Dialog Enam Malam (Part 3)
26 Jan 2012 | Rubrik: Cerbung - Dibaca: 1385 kali
Fitri – Ia
“Aku bisa melihat dari matamu. Kau mulai mencintai Fikri, kan?” Tiba-tiba ia menyapa Fitri.
“Mengapa kau datang tanpa memberitahuku?”
“Kau mengalihkan pertanyaanku. Kau mulai mencintainya, eh?”
“Bagaimana kau bisa tahu?” Fitri berdalih.
“Dari caramu menatap Fikri pergi.”
“Benarkah?” Suaranya melembut, seperti tidak yakin dengan perasaannya sendiri.
“Ya, kau menatapnya terus saat ia pergi darimu, hingga bahunya tak lagi nampak di pelupuk matamu. Kau berpura-pura tidak peduli saat ia pergi. Namun kau selalu dengan cemas menanti saat sore menjelang, berharap ia akan segera datang. Akuilah. Kau mencintainya.”
“Tidak bisa.”
“Mengapa tidak bisa?”
“Bagaimana denganmu?”
“Aku? Aku katamu? Jangan kau pungkiri. Sudah berapa malam kau tidak menemuiku? Aku tahu, kini kau lebih memilih menghabiskan malammu di kamar, berpura-pura membaca buku, sambil berharap bahwa Fikri akan mengajakmu berbicara lebih lama.”
Fitri tertunduk malu. Bagaimana mungkin sikapnya terbaca?
“Entahlah…”
“Kau belum mengatakan apa-apa pada Fikri. Kau tidak pernah mengutarakan perasaanmu padanya. Kau bahkan belum membiarkan ia menyentuhmu. Ini sudah hampir tiga bulan kau hidup bersamanya, Fit. Namun lihat, sudah berapa kali ia mengatakan bahwa ia sangat-sangat mencintaimu. Ia tetap setia membawamu kemanapun kau mau. Ia bertanggung jawab atas semua kebutuhanmu. Jika ia ada disampingmu, ia tidak akan membiarkan kamu melakukan hal-hal kecil ini sendiri. Mengantarmu ke kamar mandi, mengambilkan pakaian untukmu, mengambilkan makanan, dan lain sebagainya. Lihatlah betapa sabarnya ia menunggu, hingga kau mau untuk benar-benar disentuhnya. Fit, ingat... suamimu juga manusia. Fikri juga laki-laki biasa. Kau tak bisa selamanya seperti ini memperlakukan ia.”
“Cukup, cukup.”
“Kenapa? Kau masih mau menagih janji padaku untuk memutar waktu?”
“Bukan, bukan itu yang kumaksud. Kau membuatku terlihat seperti manusia tak tahu diri.” Fitri hampir menyerah.
“Akhirnya kau mengerti maksudku. Pesanku hanya satu, Fit. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari. Lihatlah ketulusannya. Ia seperti bintang. Tak pernah menyerah.”
“Bukankah itu artinya ia sepertimu?”
“Tanyakan itu pada hati nuranimu, Fitri. Kau yang tahu.”
Tiba-tiba saja, lantunan tilawah suaminya saat menjadi imam sholat maghrib, terasa sangat menusuk hati Fitri. Dalam hati, ia terisak kembali.
Malam ketiga – Wajah rindu
Fitri
Pukul 03.56, aku terjaga. Keringat basah membanjiri tubuhku. Kontras sekali dengan udara sejuk dari AC yang menyala. Aku terdiam sejenak, berusaha memejamkan mata kembali. Rasanya seperti mimpi. Samar-samar dalam ingatanku, aku melihat wajah seorang lelaki. Wajah yang sangat kukenal. Namun anehnya, bukan wajah Fikri yang kini masih terlelap di sampingku. Wajah itu, wajah yang sempat menjadi harapanku selama berhari-hari beberapa bulan yang lalu. Wajah lelaki yang dulu hampir sempat aku cintai dan kemudian memutuskan untuk meninggalkanku. Wajah Azmi. Aku menutup muka dengan telapak tanganku. Mengapa wajah itu lagi yang muncul? Ini sudah kesekian kalinya wajah itu hadir dalam mimpiku. Ada apa denganku, Allah?
10 Komentar :
cuma 1 halaman ya??? beberapa kali ku reload kok cuma 1 halaman?? *gk puas niii....!!! :)
subhanallah...sendu sekali suasananya, tapi sangat bahagia...huhuhu...terharuuu...
so sweet banget dah...
:'(
wah bagus ceritanya,,,,,,, menarik bgd...
LUar biasa klo islami bgd nih... I LIKE it
ku terharu banget dgn kisahnya, jadi penasaran ni dgn kelanjutan ceritanya, cinta yg sempurna...
Subhanallah...
masih adakah laki-laki nyata dengan cinta yang besar seperti fikri.
alur cerita yang berjalan lambat tapi pasti
di tunggu part 4 nya yaahhh
Isi Komentar :







