Kamis, 23 Februari 2012 / 30 Rabiul Awwal 1433 H
Login | Register

    Share

Buku Pramudya, dan Mengapa Aku Menulis

25 Jan 2012 | Rubrik: Dapur Penulis - Dibaca: 585 kali

Oleh: Arif Saifudin Yudistira*)


Kesukaanku pada buku sebenarnya bermula ketika masa kecilku, Ayah sering membelikan majalah “Bobo”. Dengan ilustrasi dan gambar-gambar yang ada dan cukup berkesan, aku mulai menyentuh dan menemui buku. Berlanjut ketika sekolah di TK, SD hingga ke jenjang selanjutnya, aku paling suka kalau Ayah mendongeng. Kisahnya selalu menarik bagiku. Atau kebiasaan Ayah nembang Jawa yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang di kepalaku. Dalam lagunya “Semut Ireng”, aku pernah bertanya, “Kebo Bongkang itu yang seperti apa?”. Maka seketika Ayah kebingungan dan sulit menjawab pertanyaanku. Itulah sekilas memori yang aku simpan di masa kecilku.

Di masa SMA, aku menyentuh dan berkenalan dengan majalah Horizon. Di sana aku mulai mengenal tulisan sastrawi yang berupa cerpen, puisi hingga liputan tentang sastra di SMA-SMA. Aku mulai menyukai puisi. Dan puisi yang berkesan di waktu itu adalah puisi Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul: KAKAWIN. Sejak saat itu, puisi jadi akrab hingga aku kelas dua SMA.

Di bangku kuliah, kakak-kakak angkatanku mengenalkanku dengan buku, dari buku itulah aku tanpa sadar dikenalkan berbagai hal. Buku yang dianjurkan waktu itu adalah MADILOG. Semester pertama aku menggauli Madilog hingga khatam, karena tuntutan debat dan diskusi. Sejak itu, aku mulai belajar membaca buku dengan sedikit penghayatan dan pengilhaman. Madilog meskipun awalnya agak susah, ia memberikan gambaran sosok Tan Malaka dengan segala petualangan hidupnya dan berbagai kebijaksanaan dan pelajaran berharga dari kemerdekaan.

“Jika kamu menginginkan kemerdekaan suatu kaum, maka ia harus merelakan kemerdekaannya sendiri”, “Revolusi itu mencipta!”. Beberapa kalimat dalam buku itulah yang menginspirasiku untuk berbuat meski tak banyak. Setelah itu, aku mulai mengenali buku-buku bacaan umum atau yang sering orang katakan dengan buku “berat”. Buku-buku agama, pendidikan, hingga buku-buku terbitan Resist, aku baca. Ada perasaan geli, tertawa, tersenyum, hingga perasaan miris ketika membaca terbitan Resist. Aku seperti diajak menertawakan hidup bersama Eko Prasetyo, penulis buku Orang Miskin Dilarang Sekolah dan Guru Mendidik Itu Melawan!.

Ketika beranjak beberapa tahun, perkenalanku dengan buku sastra mulai bermula. Di saat itu, aku tak mengenal apa itu sastra, bahkan membenci sastra. Aku membaca novel yang meyentuh dan berpengaruh dalam hidupku: “BUMI MANUSIA”. Dari situlah aku mulai menyukai novel-novel --> -->. Sampai aku menemukan kuartet Pulau Buru dan menghabiskannya. Di sana aku tak hanya bertemu kisah, tapi juga pengalaman, hingga bagaimana potret kehidupan ada di sana. Dan yang cukup berkesan adalah bagaimana tulisan itu muncul dan perlu dimunculkan. “Pelajar adalah orang yang adil, baik dalam pikiran maupun perbuatan”. Kemudian pertanyaan Kartini dalam buku itu: “Tahu mengapa kau kucintai lebih dari siapapun?, karena engkau menulis, menulis adalah kerja untuk keabadian”. Dari sanalah aku kemudian menulis. Menulis bagiku waktu itu adalah untuk memberikan sesuatu yang paling bermanfaat bagi orang lain meskipun baru sekadar ide saja. Maka sejak saat itu pula, lahirlah tulisan pertamaku yang dimuat di SOLO POS. Sekitar tahun 2007. Waktu itu di rubrik Curhat, tulisan itu pula yang menjadi kenang-kenangaku, bertajuk “Demo, Mengapa Tidak”. Di saat itulah, aku mulai jatuh cinta untuk menulis hingga saat ini dan entah sampai kapan.

--> -->Bersama PAWON di tahun-tahun , membaca sastra jadi tak begitu berat. Dengan buletin mungil itu pula aku mulai mengikuti diskusi-diskusi sastra hingga mengoleksi buku-buku sastra dari puisi, cerpen, dan novel.

