Frustasi
18 Jan 2012 | Rubrik: Cerpen - Dibaca: 3471 kali
Ia telah frustasi. Dalam benaknya tak ada harapan yang mengisi. Bahkan ia mulai tak doyan nasi. Dari hari ke hari badannya kian terkorosi. Tak tampak lagi otot-otot besi. Hanya ada wajah pasi. Oh, keadaannya pantas ditangisi.
Mulanya ia punya ambisi. Ingin menjadi seorang polisi. Berat dan tinggi badan telah memenuhi kualifikasi. Pula, tidak ia temui hambatan ketika seleksi. Berbagai tes ia lalui sepenuh dedikasi. Maka ia menaruh tinggi ekspektasi. Nyatanya ia harus tereliminasi. Gara-garanya ia tak punya suap dan koneksi.
“Ah, zaman sekarang. Tak cukup hanya mengandalkan kemampuan,” ujar seorang berargumentasi.
Kisah berevolusi. Lepas dari polisi, ia ambil jurusan akuntansi. Kuliah sambil berorganisasi. Sesekali ikut demonstrasi dan aksi. Meski keikutsertaannya hanya basa-basi. Sekedar partisipasi atau justru mengincar free konsumsi. Tak sekalipun ia ikut berurat-urat mengangkat toa berorasi. Untung saja ia tak pernah ikut terprovokasi hingga demonstrasi berujung anarkis dan melupakan esensi.
Namun begitu ia seolah tak punya risi, menebar informasi sekaligus promosi. “Bagiku demonstrasi dan aksi adalah menyampaikan aspirasi. Itulah cerminan negara demokrasi.” Begitu selalu bibirnya merepet berpamer pongah pada para mahasiswi. Lain kali ia beratraksi sebagai musisi demi menarik perhatian gadis seksi yang ditaksirnya sepenuh obsesi.
Meski tak jarang bolos kuliah dan hanya nitip absensi, empat tahun kemudian ia raih gelar akademisi. Dengan penelitian abal-abalan, ia rampungkan skripsi. Gelar Sarjana Ekonomi berhasil diraihnya dari perguruan tinggi terakreditasi. Walau ia tak menyabet cumlaude, lulus tepat waktu sudah jadi prestasi.
Lepas mengadakan berbagai selebrasi. Mengundang beberapa relasi. Ia mulai menyebar aplikasi. Tak lupa menyertakan pas foto berdasi. Hem putih dipadu jas berdasi tampak amat serasi. Fotonya sudah serupa profesional muda yang tampil di televisi. Dari situ ia berharap lamarannya dilirik direksi.
Puluhan lamaran telah ia kirimkan ke korporasi. Tak ketinggalan pula unit kecil macam koperasi. Seperti menebar sebanyak pancing di lautan, ia melamar berbagai macam posisi dan lokasi. Namun begitu, tak ada satu pun yang lolos kecuali seleksi administrasi. Ternyata tak mudah mencari kerja di era globalisasi. Jutaan lulusan sarjana lain berkompetisi demi memperebutkan satu kursi.
Kerap ia dihampiri frustasi. Seolah-olah dikejar-kejar durasi. Tertuntut ia memperatahankan reputasi. Tersudut ia pada sebuah dimensi dimana kerja menjadi satu-satunya subtansi.
Bangkit dari keputusasaan, ia beralih ke instansi-instansi. Mengirim lamaran di segala institusi. Menjalani seleksi rekruitmen yang konon tanpa diskriminasi. Alih-alih transparansi, tak ada akses untuk publikasi. Padahal ia berharap banyak bisa mengecap ranah birokrasi. Berdoa dan berusaha tersedia untuknya satu formasi namun semuanya hanya ilusi.
Hmm, lagi-lagi ia harus banyak belajar pada Valentino Rossi. Bagaimana agar ia bisa melewati lintasan panjang berlika-liku hingga menoreh prestasi. Langkahnya lagi-lagi dijagal kolusi dan koalisi. Kata pakar politik yang suka memprediksi, dua borok itu akan selalu menghiasi birokrasi. Lebih dari itu si kembar menyempurna menjadi tradisi. Sulit diberangus, dihapus apalagi diatasi. Walau katanya pemerintah sudah memberantas korupsi, nyatanya prakteknya masih mendominasi. Berbagai peraturan dibuat namun nol implementasi.
Akhirnya ia mencoba berdamai dengan situasi di era reformasi. Diperasnya otak untuk mengatur strategi dan mencari solusi. Banyak waktu diluangkan untuk bermeditasi. Ia tak mau menyerah pada kondisi. Ia tak mau ijazahnya hanya menjadi koleksi. Lebih-lebih ia tak mau ijazah yang diraihnya susah-susah jadi basi.
