sekali.
“Kamu nanti langsung pulang ya, By. Jaga ayah. Ibu mau ke pasar. Cari tau harga kursi roda. Kursi roda ayah sudah minta diganti,”
Aku menoleh ke arah ayah dan kursi rodanya. Kini mereka bagai sahabat yang tak bisa dipisahkan. Yah, ayah sudah struk sejak 6 tahun lalu. Badannya yang dulu kekar dan menyenangkan sebagai tempatku bergelayut manja, kini sudah kering kerontang. Tinggal kulit pucat yang bergelambir di atas tulangnya yang semakin keropos.
Dia masih cukup muda. Kata ibu, usianya belum genap 40 tahun, tapi bagiku dia sudah nampak seperti kakek-kakek berusia 60 tahun. Keadaannya sungguh mengenaskan, dan kursinya pun tak kalah mengenaskan. Bantalnya sudah mengelupas. Busa yang ada di dalamnya pun sudah pergi sedikit demi sedikit tak tahu ke mana. Karat sudah berhasil merambati beberapa bagian dan membuat besi-besi itu keropos. Yang lebih parah lagi, rem rodanya sudah sangat aus. Tentu berbahaya jika membiarkan Ayah sendirian.
Aku menelan ludah. Bukankah itu bukan hal yang mengherankan mengenang keadaan keluarga kami? Semenjak Ayah sakit, ibulah yang menjadi tulang punggung. Ia yang semula hanya ibu rumah tangga biasa tak mampu berbuat banyak. Pesangon dari tempat kerja ayah dia gunakan sebagai modal berjualan nasi di depan rumah. Hasilnya tentu tak banyak. Kami tinggal bukan di kawasan padat penduduk. Tapi kata ibu, jika kami selalu bersyukur, sedikit apapun rejeki itu, pasti akan terasa cukup. Aku hanya menurut, meski kadang batinku selalu berontak. Bagaimana tidak, jika Ihsan tak menjemputku, aku harus berjalan kaki ke sekolah yang jaraknya lumayan jauh.
“Kok Ihsan belum datang, By? Apa kamunya yang kepagian?” Tanya Ibu seraya menyuapi Ayah dengan kepayahan. Ayah susah membuka mulutnya, dan mungkin sendok yang digunakan Ibu terlalu besar. Biasanya ia akan membutuhkan waktu satu jam untuk menyelesaikan makan paginya dengan sempurna, hingga akhirnya matahari pagi berubah menjadi panas.
“Kita janjian di depan, Bu. Aby berangkat dulu ya... Assalamualaykum.”
“Waalaykumussalam,” tentu, hanya Ibu yang menjawab salamku, tapi dari sorot mata ayah, aku tahu dia juga menjawab salamku.
-oOo-
32 Komentar :
Nurul
Sediiiiiih :'(
Dan endingnya itu, luar biasa!
Menggambarkan isi hati beberapa masyarakat yang tak puas dengan sikap para penjunjung kemewahan. Miris..jadi ikutan nyesek.. *sabar..sabar..jangan emosi T__T*
Shuhada
Masya Allah, Luar biasa cerpennya, Semoga ada yang mau membukukan ini cerpen, Supaya bisa dijadikan cermin untuk bangsa kita,,,
cerpen dengan pesan moral yang tak terduga, mengkritisi kondisi bangsa ini dengan bahasa yang halus tetapi tetap mengena,salut untuk Zi Muzi, terus berkarya!!
Zi Muzi
Alhamdulillah, setelah sekian lama degdegan ngliatin cerpen rijek... Jazakallah Nid, dan juda pembaca Annida semua.. :D.. Semoga dapat diambil hikmah... Salam
Salutt.... sebuah karya yang berguna tidak cuma bagi umatnya tapi semoga juga bagi bangsanya.
Ceritanya sederhana, tapi endingnya luar biasa. Sangat menyindir keadaan tanah air saat ini. Selamat buat penulis. lam kenal
Ceritanya bagus menyentuh hati pembaca,di ahir cerita persis seperti keadaan jaman sekarang
Isi Komentar :




