Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

Dari Ketinggian Jakarta

14 Jan 2012 | Rubrik: Cerpen - Dibaca: 2819 kali

Penulis : Rifan Nazhif

 

Aku menatap langit Jakarta yang buram dari balik jendela kaca riben. Sementara di luar sana, langit pasti terlihat terlalu terang dan kurang  bersahabat. Saat-saat seperti ini, di ruangan gedung lantai sepuluh di bilangan Sudirman, aku merasa menjadi lebih tinggi dari siapapun. Aku merasa hebat. Apalagi kenyamanan di dalam sini, nonstop menyemburkan hawa ac. Aku jadi sedikit pongah dibandingkan mereka yang berkeliaran di jalan raya berlandaskan tungkai menyusuri simbah keringat. Hmm, mereka-mereka itu, begitu kecil. Merayap hilir-mudik ibarat kendaraan yang lalu-lalang dan selalu mengumpat kemacetan.


Sejatinya tak ada yang perlu dipongahkan di sini. Hanya posisi berdiri saja yang membuatku seperti lebih bermartabat. Bukankah kata tinggi tak jarang dikonotasikan dengan kemartabatan, kemapanan? Padahal aku tak lebih dari seorang jongos. Aku harus lebih dulu hadir di kantor ketimbang siapapun. Aku harus paling buncit---merapikan seluruh isi ruangan sekaligus mengecek segala peralatan listrik apakah sudah padam atau belum---saat pulang kerja.


Aku juga yang menyimpan timbunan kesabaran menghadapi tumplek-blek sifat manusia-manusia di kantorku. Semua serba cepat. Semua seakan lebih berkuasa dari bunyi klakson. Kau tahu, maksudku mereka senang mengomel bila sekali waktu aku terlambat meletakkan minuman di meja masing-masing. Atau aku telah alpa selera beberapa orang, misal di meja si A aku letakkan segelas susu panas, padahal dia paling doyan kopi dengan sedikit coklat, sedikit es. Si B yang senang air mineral karena fobia terhadap penyakit gula darah, tiba-tiba kuhidangkan capucino dengan serutan kayu manis. Duhai, terpuaslah diri ini diomeli! Beginilah nasib jongos, di mana saja tetap sama, meskipun posisi berdirinya seperti aku, di ketinggian mencakar langit Jakarta.


Jangan bilang lagi tentang kontrakanku di bedeng pinggiran kota ini. Aku mesti bisa bermain patgulipat dengan uang dan belanja hari-hari. Aku lebih sering harus rela meminum air putih dan menikmati juadah di rumah yang tak seberapa. Tentu pula harus puas mendengar suara ketakpedulian dari orang-orang di seluruh bedeng juga di lorong depan itu.


Tak ada istilah istirahat bagi seorang pekerja gedongan seperti aku. Suara pertengkaran sering mencabuti rasa kantuk dan membuat mataku membelalak. Suara penjaja makanan kerap beradu dengan dengung anak-anak yang membeli jajanan. Juga suara cempreng anakku yang meminta uang sementara kantongku selalu dalam kondisi tanggung bulan alias bokek. Belum lagi nota-nota istri. Tentang bayaran listrik, uang sekolah, hutang-hutang di warung si ini dan si itu. Oh, ternyata kepongahan ini hanya kamuflase! Tak selamanya seorang yang berada di ketinggian bisa merasa nyaman. Bila langit-langit terlalu rendah, kita harus tertunduk-tunduk kalau tak ingin kepala benjol. Ketinggian itu lebih sering membuat kita merasakan terpaan angin kencang yang membuat tubuh doyong.


“Pak Supangat Manurung!” Entah siapa yang memanggilku dari interkom yang menempel di dinding ruangan. Tapi aku yakin itu suara Pak Subandrio. Dialah yang paling sering memanggilku, plus embe-embel marga. “Tolong ke ruangan Subandrio, Pak,” lanjutnya.


Pak Subandrio lebih muda dariku. Hampir dua belas tahun selisih umur kami. Meskipun dia karyawan yang baru sembilan bulan bekerja di sini, toh kami sudah sangat akrab. Dia peranakan Jawa-Padang. Lahir dan besar di Jogja. Kemudian pindah ke Jakarta berikut anak-istrinya. Tentu saja setelah dia benar-benar diterima sekantor denganku.