Nah, novel yang --> --> adalah novel PUTU WIJAYA. Dari sana saya menyukai gaya bertuturnya yang menghanyutkan dan mengajak pembaca ikut dalam novel tersebut. Maka tiap membaca novelnya, tak terasa berkucuran air mataku. Bersamaan dengan itu pula, di tahun ke depan kuharus mengucurkan air mata ketika melihat buku-buku koleksiku dicuri orang, dan kembali ke toko buku tempat biasa membeli buku, yakni di Gladag. Buku yang biasa kuperoleh dari berjualan rambak yang hanya memperoleh 30 ribu per minggu, harus lenyap dan kembali di depan mataku, tapi aku tak bisa memilikinya. Sejak saat itulah, buku adalah seperti nafas yang tak bisa kulepaskan begitu saja.

Pramudya dan Menulis

Di kuartet Pulau Buru, dari Bumi Manusia hingga Rumah Kaca, aku menemui kisah Tirto Adi Suryo yang bergiat dengan pers, tulis-menulis hingga ia mengakhiri dan mengisahkan hidupnya dengan tragis. Ia bertekun belajar, hidup, hingga bergerak menggunakan tulisan, sampai-sampai ia dipenjara dan diasingkan dari para pembacanya, sahabat-sahabatnya, dan mati dalam kesendirian. Di saat itulah kusadari, menulis itu menyiksa, dan tak mudah. Dengan penjara sebagai risikonya, tapi efek yang ditimbulkan begitu berharganya, dan begitu luar biasanya. Menulis itu untuk pencerahan, menulis itu adalah lampu penerang yang membawa kegelapan pada jalan kemenangan. Itulah yang disadari Ttirto Adi Suryo dan juga Kartini. Setelah tulisanku yang pertama itulah aku merasa lega, hingga tulisan-tulisan --> --> menyusul di koran-koran lokal, regional hingga majalah-majalah nasional. Di saat-saat --> -->, aku mengenal buku-buku biografi tokoh-tokoh nasional kita dan karya-karyanya, Tan Malaka, Sukarno, Hatta, hingga Syahrir. Buku memoir Di Bawah Bendera Revolusi hingga buku pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah beberapa buku yang kubaca.

Dari Pramudya, aku kemudian mengerti bahwa tulisan itu tidak dilahirkan tanpa terlepas dari pengarangnya. Pramudya menuliskan kuartet Pulau Buru dan tulisan-tulisan lainnya, ditekuni dengan kerja pribadinya yang luar biasa. Ia mengumpulkan buku-buku bacaan dia dan kliping-kliping koran lengkap, yang konon menjadi pertama terbesar di Indonesia setelah HB Yassin, yang dibakar orde baru. Di situlah saya menemukan, tulisan adalah perlawanan terakhir tapi bukan tidak efektif. Tapi justru dari menulis di penjara itulah, ia bisa melahirkan karya, komunikasi dengan dunia luar penjara dan menghasilkan kerja kebudayaan. Bahkan, Halim Hade pernah menyebut: “Sastra kita saat ini belum ada yang bisa menandingi Pramudya”. Pram menulis hidupnya dengan berdarah-darah dan dengan nasib tak seberuntung Hatta dan lain-lain. Dari Pram itu pula, saya belajar menulis dan arti sebuah tulisan. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, maka ia ibarat anjing yang bodoh”. Pram tak hanya bercerita tentang Tirto dan tulisan, tapi ia juga melakoni menulis hampir-hampir seperti mengatakan: “hidupku untuk menulis”. Bahkan ia mengatakan: “Saya sudah seperti kuli tinta”. Kegemaran membaca buku dan menulis itu sampai saat ini kutekuni, semua bermula dari pengalaman membaca buku Pramudya. Sebab di sana kutemukan arti tulisan, kepenulisan dan mengerti bagaimana dan sejauh mana tulisan itu berarti dalam perjalanan sebuah perubahan.

Buku Puisi dan Kegemaran Membuat Puisi

Setelah SMA menekuni puisi, aku membuka-buka website tentang penyair Indonesia. Bertemulah aku dengan puisi Joko Pinurbo yang berjudul Celana. Meski dalam web, dari situ aku mulai suka puisi, dan mencoba mengenal lebih jauh apa itu puisi dan mencoba membuat puisi. Akhirnya, kuperoleh buku puisi Jokpin “DI BAWAH KIBARAN SARUNG”. Kemudian buku puisi --> --> adalah buku puisi Afrizal Malna.

