Kamis, 23 Februari 2012 / 30 Rabiul Awwal 1433 H
Login | Register

    Share

Seminar Puisi dan Religiusitas Bersama Taufik Ismail dan Ibnu Wahyudi

30 Des 2011 | Rubrik: Berita Umum - Dibaca: 406 kali

 

Annida-Online—Ketika gelombang prosa islami telah menunjukkan geliatnya sejak awal 2000 hingga kini, puisi islami justru sebaliknya. Namun, walaupun begitu, nafas-nafas Islam dalam puisi yang notabene bukan puisi Islami, semakin menyemarakkan dunia puisi tanah air kini, lho…

Hal ini seperti dituturkan sastrawan yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI, Ibnu Wahyudi, dalam seminar Puisi dan Religiusitas yang diselengarakan oleh Forum Amal dan Studi Islam (Formasi) FIB UI dalam rangkaian acara Humaniora slamic Festival (29/12).

“Banyak sajak di era kontemporer ini, yang walaupun tanpa embel-embel Islami, tapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangatlah Islami. Karena, kan, yang memberi label islami atau tidak itu pembaca, penulis hanya menulis saja. Sayangnya, banyak dari kita—termasuk para peyair--yang nggak mau membaca puisi karya orang lain, padahal produktivitas menulis puisi di negeri ini cukup tinggi, lho. Jadi deh, banyak puisi yang kaya nilai islam, tapi nggak banyak diketahui orang,” ujar lelaki yang biasa di sapa Iben, ini.

Di acara ini, penyair yang sudah kesohor hingga mancanegara, Taufik Ismail, selain menjadi pembicara kedua, juga membacakan satu buah puisinya di awal yang berjudul: Puisi, Aku. Berisi tentang enam alasannya memilih puisi di antara jalur sastra yang lain, salah satunya dengan puisi ia berdoa.

“Saya ingin karya-karya saya tidak sia-sia dan mendapat ridho dari Allah. Bekal saya di akhirat nanti.” Papar Taufik.

Gimana, Sob… Sudah siap mencontoh Taufik Ismail, berdoa dalam puisi dan ikut turut menggairahkan puisi islami di tanah air? [nurjanah]

 

 

 

Artikel Sebelumnya :

2 Komentar :
2012-01-01 07:21:48 WIB

Budi Yulia

saya sangat setuju dengan pemaparan penyair kesohor kita, ayahanda taufik ismail. dengan puisi, kita bisa mengutarakan harapan-harapan kita melalui kata-kata indah penuh makna. saya sangat senang sekali membaca dan mendengarkan puisi yang sarat do'a dan harapan.
negeri ini memang harus memiliki banyak penyair seperti itu, namun kitapun juga harus bisa lebih gemar membaca karya orang lain untuk belajar, dan sebagai referensi dari karya kita sendiri.

2012-01-11 15:37:19 WIB

alfafa

membaca, menulis, praktik sebagaibentuk ikhtiyar dan do'a sebagai harapan tentu bisa membuat kita lebih baik. saya sepakat, komunikasi islam tentu berbeda dengan komunikasi islami. nilai2 islam selalu dapat direfleksikan dlm sgla segi kehidupan, tidak melulu hanya bentuk dalil2 normatif, tapi pijakan utamanya tetp Qur'an dan Hadits donk. nah, sastra tentunya harus bisa mewakili itu.


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)