Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

Merindu Umar

20 Jan 2012 | Rubrik: Cerpen - Dibaca: 3605 kali

Penulis: Agung Dodo Iswanto

Panggil aku Umar.

       Aku seorang muslim... KTP! Hahaha, aku tak sedang bercanda atau melawak. Aku hanya orang biasa saja, bahkan tak jelas alasan atau arti dari ‘Umar’, nama pemberian ibu dan bapakku ini. Sampai suatu ketika aku baru mengetahui bahwa Umar adalah sebuah nama yang agung.

      Aku menyukai film kolosal, game-game perang dan sedikit tawuran (?). yang terakhir lebih baik jangan ditiru ya! Lalu apa hubungannya dengan Umar?

Semua orang islam tahu Nabi Muhammad, tapi tidak semua tahu tentang Umar. Aku juga awalnya tidak tahu siapa itu Umar? Ketika sorang teman membawa buku 100 tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah karangan Michael H. Hart, aku langsung tertarik. Tapi bukan Rasulullah yang ditempatkan di urutan pertama yang membuatku tertarik. Kenapa? Kan sudah kubilang aku ini muslim... KTP, he!

Justru seseorang yang berada di belakang angka 51, Umar bin Khatab. Bukan karena dia salah satu sahabat dekat rasul, awalnya aku malah ngeblank sama sekali. Karena namanya saja yang sama denganku, Umar, makanya aku tertarik membaca biografinya.

Dan setelah membaca profil Umar, aku semakin tertarik dengan Umar. Karena bagiku Umar benar-benar aku banget, hahaha. Bahasa apaan tuh ya, aku banget? Tak perlu dipermasalahkan soalnya aku juga tak mengerti apa yang kukatakan. Umar seperti cermin diriku 14 abad yang lalu. Dia berwatak keras, dan komitmennya tak bisa diganggu gugat, pembeda antara hak dan batil. Cie, aku banget lah pokoknya. Hahaha!

Dan yang paling aku sukai dari Umar yang dikatakan buku itu adalah Umarlah yang mengawali penyebaran islam ke seluruh dunia. Menaklukan jazirah Arab sampai ke Afrika Utara dan Spanyol sampai ke perbatasan Perancis.

Sumpah deh, keren banget tuh orang ya? Gila, luar biasa deh pokoknya Umar bin Khatab.

Makanya ketika pelajaran BK dengan semangat percaya diri kuberbicara di depan kelas tentang impianku.

“Aku ingin menjadi Khalifah seperti Umar bin Khatab!”

“Hahaha!” Anehnya ada seorang siswa yang tertawa.

Padahal aku tidak sedang ngomik di panggung stand up comedy. Jadi bukan hanya aku, seluruh mata siswa dan Bu guru BK di kelas memandang siswa paling pintar juga ketua Rohis dan pastinya siswa yang paling kubenci, Ayyas.

“Jangan mimpi kamu Mar, zaman kekhilafahan islam sudah berakhir semenjak terbunuhnya Ali bin Abi Thalib. Dan zaman kesultanan islam juga sudah runtuh tahun 1924 di Turki. Umat islam sekarang sudah terpecah lebih dari 50 negara. Jadi udah tidak ada khalifah sekarang!” Jelas Ayyas panjang lebar. Jujur aku tak paham sama sekali dengan semua yang dia katakan. Kekhilafahan, kesultanan, maksudnya?

Aku geleng-geleng kepala, dan melihat Bu Ani guru BK yang sangat agamis dengan jilbab lebarnya.

“Khalifah bukan selalu berarti pemimpin dari kekhilafahan islam, tapi bisa juga dimaknai pemimpin bagi diri sendiri. Masing-masing diri adalah khalifah bagi dirinya sendiri. Dan bukanlah Allah menjadikan kita manusia sebagai khalifah di bumi?” kata Bu Ani.

