EVERYTHING IS POSSIBLE
09 Jan 2012 | Rubrik: Dapur Penulis - Dibaca: 843 kaliPenulis: Impian NopitasariTidak ada yang mudah. Tetapi tidak ada yang tidak mungkin. Itu adalah kata-kata Napoleon Bonaparte, penguasa Prancis yang legendaris. Saya masih memegang motto itu, tak terkecuali dalam hal tulis menulis. Di sini saya ingin membagi pengalaman menulis yang tak seberapa. Semoga dapat menjadi tambahan pengalaman bagi yang lain. Dari kecil saya suka sekali membaca dan menulis. Orang tua yang berprofesi sebagai guru, mempermudah saya mendapat akses buku-buku gratis. Saya senang membaca cerita rakyat, cerita nabi-nabi dan semua berita di koran, saya lahap. Meski kadang tidak mengerti dengan apa yang saya baca. Pokoknya baca aja, sudah. Untuk menulis, dari kecil saya senang menulis kejadian-kejadian yang saya anggap penting. Semacam diary. Tapi lama-kelamaan saya mulai senang menulis cerita karangan sendiri. Tapi waktu itu tulisan-tulisan tersebut hanya saya simpan. Malu jika ketahuan, apalagi tulisan tangan saya sungguh memprihatinkan. Ketika duduk di bangku SMP, saya mulai suka menulis cerpen. Berawal dari hobi membaca karya sastra semacam Siti Nurbaya, Azab dan Sengsara, Aki, Senyum (cerita kopral Jono), Ronggeng Dukuh Paruk, Robohnya Surau Kami, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan lain-lain. saya mulai ada keinginan untuk menghasilkan karya yang dibaca banyak orang seperti mereka. tapi saya tetap hanya menulis. Tak pernah mengirimkannya. Bangku SMA merupakan titik awal pengalaman menulis saya. Sejak saat itu saya mulai berani mengirimkan tulisan-tulisan ke media. Waktu itu sebuah puisi yang dimuat Koran Inspirasi, media lokal untuk guru di Jawa Tengah. Rasanya seperti terbang ke langit. Dengan bangga karya itu saya pamerkan ke teman-teman dan saya tempel di lemari kamar. Saya makin tambah bersemangat mengirim karya. Kebetulan guru bahasa Indonesia waktu itu perhatian sekali dengan muridnya yang ingin mengirimkan tulisan ke media massa. Beliau tak segan-segan memberi bimbingan dan koreksi. Akhirnya cerpen teenlit pertama saya dimuat di majalah Teen. Rasanya sungguh sulit untuk diungkapkan. Honor menulis itu saya gunakan untuk membeli novel KCB yang saat itu sedang booming. Saya juga senang mengirim karya untuk dilombakan. Walau satupun belum ada yang lolos. Kecewa? Pasti. Putus asa? Nanti dulu. Berbagai penolakan sudah biasa dalam hidup saya. Berbagai lomba saya ikuti, yang penting ikut. Begitu kata guru saya. Lulus SMA merupakan masa-masa vakum saya, tak pernah menulis apalagi mengirim. Saya terserang writer block tingkat akut. Selama 1.5 tahun saya begitu tak produktif. Semester empat mulailah saya bangkit, mencoba menulis di majalah bahasa Jawa Panjebar Semangat dan Alhamdulillah dimuat. Efek pemuatan itu berdampak besar. Saya semakin rajin menulis. Artikel saya di rubrik Ah Tenane Solopos juga dimuat. Ketika Solopos mengadakan lomba menulis cerpen. Saya pun ikut. Jujur tak ada target apapun untuk mengikuti lomba ini. Sejak dulu, berbagai lomba saya ikuti tapi belum membuahkan hasil, apalagi peserta lomba kali ini orang hebat-hebat. Naskah yang saya ikutkan dalam lomba tersebut sudah dirijek Annida dan saya buang ke tempat sampah. Mungkin kalau bukan dorongan dari teman, saya tidak akan mengirim naskah tersebut. Kejutan datang. SMS dari mentor menulis saya di FLP SOLO, memberitahukan bahwa saya menang juara 1 untuk kategori remaja. Saya masih belum percaya. Kapan pengumuman lomba itu saja saya tak peduli. Siapa saya ini, kok bisa menang? Juara 1? Dua juta? Saya baru percaya ketika membaca sendiri berita tersebut di koran. Langsung saya sujud syukur di tempat. Bulan --> artikel saya dimuat di Solopos lagi, cerkak saya di Panjebar Semangat juga dimuat. Saya semakin aktif menulis dan menambah link kepenulisan. Akhir tahun ini adalah akhir tahun yang indah karena saya juga memenangi juara 1 lomba menulis cerpen GPN Purwodadi. Seumur hidup saya belum pernah mendapat juara lomba menulis. Giliran ikut lomba langsung mendapat dua kali juara 1, dalam rentang waktu tiga bulan. Memang, setiap karya punya jodoh masing-masing. Mungkin di satu tempat ditolak, tapi bisa jadi diterima di tempat lain. Yang penting optimis, tapi jangan berekspetasi berlebihan. Karya-karya yang dihasilkan:
- Puisi “Medali Kebanggaan”, Koran inspirasi, November 2007
- Cerpen “Me: Si Nezza Trouble Maker”, majalah Teen, Juli 2008
- Geguritan “Goncahing Alam”, Majalah Panjebar Semangat, Juli 2011
- Artikel lucu “Demi Tiket Mudik” rubrik Ah Tenane, Solopos, Agustus 2011
- Cerpen “Tarawih Siang”, Juara 1 lomba cerpen Solopos kategori Remaja, dimuat 23 Oktober 2011.
