Kamis, 23 Februari 2012 / 30 Rabiul Awwal 1433 H
Login | Register

    Share

Menangisi Nurani

24 Jan 2012 | Rubrik: Sapa Nida - Dibaca: 786 kali

Assalamualaikum wr wb.

 

 

Bahkan manusia itu mampu melihat diri sendiri (menjadi saksi atas dirinya sendiri), meskipun dia masih mengemukakan alasan-alasannya.” (Q.S. Al-Qiyamah (75) ayat 14-15)

 

Sobat Nida, pernah melakukan kesalahan tapi kemudian mencoba menutupi kesalahan tersebut dengan berbagai argumen dan alasan pembenaran?

 

Misalnya, punya utang sama teman, tapi karena waktunya sudah lama... teman itu pun tidak menagih tiap bertemu, kita pun tidak berani membicarakan karena memang belum bisa melunasi, yaa sudah akhirnya kita anggap dia tidak perlu uang tersebut atau barangkali dia sudah mengikhlaskan. Kita coba bikin alasan pembenaran:

 

“Aah... uang jumlah sedikit gitu sih kayaknya dia gak perlu! Buktinya, gak pernah ditagih tuuh...”

 

Anehnya, entah kenapa... terasa ada yang mengganjal dan rasa tidak nyaman yang tidak bisa dikontrol, rasanya ada yang salah...

 

Demikian juga ketika kita ber-sms mesra sama lawan jenis yang belum “halal”, rasanya sih berbunga-bunga dan seneng banget, tapi tetap saja ada perasaan aneh, rasa “takut salah”, “buang waktu”, “zina hati”, “malu kalau ketahuan orang”.

 

Perasaan nggak enak itu biasa kita tutupi dengan setumpuk argumen, “Gue nggak ngapa-ngapain kok, cuma ngobrol doang, saling nyemangatin ibadah, curhat biasa aja, yaa namanya juga anak muda!”

 

Tapi, pliis... jangan acuhkan perasaan “terusik” seperti itu Sob! Karena boleh jadi itu adalah bisikan nurani. Kalau keterusan dicuekin malah bisa menumpulkan kepekaan nurani kita. Untuk hal yang kecil kita sudah tidak peka, lama-lama untuk hal besar pun kita sama sekali tidak bisa mendengar kata nurani, meskipun sebenarnya nurani kita telah berteriak, tidak lagi sekedar berbisik.

 

Contoh teranyar saat ini adalah peristiwa tabrak maut Tugu Tani yang menewaskan 9 nyawa. Pelaku yang disinyalir mengendarai mobil dengan kecepatan 100 km/jam dalam keadaan mabuk itu boleh saja mengemukakan berbagai alasan untuk membela dirinya, entah itu karena rem mobil blong, sedang nge-fly, ini adalah takdir, dan ribuan alasan lainnya, akan tetapi... jika ia menyadari, sesungguhnya tidak ada yang ia “lawan” melainkan nuraninya sendiri.

 

Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS an-Nuur 24)

 

Di pengadilan Allah kelak, yang menjadi terdakwa adalah diri kita, saksinya adalah anggota tubuh kita, maka... apakah kita begitu bodoh sampai berusaha mati-matian membohongi diri sendiri bahwa apa yang kita lakukan tidak salah?

 

Sungguh menyedihkan dan patut ditangisi orang-orang yang buta, tuli, dan bisu! Mereka tidak bisa mendengarkan kata nurani, tidak dapat melihat dan mengatakan (mengakui) kebenaran. Untungnya, Allah tidak memerintahkan kita untuk menangisi orang-orang yang mengkhianati nuraninya Sob, karena kalau demikian, pasti Indonesia banjir air mata!

 

Bagaimana tidak? Pengkhianatan nurani saat ini sudah menjadi sistem di mana-mana Sob! Nurani sudah kalah laku dari duit...

 

Contoh terdekat, masih berkenaan dengan kasus Tabrakan Maut di Tugu Tani, rupanya pihak Rumah Sakit meminta biaya pemulangan jenazah korban tabrak maut kepada keluarganya sebesar 7,5 juta Rupiah. Masya Allah! Bayangkan kalau yang tewas ditabrak adalah keluarga kita sendiri, sudahlah pulang tanpa nyawa, jenazahnya masih harus ditebus jutaan Rupiah! Di mana nurani?

 

Satu lagi, pencurian sandal jepit yang dilakukan seorang pelajar di negara kita tercinta ini sempat mendapat ancaman hukuman 5 tahun, rupanya tidak beda jauh dengan ancaman bagi kelalaian yang menyebabkan tewasnya 9 orang yang maksimal mencapai 6 tahun dengan denda 12 juta Rupiah. Astaghfirullah...

 

Sobat Nida, jangan sampai kita menjadi salah satu orang yang terbiasa menafikan kata nurani! Semoga Allah memberikan kita kesadaran untuk dapat melihat, mendengar, dan mengatakan kebenaran yang sesuai dengan hati nurani...

 

Wassalam


*gambar: Google 

Artikel Sebelumnya :

3 Komentar :
2012-01-24 16:56:12 WIB

Devisa

setuju banget, nid.. pokoknya ngelus dada mulu dah kalo bahas keadilan di indonesia..

2012-01-24 19:47:52 WIB

sutarti

astagfirullah,makasih nid.jd bisa bercermin diri nieh baca tiap paragraf tulisan diatas

2012-01-24 21:11:47 WIB

Ahmad Tarnuzi

Geram..! tangan ini sudah mengepal sejak dulu melihat nurani yang sudah tak penting lagi.


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)