Kamis, 23 Februari 2012 / 30 Rabiul Awwal 1433 H
Login | Register

    Share

MAJALAH SANG PENCERAH

30 Des 2011 | Rubrik: Dapur Penulis - Dibaca: 684 kali

Oleh: QS Emmus

 

Menulis untuk media, susah!

Begitulah yang akan dikatakan para penulis pemula, bahkan mereka menjerit saat mengungkapkannya. Seakan-akan dimuat di media adalah sebuah hal yang mustahil. Mereka pun akan memberikan seribu satu dalih. Berawal dari nggak tahu menulis cerpen yang bagus sampai nggak pede mengirim naskahnya ke media. Padahal bagaimana bisa tahu naskah itu bagus dan layak dimuat media kalau nggak dikirim ke media? Bagi yang sudah mencoba dan mendapat kabar penolakan berkali-kali pun akhirnya juga sama, menyerah. Nggak berani mengirimkan naskahnya ke media lagi. Terlanjur sakit hati katanya.

Apalagi sekarang ada banyak ilmu menulis yang bertebaran di mana-mana. Di setiap majalah bisa ditemukan rubik tentang cara menulis. Tinggal baca dan praktek. Kalau ada budget lebih bisa ikutan pelatihan nulis, workshop, atau kelas menulis online. Nah, bukankah sudah sangat dipermudah untuk menggapai cita-cita jadi penulis. Merasakan naskahnya dimuat media.

Dengan semua kemudahan itu masih ada saja yang ber-dalih: “Pingin ikutan pelatihan atau workshop, tapi jauh. Aku tinggal di desa terpencil. Warnet juga susah. Duit untuk budget ngenet pun tak ada.”

Lengkap tuh penderitaannya!

Padahal tanpa semua itu kita tetap bisa menulis cerpen yang bagus, mengirimkannya ke media dengan pede dan dimuat. Nggak percaya? Aku sendiri buktinya. Aku mengawali menulis di tahun 1999. Di sebuah kota bernama Pamekasan di pulau Madura. Aku belum kenal komputer waktu itu, apalagi internet. Dan pastinya nggak punya teman penulis, apalagi ikutan pelatihan atau workshop penulisan. Ditambah lagi aku juga nggak merasa berbakat menulis. Semuanya hanya berawal dari rasa ketidakpuasaan saat membaca cerpen yang dimuat di majalah. Tercetus kata, “Aku sih bisa bikin yang lebih bagus dari ini!”

Nah, kalau kau pernah mengalami seperti yang aku alami, itu sebuah tanda. Lanjutkan! Jangan cuma berhenti di ucapan dan kritikan basi. Segera buktikan dan mulailah menulis cerpen yang lebih bagus. Tapi jangan buru-buru dikirim.

Waktu itu aku menulis di buku, lalu mengetiknya dengan mesin tik pinjaman. Kemudian meminta ayahku untuk membacanya. Meminta pendapatnya tentang ‘bayi’ pertamaku. Ayahku pun berkata, “Kalau pengen tulisanmu dimuat di majalah, kamu harus berempati.”

Itulah nasihat yang sangat berarti. Walau awalnya aku nggak begitu mengerti apa maksud Ayah. Tetapi aku mulai membaca dengan serius cerpen-cerpen yang dimuat di majalah. Menumpuk majalah-majalah yang kupunya dan membaca cerpen-cerpennya sekaligus, seharian. Berusaha menemukan alasan kenapa cerpen-cerpen itu bisa dimuat. Menemukan sebuah ciri yang berulang, dan bahkan menuliskannya kembali untuk mengatahui sepanjang apa cerpen-cerpen itu. Pada proses inilah kutemukan banyak pelajaran berharga. Terutama tentang tanda baca, layout, dan EYD (istilah ini malah baru kuketahui beberapa tahun kemudian).

Setelah itu aku mulai menulis naskah cerpen yang kurang-lebih sama kualitasnya. Ide ceritanya dari pengalaman pribadi atau hal-hal yang terjadi di sekitarku. Menulis pun jadi mudah, hanya sekadar menceritakan ulang.

Seperti itulah naskah pertama yang kukirimkan. Berusaha berempati pada pembaca pertama, yaitu para redaksinya. Memberikan naskah yang ‘enak’ untuk mereka baca.

Hasilnya cerpenku dimuat setelah sebulan kukirimkan via pos. Judulnya “Sepakat!” (Kawanku, 2000) untuk cerpen remaja, dan “Selimut Basah” (Mentari, 1999) dan “Batu ke Dua” (Bobo, 2001) untuk cerpen anak—itu adalah 2 cerpen pertama yang kukirim untuk Mentari dan Bobo yang langsung dimuat!

