Kamis, 23 Februari 2012 / 30 Rabiul Awwal 1433 H
Login | Register

    Share

KEMBALI (TAMAT)

12 Jan 2012 | Rubrik: Cerpen Interaktif - Dibaca: 1180 kali

Penulis: Imun Afnan Jannati

 

Suara Karman tercekat di kerongkongan, mulutnya tiba-tiba terkunci rapat dalam ketakjuban yang luar biasa. Tak disadari, bulir-bulir air mata mulai membanjiri kelopak matanya yang menghitam karena kurang tidur. Gemuruh sungai Waron seperti menenggelamkannya bersama isak tangis yang mulai menggema.

Ya Allah, ia benar–benar sangat mengenali pemilik langkah itu. Dia…dia… adalah Yanti, istri yang empat tahun lamanya ia tinggalkan. Berarti gadis kecil kumal yang kulitnya nyaris menghitam itu, tak lain adalah si kecil Yuli yang dulu ia tinggalkan masih berusia empat tahun? Dengan langkah tertatih, ia mengejar Yanti dan Yuli yang semakin pergi menjauh. Sengaja tak ia panggil keduanya, karena pasti mereka akan lari menjauhinya. Ia hanya mengikuti mereka dari belakang, menunggu waktu yang tepat untuk menyapa mereka.

Hari semakin senja saat Yanti dan Yuli berhenti di sebuah rumah kardus yang hampir roboh karena angin. Dis ana memang banyak rumah-rumah kardus lainnya. Lokasi rumah kardus Yanti, itu persis lima sampai enam meter dari Sungai Waron. Sudah dapat dipastikan, jika sungai tengah pasang maka rumah kardus itu akan terendam. Terlihat Yanti dan Yuli memasuki rumah kardus tersebut.

Ya Allah, di sinikah selama ini mereka tinggal saat aku mendekam di bui? Hati Karman semakin gerimis melihat kondisi tersebut. Ia memang lelah setelah mengikuti Yanti dan Yuli dari pasar ke pasar, mengais-ngais sampah hingga seharian penuh. Tapi hatinya lebih lelah dengan penyesalan-penyesalan yang memenuhi ruang batinnya. Adakah mereka mau memaafkannya dan kembali merenda keluarga yang sudah hancur porak poranda? Sungguh Karman ingin kembali dan memperbaiki semuanya sebelum benar-benar terlambat.

Kicauan burung–burung camar yang merdu di tepian sungai Waron, serta diiringi semilir angin yang menyejukkan, ternyata tak mampu mengusir gundahnya hati Karman. Dalam kesedihan yang mendalam dan penyesalan yang tak terbendung, ia memberanikan diri mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah kardus tersebut, yang tentunya pintunya pun terbuat dari kardus.

“Assalamualaikum,” ucap Karman parau.

“Waalaikumussalam.” Terdengar jawaban yang sangat ia rindukan.

Sesaat kemudian, pintu kardus pun terbuka, terlihat sosok perempuan yang sangat ia kenali, meskipun garis–garis wajah lelah tergambar di sana. Mata sayunya masih menggambarkan kebencian yang mendalam.

“Mau apa kau kemari?” Tanya Yanti tak ramah, setelah mengetahui siapa yang mengunjunginya.

“Aku… aku… minta maaf, Yanti. Aku menyesal. Aku ingin memperbaiki semuanya,” ujar Karman tergagap menerima sambutan yang sangat tidak ramah itu.

“Maafmu tidak akan mengembalikan semuanya. Maafmu tidak akan menghidupkan Barong dari kubur. Entah setan dari mana yang merasukimu saat itu, hingga kau mengira aku berselingkuh dengan saudaramu sendiri? Sampai tak segan-segan kau hilangkan nyawanya?”Ungkap Yanti penuh amarah, mengembalikan mereka pada kenangan buruk empat tahun silam.

Halaman: 1 | 2 |

Artikel Sebelumnya :

7 Komentar :
2012-01-12 20:14:09 WIB

opin

hiks..hiks..haru biru, tapi kok cuma 2 part ya? hem..

2012-01-13 12:42:38 WIB

bunda safa

ending yg terlalu cepat jalan ceritanya,tapi cukup membuat aq menangis,,,hik,,,,,,,

2012-01-15 08:03:38 WIB

meili

Gak ngerti nih. Bukannya di part 1 Karman menghindari untuk menghilangkan nyawa orang ya? kok malah membunuh Barong? Endingnya meninggal lagi ya... ㅠ.ㅠ
Jempol deh buat imajinasinya nerusin cerita kembalinya.

2012-01-15 18:56:44 WIB

dilla

di awalnya hampir mirip sm yg aku buat,tp ini lebih "megang"..hehe
tapi bukannya belum boleh tamat dulu ya?kok sudah tamat??

2012-01-17 07:16:58 WIB

dira

konsep Ceritanya mirip banget sama yang aku kirim ke annida.endingnya dini juga meninggal. tapi yang ente kirim jauh lebih keren lebih detail congrats ya sob. ^ _ ^

2012-01-24 14:09:22 WIB

vina

wah.. keren..
dah lama gak baca annida lagi sejak tamat SMA ^_^
format cerita interaktif ini kereeen.. >_<
takjub melihat imajinasi bisa menghubungkan penulis yang berbeda.

untuk cerita ini sendiri, saya mikirnya sih.. agak pendek ya..
tapi bagus ceritanya ^_^
seakan satu penulis yang menuliskan semuanya.

oya, kalau mau ikutan gimana caranya?
saya dah download syarat pengiriman naskah, tapi misalnya mau meneruskan cerpen interaktif yang udah ada, gimana caranya ya?

mohon infonya
terimakasih

2012-01-28 08:49:18 WIB

Lala

Waw.. ^.^
Selamat ya buat Afnan. Anda berhasil membuat Nida memilih anda sebagai penamat cerita ini..
Buat sobat Nida yang lain, mari terus berkarya untuk bangsa!!


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)