“Maksudku bukan khalifah bagi diri sendiri, Bu Ani. Tapi aku benar-benar ingin seperti Khalifah Umar bin Khatab yang melakukan serangkaian penaklukan dan menyebarkan islam ke seluruh dunia!” ucapku penuh semangat. Bu Ani hanya tersenyum, dan tawa tak diundang kembali hadir.

“Ah, hahaha! Kan sudah kubilang Mar, kekhilafahan itu sudah musnah, tidak ada. Kalau mimpi jangan ketinggian, jangan bermimpi hal-hal yang utopis deh.”

Aku tersentak, mulutku tercekat. Utopis? Utopia, benarkah bermimpi menjadi seorang khalifah itu tak mungkin dan tak rasional. Memang benar dalam hal agama dan pengetahuan islam aku kalah jauh sama siswa yang dua kali melempar tawa aneh padaku. Tapi benarkah ini impian yang mustahil? Impossible dream? Tak adakah seorang anak muda di dunia ini yang lebih kuat, tegas, pintar pokoknya lebih segalanya dariku memimpikan hal yang sama denganku? Dan apakah dia tetap menganggap impiannya itu hal yang mustahil?

“Utopia” dan “Utopis” setiap waktu muncul bergantian di dalam kepalaku. Kegemaranku untuk menonton film kolosal dan bermain game perang jadi menurun. Apakah ada hubungannya antara pikiran galau dapat menimbulkan penurunan kecanduan main game? Sekali lagi aku tak tahu.

“Kamu kenapa Mar? Kok lesu banget kelihatannya, dari tadi main kalah mulu nanti levelmu turun loh!” kata Dafa teman segameku.

Awalnya aku tak menganggap kata-katanya, tapi semakin lama melihat layar TV 28 inch ini semakin membuatku muak. “Udahan dulu ah, Dafa. Hari ini aku lagi malas banget nih!” kusimpan joystick yang sudah sangat akrab dengan kedua tanganku dan pergi dari rental playstation.

“Masih sejam lagi loh Mar, beneran mau udahan aja?”

“Ya udah. Kamu lanjutin aja deh sendiri. Biar biaya rentalnya aku yang bayar.” Aku tak berhasrat mendengar ocehan Dafa. Setelah membayar aku keluar rental tanpa arah.

Lalu aku langsung duduk sejenak di warung sebelah rental PS untuk menghisap sebatang rokok kretek ditemani dengan minuman energi botolan.

“Hah, aku mau ngapian ya sebenarnya? Dua hal yang paling membuatku senang nonton film dan main game sekarang keduanya jadi begitu membosankan. Duh aku mau ngapain ya? Untuk apa sih aku hidup? Dan bahkan semut kecil sekalipun punya arti di dunia ini. Lalu aku hidup buat apa dan punya makna apa ya?”

Aku ngoceh sendirian dalam hati. Merasakan sesaknya kegalauan dalam dada. *Dah kayak penyair aja nih.

Setelah 4 batang rokok habis dan tak ada lagi air yang keluar dari botol aku tinggalkan warung dan bergegas pergi.

Seumur hidup aku tak pernah merasa secomplicated ini. Aku sekarang berdiri menghadap sebuah bangunan besar tiga lantai dengan warna krem dominan yang di pintu depannya ada tulisan besar-besar dan jelas sekali, Perpustakaan Daerah.

Please, jangan tertawakan aku, aku tak sedang melucu. Memang sih tak ada dari sananya gamer sejati sama maniak film bisa masuk ke perpustakaan. Masuknya aja udah aneh, apalagi buku-buku yang hendak kubaca ini. Apa? Baca buku? Iya yah, sumpah deh aku juga merasa aneh tapi kalau tidak begini aku bakalan makin penasaran dan rasa ngantuk bin malas melakukan apapun tak bisa hilang.

“Kalau mau baca-baca buku tentang sejarah dunia dan islam belah mana ya Pak?”

Bapak penjaga perpustakaan kaget walau tak sepatah katapun keluar dari mulutnya lalu menunjuk sebuah lorong dengan rak penuh jajaran buku-buku tebal.