Rasanya? Wah… amat menyenangkan dan membanggakan. Aku mendapat kiriman bukti pemuatan dan wesel (sekarang via rekening bank). Menunjukkannya pada Ayah dan seisi rumah. Berhari-hari membaca cerpenku yang dimuat itu berulang-ulang sambil bertanya, “Beneran ini cerpen buatanku?”

Setelah itu aku jadi semakin semakin sering menulis dan mengirimkannya pada media. Sampai sekarang sudah hampir 90 naskah (dan pasti akan bertambah banyak lagi!) di berbagai media. Menemukan lima ‘rumusan’ menulis cerpen agar cepat dimuat, dan membagi ilmu itu sebagai pemateri pelatihan atau workshop penulisan.

Semua itu bisa kuraih karena majalah. Merekalah guruku. Merekalah sumber pencerahkanku. Yang kuyakin juga ada didekatmu. Yang perlu dilakukan cuma membacanya. Benar-benar membaca, meneliti dan mempelajari. Pasti akan kau dapati rumusan yang sudah kutemukan itu.***

 

 Karya-karya yang pernah dimuat di media cetak:


  1. Cerpen “Stop Sampai di Sini!” (Bobo No.47, 3 Maret 2011)
  2. Dongeng “Pilihan Peri Angin” (Bobo No.49, 17 Maret 2011)
  3. Fabel “Kaki-Kaki Roki” (Mentari No.591, Agustus 2011)
  4. Fabel “Bukan Buaya Biasa” (Mentari No.596, Agustus 2011)
  5. Cerpen “Dimas Anak Emas di Kelas” (Bravo! No.41, Agustus 2011)
  6. Cerpen “Kunjungan Peri Bertopi Jerami” (Bravo! Desember 2011)



Dll () ()

 

Artikel Sebelumnya :

15 Komentar :
2011-12-31 16:17:46 WIB

q

penulis yang baik..., apa aja lima rumusan dan ciri yg berulang itu.? mohon dikstw ya... atau itu rahasia penulis dan saya hrus cr tw sndri? hem...:) sy sngat bertrima ksh klw dkstw.. salam...

2012-01-02 09:19:36 WIB

Alby S.

Dan lima ilmu rahasiapun sukses menuliariku. terima kasih Mas Emmus udah menulariku ilmu menulisnya.

2012-01-02 12:07:42 WIB

QS. Emmus

q: 5 rumus emmus nanti saya bagi di artikel-artikel berikutnya, deh. ikuti terus annida-onlen, ya. senang bisa berbagi^_^

2012-01-02 19:47:56 WIB

farid khan

tulisan ini satu bukti kegeraman karena banyak anak bangsa yg melalaikan talenta menulisnya...


inspiratif...

2012-01-02 20:37:34 WIB

naminist

Setuju sama Mas Emmus. Bila ada ketidakpuasaan saat membaca cerpen yang dimuat di majalah, maka kita harus segera bertindak. Bukan hanya mengkritiknya saja, namun membalasnya lewat karya. Menulis cerpen yang lebih bagus dan mengirimkannya ke media.

2012-01-02 20:43:49 WIB

chilvi

wah, congratulation kak Emmus...
aku juga pengen dapet 'rumus menulis' itu..
baca-baca dulu ah :D

2012-01-02 21:40:53 WIB

Dian Kristiani

Aku nggak tau apa 5 rahasia itu, tapi aku sudah membuktikan bahwa semangat Emmus telah menulari dan mengomporiku untuk ngirim ke media! Bahkan, dulu aku pesimis karena kudengar naskah di media bisa antre sampe bertahun-tahun. Namun, setelah mempraktikkan apa yang diajarkan Emmus, naskahku nembus media hanya dalam hitungan seminggu s/d lima bulan :)
Dahsyat Emmus! Terus berbagi ya...

2012-01-02 22:43:56 WIB

Sophia Laily

Emmus emang hebat. AKu rasa rumus yang pertama adalah : semangat pantang menyerah alias bandel. Dan yang kelima, pastilah : keep writing. Hehe, yang kedua, ketiga, keempat, aku ga tau. Bagi juga dong. Aku ini bukan penulis cerpen yang pandai, maka aku butuh 5 formulamu itu. Thanx Emmus sudah berbagi. Saluutt ama kamu. :)

2012-01-04 16:10:52 WIB

Trasungging Rhiazaki K

Makasih atas pengalamanya... Hampir serupa dgnku. Tp cerpenku belum d muat d manapun.
Tambh semangt B-)

2012-01-04 16:11:44 WIB

Trasungging Rhiazaki K

Makasih atas pengalamanya... Hampir serupa dgnku. Tp cerpenku belum d muat d manapun.
Tambh semangt B-)


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)