- Artikel lucu, “Mak Jegurr”, rubrik Ah Tenane, Solopos. Oktober 2011
- Cerkak “Satriya Onthelku”, Majalah Panjebar Semangat, Oktober 2011
- Cerpen “Balada Garam Bledhug”, juara 1 lomba cerpen GPN Purwodadi, sedang proses penerbitan sebagai antologi bersama.
9 Komentar :
Kebertulan banget nemuin artikel seperti ini di Annida. Memang akhir-akhir ini saya mulai ingin menulis lagi dan mengirimkannya ke media selama hampir 3 tahun cuma berani nge-blog.
Sudah pernah dimuat? Belum. Sama seperti mbak Nopitasari, karya saya belum pernah dimuat. Jumlah karya yang dikirimkan ke media pun masih bisa dihitung dengan jari. Saya terlalu pesimis selama ini. Padahal, menulis adalah kecintaan saya sejak dulu.
Sungguh, artikel ini membantu saya untuk kembali berpikir, "Tidak ada yang mustahil, kenapa tidak mencoba dulu?"
Makasih Nida, artikelnya sangat membantu :)
menginspirasi sekali ..
untuk menghasilkan karya terbaik memang butuh pengujian dari berbagai sisi termasuk uji kesabaran saat ingin memulai lantas tertolak. dan putus asa bukanlah jawaban untuk sebuah kesuksesan.. semangat berkarya :)
makasih Annida, sudah muat curhatanku (kayaknya belum layak kalau disebut artikel). padahal aku hanya iseng saja lho.
makasih juga mbak Ulfa dan mbak Dhila sudah mau berkomentar. Jadi terharu *ambil tissue
memang semua perlu perjuangan, berawal dari hal yang sedarhana, apapun tulisan kita, itu tetaplah sebuah karya...
selalu ada jalan, jika kita mau berusaha...
Allah memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan....
itu yang bisa ku ambil dari tulisan mbak Impian....
**inspiratif sekali mbak Dream... aku suka ^_^
Sekali lagi ini membuktikan. Menjadi penulis itu tidak mudah. tetapi tidak ada yang tidak mungkin dengan usaha dan kerja keras. Mbak Impian semoga ke depannya makin sukses. Lam kenal ^_^
bunga: makasih nduk, kamu juga terus nulis ya? kamu lebih keren dari aku sebenere. hehe
mbak mardiana: makasih mbak. salam kenal juga
mas eko budi: siip mas..
Mbak Impian yang hebat, sesuai dengan namanya punya banyak ide (impian2), yang lebih hebat lagi adalah menjadikan ide menjadi sesuatu yang visual yang bisa dibaca banyak orang. Tidak banyak orang yang seperti itu, kebanyakan orang, punya banyak ide tapi gagal menjadikan "sesuatu". Walaupun pameo bilang bahwa sebenarnya impian (ide) lah yang menjadikan orang masih bertahan untuk hidup, tapi kalo hanya sebatas mimpi2 saja bisa jadi jerawat batu. "Alhamdulillah ya" mbak Impian tetap menulis, "kita menulis, maka kita ada"
Isi Komentar :