Awalnya aku mengenal penyair unik ini dari puisi-puisinya yang kubaca dari internet, dan akhirnya aku pun berkesempatan bertemu dengannya. Pertemuan di balai Sujatmoko, mengenalkanku siapa itu Afrizal, puisinya, hingga cara dia menuliskan puisinya dan menganggap bahasa adalah penjara. “Kita dibaca bahasa, atau kita membaca bahasa”, begitulah awlanya dia berujar dan berkelakar. Dengan lagak seperti mengetahui, aku mencoba menuliskannya di majalah nasional dan diterima dengan judul “Menarik Benang Merah Sex dan Politik”. Sejak saat itu pula, aku akan segera berangkat ketika ada diskusi puisi tentang Afrizal ataupun diskusi lain yang menghadirkannya. Dan di pertemuan di Taman budaya Surakarta, aku berkesempatan membeli dua buku Afrizal yang bertajuk “Arsitektur Hujan” dan “Abad yang Berlari”. Kemudian, dari sana aku mulai membuat puisi. Aku suka menulis puisi karena kupikir puisi adalah medium termudah dan termurah untuk menyampaikan gagasan dan ide kita, ketika tak sanggup dibahasakan melalui bentuk lain seperti esai, dan lain sebagainya. Salah satu puisi yang bercerita tentang Afrizal, pun pernah kutulis sebagai wujud kegilaanku bertemu Afrizal Malna: Perjalanan Panjang.


Sejak saat itu pula, kegemaran menulis puisi-ku kemudian diasah bersama komunitas pengajian puisi yang hadir tiap jumat pagi di UMS. Dari situ aku tak hanya belajar bagaimana puisiku estetis, tapi juga bermakna dan berkesan. Dan kemudian, puisiku berhasil dimuat di harian Joglosemar. Kemudian, kesenangan belajar membuat puisiku berlanjut sampai saat ini. Dan kuberharap, di tahun ini, buku puisiku bisa terbit.


Buku, Aku dan Hidupku


Bersama ini aku ingin mengakhiri tulisanku dengan mengutip Sndhunata: “Membaca buku adalah proses kreatif dan aktif, pembaca ditantang apa yang sebenarnya tak pernah selesai dalam buku yang dibaca. Bahkan ia diminta untuk mengarang, dan menciptakan kisahnya sendiri atas kisah yang dituturkan oleh buku kita yang dibaca (Sindhunata,04).

Maka membaca buku bagiku adalah pekerjaan yang seringkali tak pernah selesai. Sebab di sana aku mesti bertemu dengan buku-buku yang lain, hingga berbagai peristiwa yang mengundangku untuk menulis, baik esai maupun puisi. Aku meyakini, kecintaan terhadap buku ini tak mungkin sia-sia dan berbuah suatu hari nanti. Entah berupa berkah ilmu pengetahuan, rejeki hingga jodoh dan lain-lain. Dan tak kalah penting yakni bisa berbagi dengan tulisan dan ilmu yang kita miliki. Membaca buku sudah seperti kelazimanku sebagai manusia.

Sebab aku meyakini tanpa membaca buku, kita akan menjadi buta, atau bahkan seperti yang dikatakan Remy Sylado: kita gagal jadi manusia, dan berhasil jadi hewan. “Meminjam kata San Min Chu I bahwa buku tidak dikenal di dunia hewan. Oleh sebab itu, manusia yang tak mau mengurusi buku, mengenal buku, bahkan tidak mau membaca buku, tak jauh beda dengan manusia yang mengambil inisiatif menjadikan dirinya sebagai hewan. (Remy Sylado)


ARIF SAIFUDIN YUDISTIRA. Lahir 30 juni 1988, bermukim di Klaten. Masih menyelesaikan studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta, mengambil jurusan FKIP bahasa inggris UMS . Selain menulis puisi, penulis juga aktif menulis esai. Esai dan puisinya tersebar di beberapa media massa seperti Radar Surabaya, Suara Merdeka, Harian Joglosemar, Solo Pos, Media Indonesia, Lampung Post, Majalah Bhinneka, Majalah Papyrus, Bulletin Sastra Pawon, Koran opini.com, Gema nurani-com, dan lain-lain. Aktif di kegiatan sastra Komunitas Sastra Pawon Solo dan Pengajian Jumat Petang. Di sanalah penulis belajar tentang sastra dan dunia kepenulisan. Dalam dunia kemahasiswaan, sempat menduduki posisi ketua di beberapa lembaga IMM bidang SOSMI, LITBANG PERS FIGUR UMS, Dan KETUA DPM UMS. Selain di bangku kuliah, penulis aktif sebagai presidium Kawah Institute Indonesia dan Bilik Literasi Solo

Artikel Sebelumnya :

2 Komentar :
2012-01-31 21:21:43 WIB

arif saifudin

Terimakasih nida dah muat tulisanku....semoga bisa berbagi dan mengispirasi sahabat nida buat menulis

2012-02-05 09:54:13 WIB

fahmi ulumuddin

mencerahkan
saya mengetahui banyak judul buku dan kahirnya memiliki dan membecanya justru dari tulisan-tulisan seperti ini,
terima kasih


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)