Demi tak menjadi pengangguran sejati, ia sebrangkan kaki bertransmigrasi. Membawa harapan baru menjejak tanah Sulawesi. Berbulan-bulan bertahan di rantau dengan menahan emosi. Mencoba sekuat tenaga beradaptasi. Kondisi lingkungan yang jauh dari modernisasi, kurangnya moda teknologi informasi, membuatnya terjepit komunikasi. Pembangunan belum terdistribusi. Ia bagai makhluk terisolasi.
Deritanya makin menjadi-jadi kala kekasihnya memberi somasi. Jika ia tak segera pulang maka akan terjadi suksesi. Berkali-kali kekasihnya memberi repetisi namun ia coba bernegosiasi. Ia tebar janji berbagai macam namun kekasihnya mengumpatnya sedang berhalusinasi. Dengan demikian berakhirlah hubungan tanpa toleransi.
Betapa sedih yang ia rasa tak bisa dideskripsi. Seolah ia berada di jurang degradasi. Berbagai guncangan hidup telah membuatnya depresi. Tubuhnya lemah bagai tak ada darah hingga butuh transfusi.
Tibalah ia merasa tak bisa bertahan lagi dan memilih permisi. Keputusan yang diambilnya mungkin tanpa kalkulasi. Ia hanya menurutkan emosi tanpa estimasi. Sebenarnya ia sendiri sangsi, dapat kembali menjalani hidup bersosialisasi. Telah malu ia pada masyarakat yang melabelinya dengan merk sarjana basi.
27 Komentar :
setelah membaca cerpen ini, tersirat sebuah kata di hati, inspirasi yang begitu berekspresi, berisi kata-kata yang penuh teka-teki, yang membuat siapapun mengacungkan jari...
Hebat sekali penulis yang satu ini. Sungguh tinggi dia punya imajinasi. Hingga aku senyum-senyum sendiri. Jika ada pembaca yang sedang frustasi dan membaca tulisan ini, pasti dia merasa geli. Sehingga keruh dihati akan luluh terobati. Cuma ada sedikit catatan kaki, pembaca akan terlena dengan kalimat-kalimat bak puisi. Sehingga yang paling berkesan adalah intonasi dan bukan isi. Tetapi aku mengerti. Terima kasih mbak Sri telah berbagi cerita yang menginspirasi. Semoga mendapat balasan Ilahi Robbi. (Mohon pembaca meng-amini….)
aku baru baca cerpen model beginian.
setiapkata selalu berkisinambungan bagaikan pantun.
reparasi , revisi, demonstrasi... kerenz... bisa bgd nih mbak Endang sri.
tapi aku juga merasakan kejenuhan karna konfliknya ya cuma di kalimat yg menjadi penikmat kalimat saja... kurang bgd percakapanny..
gpp y itu menurutku. cz aku kecape-an baca akhiran i. nya sih....
bener kata bung @ taufik whyudi
tp ttp baguslah tuk tulisan berisi spt ini.
wow..wow..prosa bersajak, membuat aku tersentak ingin aktif, menjadi penulis kreatif,menghapus gelarku sebagai pembaca pasif, menjadi seorang yang inspiratif,semoga memberi efek positif, :)
Muhammad Iqbal Ibun Kharisyanto
Waw,,,, keren. Sepuluh jempol buat penulisnya. *minjem jempol pembaca yang udah kasih komen.
Saya mau ikut2an komen dengan berprosa aja susahnya minta ampun. Ini satu cerpen. Gokil.
Salam.
Frustasi baca cerpen ini. terlalu memaksakan diri untuk berhalusinasi. hingga tak menyentuh esensi. tapi salut deh buat mbak Sri. karna tulisannya bisa di muat di sini....waaahh,,,ketularan deh..
awal sampai tengah membosankan tapi ending nya cukup ciamik.. cerpen yg unik...
Ikut-ikut baca ini cerita kaya prosa, bikin mata ana jadi berkaca-kaca, aduh senengnya bisa ikut unjuk rasa, cari-cari kata biar nggak buta wacana, eh siapa saja ayuk pada baca!!
Cerpen ini bingungi,
Sehingga Kru Annida lupa buat kartun animasi
Padahal setiap cerpen selalu ada gambar itu dan ini
tapi ini tak ada lagi
Aku pun ketularan iiiiii...
hadeuii..
Isi Komentar :