Aku selalu lekas-lekas memenuhi panggilan Pak Subandrio seperti kali ini. Kuhentikan kenikmatan berdiri di ketinggian, lalu keluar dari ruangan yang menjadi kerajaanku---semacam dapur kantor---- dan melintasi lorong yang hanya muat untuk dua orang berjalan berendengan. Ruangan paling ujung tempat Pak Subandrio dan tiga rekannya berkutat setiap hari dengan angka-angka dan uang. Pak Subandrio seorang sarjana ekonomi. Dia menempati posisi yang pas sebagai manajer keuangan.


Aku tak perlu mengetuk pintu ruangan mereka. Bagi jongos, pintu selalu terbuka lebar-lebar. Mungkin Pak Subandrio ingin dibuatkan semangkok mie kuah. Atau barangkali tiga rekan kerjanya---lebih tepat anak buahnya---ikut lapar, kemudian menuruti selera bosnya.


“Mau dimasakkan mie, Pak Subandrio?” tanyaku. Tiga rekan kerjanya entah di mana. Wajah Pak Subandrio kelihatan kusut. Tangannya seolah menggapaiku. Apakah dia sakit?


“Duduklah di situ, Pak!” Dia menunjuk kursi di depan mejanya. “Saya ingin curhat denganmu.”


“Curhat? Ah, Pak Subandrio bisa saja. Saya tak mempunyai ilmu untuk menyelesaikan masalah Bapak. Bahkan memberikan solusi saja, mungkin tak bisa. Saya hanya office boy. Saya hanya tahu bagaimana membuat mie yang sedap selangit.” Aku mencoba sedikit bercanda. Manakala melihat wajahnya yang tetap kusut, aku tak jadi melemparkan seyum setipis apapun. Aku adalah orang yang hanya bisa larut pada kondisi seseorang. Ketika dia senang, aku ikut senang. Ketika dia tertawa, kelucuan itu seolah menjalar ke jiwaku, dan aku ikut tertawa. Begitu dia bersedih seperti kali ini, sebegitu refleks, aku merasakan kesedihan yang sama.


“Mungkin ini aib, Pak. Tapi tak apa saya curhat saja kepada Bapak. Ketiga rekan saya sedang ke T.B. Simatupang.” Dia menyebutkan nama jalan. “Hmm, apakah istri Bapak pernah mengecewakan Bapak?”

Halaman: 1 | 2 |

Artikel Sebelumnya :

14 Komentar :
2012-01-14 18:26:26 WIB

Dika

salut buat cerpennya,, maknanya dapet,,penyampaiannya juga lugas,, endingnya gantung,,tapi tetap bisa ditangkap pesan yang disampaikan,,memang rasa syukur kepada yang maha kuasalah yang pantas untuk kita tinggikan,,

2012-01-14 21:59:10 WIB

Nurjannah Binti Zakaria

bahasanya mengalir,endingnya OK,pesan yang kutangkap ke arifan bukan hanya milik orang yang sekolah tinggi,jadi kita yang belum berhasil secara materi jangan pernah rendah diri.

2012-01-15 05:10:03 WIB

jundullah

ceritanya bagus,aku tercerahkan.jangan silau harta dan kedududukan, mari meningkatkan kepekaan dalam menghadapi masalah hidup.

2012-01-15 08:22:24 WIB

aq

betul bgd... cerpennya bagus..
ada hikmah yg luar biasa...
setidaknya mereka yg mmeliki kekayaan melimpah ruah malah byak yg bercerai...
layaknya menikah dgn selbriti...
kawin cerai kawin cerai... gak ada bedanya sama ayam....

2012-01-15 14:51:19 WIB

pram

nice. orang kaya adalah orang yg senantiasa bersyukur kepada Yang Maha segalanya.

2012-01-16 09:22:16 WIB

Azka mahira

Ini cerpen yg lugas,.mengalir, dan membuahkan senyum pembaca setelah membacanya. Sebuah pelajaran kehidupan. Thanks nadzhif, congrats to you

2012-01-16 11:02:21 WIB

rifan nazhif

makasih untuk semua komennya. semoga cerpennya

2012-01-16 11:58:34 WIB

rifan nazhif

bermanfaat

2012-01-16 14:30:52 WIB

Nenny Makmun

sederhana dan inspiratif! apiik banget :)

2012-01-17 22:35:25 WIB

rahma

bikin galau ^^ (galau karena aku pengen bisa nulis cerpen sebagus ini...)


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)