KARPET

Penulis: Muhammad Saleh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TIDAK ada satu pun penduduk kampung yang tahu, siapa yang meletakkan karpet itu di dalam masjid. Tahu-tahu sudah tergeletak begitu saja di dekat tiang penyangga masjid. Pak Kasim, marbot masjid itu yang menemukannya pertama kali. Ketika ia menyalakan lampu masjid untuk mengumandangan azan subuh, ia melihat sebuah gulungan besar berbungkus plastik. Ketika ia membukanya, ternyata sebuah karpet besar berbentuk sajadah.

Kabar itu cepat menyebar seseantero kampung. Menjadi pembicaraan hangat di sebuah warung pagi itu. Kalau tadi malam ada orang yang menghadiahi masjid mereka sebuah karpet baru.

“Kira-kira siapa orang dermawan yang menghadiahi masjid kita karpet baru itu?” tanya seorang warga. Mulutnya dengan lahap menyantap pisang goreng yang masih hangat.

Semua warga saling pandang. Kali saja ada yang bisa menjawabnya. Semua mengangkat bahu. Lalu, seorang pemuda tanggung yang duduk di kursi paling ujung menyahut.

"Entahlah... yang pasti bukan Haji Karmo. Dia kan orangnya hitung-hitungan dan pelit lagi.”

Semua yang ada di warung itu tergelak mendengarnya. Siapa yang tak tahu dengan Haji Karmo, orang terlanjur kaya yang low profile. Namun pelitnya minta ampun. Jika memberi pasti ada maunya atau mendatangkan untung buatnya.

Hingga kabar tentang karpet itu terdengar juga sampai ke telinga Haji Karmo. Ia berang mendengarnya. Siapa yang telah berani menandinginya dalam hal bersedekah? Siangnya, Haji Karmo langsung berangkat ke masjid itu. Membuktikan apa benar berita yang ia dengar.

Sesampainya di masjid, beberapa warga telah berkumpul, sebab waktu zuhur sebentar lagi akan datang. Sambil menunggu waktu shalat masuk, tak henti-hentinya beberapa warga membicarakan tentang karpet misterius itu di dekat tempat wudhu.

“Mungkin orang yang memberi karpet ini tak ingin dianggap riya. Jadi ia meletakkannya pada malam hari.” Kata Dirman memulai pembicaraan.

“Iya. Saya kira juga begitu. Tapi saya jadi penasaran, siapa orangnya, ya?” sahut bapak berkumis tebal sambil merapikan sarungnya.

“Yang jelas dia orang baik. Kita doakan saja agar rezeki orang itu semakin dibukakan oleh Allah.” Tambah Haji Makmur, imam masjid itu.

Mendengar itu, telinga Haji Karmo semakin panas. Ia tak tahan mendengar orang lain di puji-puji selain dirinya. Haji Karmo pun ikut nimbrung.

“Pak Haji Makmur ini gimana sih, cuma pemberian satu karpet itu saja dibesar-besarkan. Tak ingat apa? Dulunya saya penyumbang terbesar pembangunan masjid ini, saya biasa-biasa saja,” imbuh Haji Karmo mengingatkan.

Memang, Haji Karmo lah yang memberikan dana cukup besar untuk merampungkan masjid kebanggaan kampung itu. Sehingga seluruh warga memujinya. Sejak saat itulah orang yang sudah dua kali pergi ke tanah suci ini menjadi haus akan pujian.

Haji Makmur saling pandang dengan dua orang di sampingnya. Si bapak berkumis tebal tersenyum tipis. Lalu ia berujar, “Kan tak ada salahnya, toh, Pak, kita membalas kebaikannya dengan mendoakannya.”

“Kalau terus di puji-puji, nanti dia akan sombong,” Haji Karmo masih tak terima. “Lagian belum tentu juga duit yang ia pakai untuk membeli karpet itu dari duit yang halal. Bisa sajakan duit dari mencuri atau korupsi.”

“Jangan ber-suuzhon, Pak,” potong Haji Makmur, “Biarlah Allah yang membalas kebaikannya.”

Haji Karmo masih ingin menyahut, namun terhenti ketika mendengar suara bedug yang dipukul oleh marbot. Menandakan waktu zuhur telah sampai. Namun, bukannya mengambil air wudhu, Haji Karmo memutar tubuhnya untuk pulang.

Lho... tak shalat zuhur berjamaah, Pak?” tanya Haji Makmur

“Saya tak mau shalat di masjid ini lagi, kalau masih memakai karpet yang tak jelas dari mana dan siapa.” Sahut Haji Karmo ketus. Ia mempercepat langkahnya meninggalkan halaman masjid.

Haji Makmur menarik napas dalam sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Haji Karmo.

***

Dua hari sejak kejadian itu, Haji Karmo semakin gelisah. Ia uring-uringan dan marah-marah tak karuan. Semua pegawai yang bekerja di rumahnya merasa heran. Ada apa dengan Haji Karmo?

Orang-orang masih membicarakan si pemberi karpet misterius itu. Memuji-mujinya, bahkan ada yang bilang, orang itu lebih baik dari Haji Karmo. Sehingga Haji Karmo semakin tak tenang.

“Bukannya bagus toh, Pak, ada yang memberi masjid itu karpet baru. Jadi kita tak perlu keluar duit untuk membelikannya,” kata Hajjah Sarminah, istrinya, melihat kegelisahan suaminya.

“Kalau masalah itu, bapak juga setuju, Bu. Tapi bapak tidak senang orang-orang terus memuji-mujinya. Seharusnya kan bapak yang dipuji-puji sebagai donator terbesar masjid itu.”

“Ya cari tahu siapa orangnya, Pak. Jadi kita tahu, apakah dia lebih kaya dari kita atau sebaliknya.” Hajah Sarminah memberi usul.

Haji Karmo menimbang-nimbang sesaat, sambil menghirup teh hangatnya. Apa yang dikatakan istriku benar juga, batinnya. Lalu, Haji Karmo memanggil Udin, tukang kebun rumahnya, untuk mencari tahu siapa pemberi karpet itu.

***

Halaman: 1 | 2 |