LIFE TO KILL
11 Jan 2012 | Rubrik: Cerpen - Dibaca: 2895 kali
Langit begitu kelam, senada dengan iris mataku yang gelap dan sedingin hatiku yang mungkin sudah mulai mati. Mati meninggalkan luka-luka yang telah membusuk penuh lubang yang menganga. Ya, hatiku sudah tak terselamatkan hingga menjadikanku mayat hidup yang menebarkan teror ke seantero negeri. Pakaianku adalah dendam dan nafasku adalah api. Inilah hidup yang kupilih.
Mataku terpaku melihat gadis berjilbab yang agak aneh itu. Aku tak percaya jika dia 20 tahun, melihat wajahnya yang begitu irit dan bahkan keseimbangannya pun bermasalah. Sebenarnya aku tak terlalu peduli bahkan meski aku harus tinggal bersamanya. Bukan sebagai istri tentu saja, karena wanita tak lagi menarik bagiku. Ini berkaitan dengan rekayasa sosial, sebuah penyamaran yang selalu kulakukan. Tentu saja karena hidup ini tak lebih dari panggung sandiwara dan aku adalah aktor yang tidak hanya memainkan satu peranan.
Panggungku kali ini adalah Jakarta yang terasa semakin sesak dan memuakkan. Tidak seperti dahulu, kota yang penuh kenangan, yang direbut mati-matian oleh Fatahillah. Namun sayang, manusia sekarang tak pernah mau menghormati sejarah. Tidak pernah mau belajar dari masa lalu dan menganggap masa lalu itu hanya sekadar kenangan. Seperti targetku kali ini. Aku yakin dia sudah sepenuhnya melupakan masa lalu.
Itu dia targetku, lelaki tambun yang sudah mulai termakan usia. Seharusnya organ tubuhnya sudah berkarat mengingat dia sudah melakukan proses oksidasi dalam usia yang belia, mengganti darahnya dengan minuman keras dan oksigennya dengan asap rokok. Lelaki yang kini mengganti namanya menjadi Nasuha dan berharap bisa menghapus dosa masa silamnya. Mungkin otaknya sudah tumpul sehingga dia tidak ingat, bahwa pembantaian dan perampokan yang dia lakukan dulu menyisakan bocah 7 tahun yang tidak mungkin menghapus kenangan itu dari benaknya.
Target lain adalah pemuda itu, orang yang aku tak ragu untuk membunuhnya. Oh, setidaknya dalam waktu dekat kupatahkan saja dulu kakinya. Pekerjaan yang indah dan penuh seni adalah ciri khasku, dan kupikir sesuatu yang dilakukan dengan tergesa-gesa mempunyai peluang kecil untuk menghasilkan sesuatu yang indah. Umurnya tidak lebih dari 30, hampir sebaya denganku. Dan kurasa dia adalah anak sulung Nasuha. Siapa tadi namanya... Oh ya, Satria. Jadi, sah-sah saja jika kupanggil Bang Sat, toh dia juga anak dari lelaki yang bangsat, dan jika pepatah “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” benar, maka dia juga bangsat.
Satu lagi anggota keluarga yang tersisa. Wanita akhir 50-an. Dia tidak perlu dibunuh, yang perlu dilakukan hanyalah membiarkannya melihat keluarganya terbunuh satu persatu dan menyisakan dirinya untuk hidup. Bukankah sebentar lagi cahaya kehidupan akan padam dari matanya, kemudian dia akan melewati masa menopause dengan penuh mimpi buruk, dan bisa dipastikan kematian akan datang lebih cepat padanya? Jadi aku tidak perlu mengotori tanganku untuk hal ini. Sebagai catatan, aku membunuh bukan karena uang atau karena ingin, tapi aku membunuh jika memang itu diperlukan.
***
“Nak Hanif, sarapan sudah siap!” Panggil wanita itu. Huh... betapa konyolnya nama Hanif. Aku terpaksa menggunakannya karena ini adalah akses agar aku bisa masuk ke keluarga ini. Bukan salahku jika Hanif asli dan ayahnya harus mati karena mereka mangkir dari perjanjian bisnisku. Bahkan hampir membuatku rugi. Untung saja aku termasuk orang yang dibekali otak cerdas dan insting tajam, sehingga bisa kuantisipasi lebih dulu.
“Saya turut sedih atas kecelakaan yang membuat ayahmu meninggal. Mengingat dia juga salah satu teman baik saya di masa lalu,” kata Nasuha setelah aku duduk di dekatnya. Aku memasang senyum sedih palsu. Tentu saja keputusan untuk menjadi Hanif salah satunya adalah karena Harun (ayah Hanif) berteman dengan Nasuha. Bukankah seperti “Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”? Hanif dan Harun mati dan aku juga bisa masuk keluarga ini dengan mudah. Oh, adakalanya aku merasa hidup ini begitu indah.
