Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

Dialog Enam Malam (Part 2)

10 Jan 2012 | Rubrik: Cerbung - Dibaca: 3546 kali

Penulis: Maryam Qonitat


Malam kedua–Hari bayangan

 

Fikri

Aku ingin tahu apa yang dikatakan angin pada dedaunan yang berguguran. Aku ingin tahu apa yang dibisikkan elang pada saat malam menjelang. Aku ingin tahu apa yang diucapkan kabut pada lambaian matahari. Menggugatkah mereka?

Lukisan bintang tak pernah berdusta. Pun cahayanya yang mengecil di saat regangan-regangan raga di bumi membutuhkannya. Bintang tak pernah bersinar dengan sayap yang patah. Ia tak sempurna, tapi ia membahana. Dan di manakah kerdilku dari kalamNya yang bersumpah atas nama bintang? Juga bulan?

Aku menutup mushaf kecil di tanganku. Selesai memurojaah surat an-najm dan al-qomar. Setelah ini akan ada kajian tafsir di masjid kampus. Pembicara tetap yang biasa mengisi kajian, kali ini berhalangan hadir. Aku sebagai penanggung jawab program rutinan selalu menjadi ban cadangan jika pembicara yang sudah ditetapkan tidak bisa datang. Selalu seperti ini. Beberapa kali aku mencoba menghindar dari amanah ini. Bagiku tidak mudah memikul tanggung jawab menjelaskan ayat-ayat alquran. Meski hanya beberapa ayat. Karena konsekuensi dari menyampaikan adalah juga mengamalkan. Betapa jauhnya aku dengan amalan-amalan ideal itu. Namun kawan-kawan masih saja mempercayaiku, entah apa yang mereka fikirkan. Bismillah, semoga Allah jadikan aku bagian dari hambaNya yang mendengarkan perkataan dan mengamalkan kebaikannya.

Aku masih membuka-buka buku shofwatuttafasir dan membandingkannya dengan Tafsir Jalalain. Surat Al-Haqqoh ayat 25-32. Mencoba menemukan beberapa potongan kalimat asing yang mungkin tidak familiar di telinga orang umum dan meringkas intisari darinya.

16.10. Lima menit lagi sebelum kajian dimulai, beberapa peserta mulai terlihat mendekati shaf pertama, membuat barisan ke arah mimbar. Akupun memutuskan untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Shaf bertambah banyak melihat kedatanganku. Pukul 16.15 tepat, aku membuka kajian. Bismillah.

Sabuna dziroa. Ada yang tahu artinya?”

Aku memancing pertanyaan di tengah materi yang sedang kusampaikan.

“Tujuh puluh hasta.” Terdengar beberapa suara pelan bersahutan dari arah pendengar.

“Ya. Benar. Tujuh puluh hasta. Namun dalam tafsir Jalalain disebutkan, bahwa sebagian ulama menafsirkan, yang dimaksudkan 70 hasta di sini adalah 70 hasta malaikat. Bukan hasta kita yang seperti kita fikirkan. Jadi bisa kita bayangkan, 70 hasta manusia saja sudah panjang, apalagi 70 hasta malaikat? Tidak cukup sampai di situ, di sini ditambahkan bahwa rantai yang kelak dipakai akan dimasukkan dulu ke dalam api neraka.”

“Setelah rantai itu dillitkan, Allah juga memastikan bahwa kelak mereka yang mendapatkan kitab hisab amalannya dari arah kiri, tidak mendapatkan teman satu orangpun untuk dimintai pertolongan. Falaisal yauma hahuna Hamim. Wala tho’mun illa min Ghislin... Tidak juga mendapatkan makanan kecuali dari Ghislin, atau yang artinya pohon yang ada di neraka.”

“Bisa kita bayangkan bersama, apa jadinya manusia jika mendapatkan siksa pedih tersebut? Semoga Allah jadikan kita hambaNya yang selalu bertaubat dan dihindarkan dari ancaman tersebut. Kita tahu, bahwa Allah tidak akan ingkar janji. Jika Dia menjanjikan keindahan yang tiada tara di syurgaNya kelak untuk orang-orang beriman, maka Dia juga akan memberikan balasan yang setimpal untuk hambaNya yang ingkar. Innallaha syadidul iqob wa Innallaha La Ghofurur Rohim.”

Kajian dilanjutkan dengan tanya jawab. Ada sekitar 7 orang yang mengacungkan tangan. Aku berusaha menjawab semampunya. Hampir kebanyakan dari apa yang ditanyakan adalah tentang muamalah. Ada satu penanya yang justru bertanya tentang fiqh. Hanya beberapa yang bertanya berkaitan dengan materi tafsir yang aku sampaikan.

Kajian berakhir tiga puluh menit sebelum maghrib menjelang. Aku berniat segera kembali ke rumah, teringat Fitri yang barangkali sedang membutuhkanku. Aku tidak mau membuat mba Ida merasa terbebani dengan tugasnya yang sudah mengurus rumah, turut melakukan tugas yang semestinya aku jalani. Mba Ida adalah pembantu rumah tangga yang disiapkan ibunya Fitri untuk kami. Aku sudah berusaha menolaknya. Bukan apa-apa, bukan karena aku tidak siap dengan gaji yang harus aku berikan tiap bulan untuknya. Aku hanya tidak ingin ada wanita di rumahku selain istriku. Namun ibunya bersikeras untuk tetap memberikan pembantu, barangkali mempertimbangkan kondisi anaknya yang memang menurutnya memerlukan bantuan.

