Human Project
16 Jan 2012 | Rubrik: Cerpen - Dibaca: 2401 kali
“Ini tidak mungkin salah!” Pupil matanya yang cokelat berpendar manatap tajam sepasang pupil hitam di hadapannya. Bibirnya yang mungil terkatup rapat menahan letupan-letupan emosi. Telinganya terpasang menangkap setiap gerik tokoh yang selama ini sangat dikagumi, mengharap dukungan untuk sebuah hasil yang dua puluh menit lalu membuat debar jantungnya berdetak lebih cepat.
“Akan ada banyak lagi yang akan mengejutkan anda. Dan tentunya, penelitian ini harus diselesaikan terlebih dahulu.”
“Tapi, Tuan…”
“Tidak seharusnya ada keraguan di tempat ini. Sebagaimana tempat ini mengharapkan kepemimpinan yang penuh gairah.”
“Saya tidak akan memimpin sebuah program pembunuhan masal!”
***
Pembicaraan tadi siang bisa disebut pertengkaran pertama bagi kami. Sampai sekarang debar jantungku masih tidak beraturan, sedangkan profesor hanya berlalu dengan senyum melengkung di wajahnya yang persegi. Masih kuingat seberapa besar daya dari tangannya ketika menepuk-nepuk pundakku. Ah! Seharusnya aku tidak mempedulikan masalah itu. Ada hal lain yang harus digarisbawahi. Bagaimana bisa tempat impianku ini menjadi tempat pembuatan senjata pembunuh masal! Baru kusadari, betapa angkuhnya tempat ini. Pantas saja aku lebih dekat dengan profesor yang sejak pertama tanpa ragu membuka tangannya lebar-lebar untukku. Ini bukan hanya firasat. Ini fakta. Dan tiga jam lalu, aku menemukan buktinya! Tidak akan ada yang bisa mengingkari sebuah fakta. Aku tidak boleh terlibat dengan ini!
***
Tidak butuh waktu lama untuk merapikan semua barang pribadinya. File pengunduran diri di genggamannya, bergetar. Tanpa pertimbangan lagi, langkah kakinya bergerak menyusuri lorong putih yang panjang. Melewati banyak ruang dengan pintu baja. Sampai di sebuah pintu, langkahnya terhenti. Tangan kanannya semakin erat mencengkram amplop berwarna biru tua, sementara tangan yang lain mengepal. Mulutnya terkatup rapat. Dua suara tertangkap dengan baik di telinganya. Hatinya kembali berguncang. Lantai putih di bawahnya seperti berputar-putar. Tiba-tiba indera pendengarnya tidak menangkap suara apa pun. Dan sesosok yang sangat dikenalnya berdiri di hadapannya,
“Saisha!? Kenapa tidak langsung masuk?” Katanya. Di belakangnya, seorang pria dengan uban memenuhi kepalanya yang setengah botak, menyembul. Memicingkan matanya ke arah Saisha.
“Apa dia mendengar percakapan kita, Landon?” Kata pria di belakang profesor Landon.
“Tentu saja tidak. Dialah yang berjasa!” Suara profesor terdengar begitu membanggakan Saisha.
“Apa? Benarkah? Nona Saisha?” Pria itu menggenggam pundak Saisha yang masih diam dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan. “Ah, harusnya kita berbincang banyak, Nona, tapi saya sedang buru-buru.” Tangannya beralih ke telapak tangan kanan profesor. “Saya pergi dulu, Landon. Ah… lagi-lagi laboratorium ini akan dipimpin oleh orang muda yang berparas bagus.” Sembari membelai wajahnya yang penuh lubang. Kemudian kakinya melangkah menjauh, meninggalkan Saisha dan Landon yang mengikuti bayangan pria jangkung itu menghilang di balik tikungan.
“Beliau memimpin sebelum saya. Cerdas dan kejam.” Landon melirik Saisha yang masih diam. Kemudian matanya bertemu dengan amplop biru tua di tangan kanan asistennya. Bibirnya yang tipis melengkung menghadap hidung mancung yang runcing. Dalam sekejap amplop itu telah berpindah ke tangannya, “Hmmm… ini tidak akan terjadi, Saisha.”
“Aku terperangkap di taman impianku sendiri.” Katanya pada fikirannya sendiri. Pandangannya berbenturan dengan pintu baja yang baru saja menelan tubuh profesor Landon. Perlahan ditarik segenggam udara dari ujung hidungnya Seiring dengan masuknya oksigen di pipa-pipa pembuluh darah, fikirannya yang berkecamuk mendadak berhenti. Gejolak di jantungnya perlahan reda. Dan hawa sejuk menyerupai setitik cahaya menggelitik tepat di tengah-tengah hatinya. “Ya Allah…,” seketika alam sadarnya tersentak. “Bahkan baru sekarang aku menyebut Tuhan dalam hatiku.” Sekelebat bayangan menarik fikirannya menuju pusaran waktu, yaitu 13 tahun lalu, ketika usianya 5 tahun.
***
7 Komentar :
Membuat cerpen iru seperti ini, sederhana konflik tapi tepat sasaran. Tidak membosankan.
Pandai mencari inspirasi dari hal2 yang telah ada
Sukses buat penulis, ayo berkarya lagi
perasaan, judul ini pernah ada di Annida cetak,tapi lupa kapan he,,,he...,cerita bagus walau harus 2 kali baca baru dapat memahami maksudnya :)
Cerpen yang sangat imajinatif, tidak membosankan untuk membaca perkalimatnya, dan membuat pembaca mengebu-gebu untuk mengetahui ending-nya...siip
Isi Komentar :