“Kok ada ya anak SMA dengan gaya super tidak banget dan tidak mirip kutu buku nanyain dimana letak buku sejarah dunia?” mungkin begitu pikir Bapak penjaga perpustakaan.

Yang mengunjungi perpustakaan sedikit sekali dan masih bisa dihitung dengan jari tangan. Padahal gedung ini jelas beberapa kali lebih besar dari tempat rental PS yang biasa jadi tempat kunjunganku sehari-hari. Tapi pengunjung perpustakaan tak lebih tuh dari setengah pengunjung rental PS sempit itu. Mana ini tempat kelasnya udah daerah lagi sedangkan rental PS itu hampir tiap RW ada coba? *Apa kata dunia?

Aku yang anak bergajul aja bisa ikut sedih lihat kenyataan miris ini, ya sedih karena ikut mikir. Mikirin kalau orang pintar (dukun kali), maksudnya cendikiawan di negeri ini sedikit maka negeri ini tidak akan maju-maju. Dan kalau negeri ini tidak maju aku yang bergajul ini tidak akan pernah bisa ngerasain naik trem, subway atau nonton piala dunia langsung di stadion internasional di negeri ini. Hah, sudahan ah mikir ngalor ngidul tidak jelas tentang dunia pendidikan.

Halaman: 1 | 2 |

Artikel Sebelumnya :

23 Komentar :
2012-01-20 11:21:10 WIB

KOMENTAR

komntar... cerpennya sedikit aneh....
aku kurang suka sih. Entah kenapa pemaparannya tuh kurang greget. mngkin mau terkesan ngocol tpi gak lucu....
dan mirip sekali dgn cerpen yg udah pernah ku baca. namun dia bukan ngefans umar, melainkan seorang pejuang yg ditertawai guru dan murid2nya..

2012-01-20 11:30:25 WIB

haeriah

Keren deh cerpennya. Akupun sangat kagum dengan sosok 2 Umar yg mulia itu, Umar Bin Khattab serta Umar Bin abdul Aziz..

2012-01-20 11:43:20 WIB

rahma

EYD ada yang kacau di sana sini. Tapi ceritanya menarik. Jadi ikutan ngrembes nih mataku. d^_^

2012-01-20 12:18:09 WIB

hihi

cukup bagus...^_^

2012-01-20 12:20:28 WIB

mm

yg dibutuhkan saat ini justru seorang khalifah tuk membasmi si presiden yg tak bisa diharapkan...
Q ddengar papu akan dijadikan daerah /kota Injil.. kasian juga umat islam yg ada disana...

khalifah adalah tugas utama muslim. khlifah diri sendiri pastinya dan pengikutnya smpe akhir hayat..

bagus stidaknya tahu isinya siapa umar sbnarnya. wlaupun EYD krang lengkap...

2012-01-20 12:39:26 WIB

Mitha Juniar

setelah baca cerpen ini tidak ada yang tertinggal dibenakku.

2012-01-20 12:44:29 WIB

trimy

Subhanaallah...
superrr sekali.
:)

2012-01-20 12:48:01 WIB

imoeth

ceritanya menarik ^^ tapi isi cerita kurang jelas ^^

2012-01-20 12:48:06 WIB

Nhie

Subhanallah... jadi malu neehh.. sepertinya aku juga belum mengenal agamaku denga baik.. hikzzz

2012-01-20 12:50:35 WIB

indri

hah...??? nggak akan ada lagi khalifah...??? utopia...??? penulisnya perlu belajar sejarah lagi tuh... sekarang aja islam sudah menunjukkan kebangkitan... dan kekhilafahan islam itu semakin dekat kawan... yang membuat utopis itu ya kalian sendiri... lha wong tidak mau berusaha mewujudkannya ya kelihatannya cuma jauh di awang2... coba kalau kalian ikut berusaha memperjuangkannya sesungguhnya kekhilafahan islam itu sedikit lagi... g setuju pokoknya sama penulisnya... kurang belajar sejarah islam... titik...


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)