Bang Sat sudah tidak ada. Rupanya berangkat lebih awal, takut terjebak macet. Hebat sekali kota ini, menjadikan macet sebagai stressor yang hebat. Kusapukan pandangan dan yang ada hanya Nasuha, istrinya dan gadis aneh itu. Bahkan gadis itu makan dengan sangat pelan. Ada apa dengannya? Apa dia menuruti saran kesehatan untuk mengunyah makanan 30 kali, atau bahkan ada yang mengatakan 40-70 kali? Kami semua sudah selesai makan dan dia bahkan separuh pun belum selesai. Dia hanya tersenyum canggung dan pergi meninggalkan ruangan, namun beberapa detik kemudian aku mendengar piring pecah. Apa dia terjatuh?
“Baiklah, Hanif, sementara kau bisa tinggal di sini. Mungkin saja kami bisa menghiburmu. Yang kutahu, kau hanya tinggal berdua dengan ayahmu. Jadi anggap saja kami keluarga barumu. Itu jika kau tidak keberatan,” kata Nasuha sok bijak, hanya sebuah basa basi. Kurasa itulah yang ditangkap telingaku.
Aku pasang tampang berduka dan sedetik kemudian menggantinya dengan tampang penuh terima kasih. Menarik sedikit bibir membentuk senyum terima kasih, dan dengan lirih kuucapkan, “Terima kasih, Anda sangat baik.” Tidak perlu banyak kata untuk meyakinkan, cukup tunjukkan dengan bahasa tubuhmu.
“Lalu apa rencanamu ke depan?” Tanyanya lagi.
“Bersenang-senang,” jawabku singkat. Bukankah benar, bahwa aku akan bersenang-senang mencabik-cabik keluarga ini sebentar lagi. Aku melihat kernyit di dahinya. “Untuk melupakan semua duka,” tambahku.
“Aku akan mengantarmu keliling rumah ini sebelum aku berangkat ke kantor, dan sebaiknya itu kita lakukan sekarang.” Nasuha tersenyum tulus. Tapi tetap saja aku tidak percaya ia tulus.
Aku mengikutinya dalam diam, mulai membuat ide-ide cemerlang untuk menghabisi keluarga ini. Dulu aku sudah pernah memeriksa rumah ini, sebelum aku mengganti rencana dengan menjadi Hanif.
***
14 Komentar :
wa... menegangkan. dari awal terdapat misteri yang bikin penasaran! ga sabar ingin tahu akhirnya. penyampaiannya juga baik. sepertinya si tokoh 'aku' itu benar-benar termakan dendam kesumat. jadi hidupnya hanya untuk membalas dendam yaitu membunuh (anak baik jangan ditiru ^^) tapi, ada beberapa hal yang saya kurang paham seperti di kalimat endingnya itu, apakah si tokoh 'aku' mendadak menyesal? sedikit tidak jelas buat saya.. ^__^ itu saja. Overall, sebenarnya bagus~
Bang Sat
hemmm kata2nya seram klo kita salah mengeja... knpa harus dgn nama itu.. atw...lainnya...
BANG DUNG BANG MI BANG MENDRENG SEKALIAN
hihi
like it,.. ^_^
koin : kan biar bnr2 terasa dunia kriminalnya, sebelum akirny hidayah Alloh ditemukanny,.,.
Annida
Cerpen ini memang agak out the box, biasanya tokoh-tokoh utama cerpen Nida gak berkarakter dendam kesumat begini, agak sadis pula klimaksnya, tetapi mudah-mudahan bisa ada hikmah yg diambil; bahwa pembalasan dendam tidak pernah bisa memuaskan hati kita.
Annida
Kru Nida seneng banget sama gaya bahasa penulis yang 'pekat', sampe-sampe susah ngeditnya, hihi...
@Asti: Jjiah... penggemar serial Korea nih ye? Tapi kayaknya beda deh ceritanya... kalo Nida justru curiga sama judul cerpen ini yang mirip drama Korea A Love to Kill, hoho...
Cerita yang bagus...I Like it...^^
Tapi kok cerita sadarnya cepat sekali ya...belum ada prolog yang mengena...
wah,,, ceritanya seru ,!! life to kill hebat deh
akhirnya "aku" mencari tuhan"ku"????
dalam kekosongan hati yang mendera...
terimakasih atas semua komentar dan masukannya,moga bisa membuat tulisan saya ke depan lebih baik =)
@annida : syukron dah dimuat. ini yang ke-2 stlh Memoar Sang Pembunuh.
ceirta ini tidak terinspirsi dari dari drama korea, sy malah belum ilhat City Hunter dan A Love to Kill =), mohon maaf untuk bahasa yang terlalu sadis.he he he
Isi Komentar :