Aku sedang menuju tempat parkir masjid, di mana mobil sedan corona yang juga pemberian mertuaku diparkirkan, aku tak sengaja berpapasan dengan sosok yang sangat aku kenali di pelataran Masjid.

“Masya Allah, Azmi, bagaimana kabarmu? Lama sekali kita tidak bertemu. Ke mana saja kau?” Aku memutuskan untuk menghampirinya, menjabat tangannya dan memeluknya. Aku tersenyum lebar.

“Alhamdulillah, Sob, aku baik. Hanya beberapa urusan yang memaksaku untuk tidak banyak keluar,” jawabannya datar, senyumnya seperti dipaksakan.

“Oh, kukira terjadi apa-apa denganmu. Hey, kau bahkan tidak menghadiri pernikahanku. Padahal kau tahu, Sobat? Aku sangat mengharapkan kau datang saat itu. Bagaimana tidak? Kau sahabatku. Kau teman terbaik yang aku punya. Tapi tak apalah. Aku berfikir barangkali kau sedang sibuk. Biasa, kan, temanku yang satu ini memang punya segudang tanggung jawab.”

Aku tersenyum lebar. Aku memang merindukannya. Azmi adalah teman baikku semenjak kami pertama kali memasuki strata satu. Kami memang beda fakultas. Azmi mengambil jurusan yang sama seperti Fitri di IT. Dan aku mengambil jurusan Dirasat Islamiyyah. Kami bertemu di lembaga dakwah kampus.

Kami sejalan, sevisi, seringnya mendapatkan amanah di tempat yang sama. Meski beberapa kali kami berbeda pendapat, namun kami tetap menjadi teman dekat. Aku yang memang cenderung menjadi safety player¸ selalu bisa dikalahkan oleh Azmi yang cenderung mendominasi. Ia sangat menggebu-gebu jika mempunyai keinginan. Sekali ia berbicara A, maka fikirannya akan sepenuhnya tertuju pada A. Saat kami masih semester kedua dan baru bergabung di lembaga dakwah, kami sering sependapat dan sayangnya sering bertolak belakang dengan beberapa senior. Keberadaan Azmilah yang menolong. Ia selalu tidak ragu berkata pada siapapun jika pendapatnya memang benar. Bertahun-tahun menjadi teman dekatnya, aku tak lagi terganggu dengan karakter meledak-ledaknya. Namanya saja Azmi.

Namun hari ini ia terlihat berbeda sekali. Tidak ada gairah yang biasanya terpancar dari genggaman erat tangannya saat bersalaman, tidak ada langkah tergesanya yang selalu saja membuatku menggeleng-geleng kepala.

“Ah ya, Maafkan tentang itu. Aku sangat ingin datang. Namun sepertinya Allah belum memberikanku kesempatan. Selamat, kawan, Barakallah. Semoga Allah berikan keberkahan dalam pernikahanmu.”

“Aamiin. Terima kasih doanya. Kau lah, kapan segera menyusul? Aku tunggu kabarnya.”

Azmi hanya tersenyum simpul. Mengalihkan pandangannya.

“Jangan khawatir, kawan. Doakan saja. Ummm... Jika kau tidak keberatan, aku ada keperluan. Kita bertemu lagi nanti, Insya Allah.”

Akupun teringat dengan Fitri dan langit yang semakin gelap.

“Ah, baiklah. Ya. Sampai ketemu. Main ke rumahku, Mi. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu.”

Halaman: 1 | 2 |

Artikel Sebelumnya :

13 Komentar :
2012-01-10 14:26:02 WIB

1

aku jadi pensaran kelanjutannya...

tapi dialognya kurang nih..hehe..narasinya kepanjangan...
all out bagus

2012-01-10 15:26:40 WIB

hihi

wah.,., makin penasaran.,. q klo cerita kya gini kog seneng ya.,., islami banget.,., n romantis.,., hehehe ^_^ tpi yang psti.,., islaminya itu.,., q seneng, ...

2012-01-11 10:51:14 WIB

Nurlia Muslimah

kangen ku terbalas hee udah lama gak baca majalah Annida... sekarang makin keren ya. cerbung ya baguuuuusssss jadi pengen kenal penulisnya ^_^

2012-01-12 15:43:47 WIB

Bulan

seneng.....bnget baca cerita ilami kya gini...jadi penasaran nih baca kelanjutannya

2012-01-13 20:55:39 WIB

DeeJay

certanya bagus. Tapi Fikri yg ceritanya ilmu agamanya dalam, kenapa meninggalkan masjid beberapa saat sebelum masuk waktu maghrib dan malah sholat di rumah? Padahal shalat berjamaah di masjid bagi laki2 jauh lebih utama. Bahkan ada ulama yang mengatakan hukumnya wajib.

2012-01-16 21:59:58 WIB

Yaya'

baca judulnya bikin penasaran..
eh, isinya lebih parah rasa penasaran-nya..!!
ceritanya bgus,keren,asyik, relijiuusss,pokok eee.. mantap dah..!!

izinkan daku menjadikan cerita ini sebagai koleksiku.. :)

2012-01-17 00:56:20 WIB

Aranindea

like this like this :D

2012-01-17 07:39:34 WIB

dira

ROMMMAANTISSSSSSSSSSSSS
ilmu agama jadi nambah
isi cerpen emang "berisi" banget
sekali lagI
RROOOOOMMMMMMAAAAAANNNNTIIIIISSSSSSS

2012-01-17 13:41:10 WIB

ichi

iy jadi makin penasaran gimana ya kelanjutannya..bakal haapy ending or sad ending?????

2012-01-23 20:49:20 WIB

mutia putri

subhanallah, kereeeennn
penasaran abis :)


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)