Sahabat yang Baik
27 Des 2011 | Rubrik: Kisah Sejati - Dibaca: 3056 kali
“Mbak Nadin… Bukankah kita harus menjaga aib saudara, karena jika kita bisa menutupi aib saudara, maka aib kita akan tertutup di akhirat kelak?” sms kukirim untuk Nadin mewakili perasaanku yang tengah sakit hati.
“Iya, benar, kenapa adikku?” balas Nadin singkat.
“Aku kesal saja dengan perumpaan saudara tidak diindahkan. Ucapannya saja mengaku saudara, padahal dia hanya menganggap sekadar teman yang ketika salah menjadi bahan perbincangan hangat bak gosip yang sudap siap diulas secara tajam setajam pisau!”
“wuiz… Sabar… Ada yang membuka aibmu?” Nadin bertanya lagi.
Kemudian aku berusaha tak membalas smsnya. Kuperhatikan mbak Ina yang tengah sibuk membahas masalah paling pelik seorang akhwat: virus merah jambu. Aku benar-benar kacau dalam diam dan melamun, tak kugubris ucapannya. Hanya seolah sedang menjadi pendengar yang setia dalam diam, tapi tak memerhatikan wajahnya.
Aku pun tak berani menegur Ana atau sekadar iseng menanyakan apa yang telah ia lakukan kepada orang lain di belakangku. Aku berusaha tenang dan akhirnya tersenyum sembari memasukkan ponsel.
Aku melirik Ana yang tengah memerhatikan ucapan mbak Ina dengan seksama. Aku pandangi wajahnya pura-pura memperhatikan ke sana ke mari atas bawah, padahal kuhanya ingin melihat wajahnya. Wajah asli yang tidak pernah kusangka dari balutan jilbab luwes syar’i serta celana panjang hitam longgar yang sering ia kenakan.
Dua jam berlalu, kami kembali ke rumah masing-masing, tak lupa salam hangat cipika-cipiki yang selalu dilakukan saat bertemu dan saat kembali pulang. Aku berusaha menepuk bahu Ana. Kemudian kusunggingkan senyuman lebar seraya menatap wajahnya.
“Semoga kita semua berjumpa di Surga-Nya.”
“Aamiin... jaga kondisimu baik-baik yah! Kau kan sering sakit, jangan lupa minum madu,” ujar Ana dengan wajah berseri-seri.
Kemudian kusalami Levi. Entahlah, aku masih melihat sosok Levi berbeda dari Ana. Levi pendiam namun wajahnya sering sekali muram dan tidak murah senyum. Jika sedang marah, terlihat sekali mata dan bibir mungilnya saling mengkerut. Aku pun kembali ke rumah dengan perasaan yang campur aduk. Dan aku langsung mengirim pesan lagi dengan Nadin. Aku memang butuh tempat curhat yang benar-benar mengerti seperti Nadin, bahkan aku beruntung, karena Liqo aku bertemu dengannya. Namun karena Nadin berjauhan denganku, kini hanya sms dan telepon yang dapat kami lakukan.
Aku mencurahkan segala kekesalan dan semua keburukan yang dapat kulihat dari Ana. Ana memang tidak lebih dari sekedar kerikil kecil, namun bisa membahayakan. Hari itu aku menumpahkan segala kekesalanku dan kuceritakan permasalahan tentang kebencian dan ketidaksukaanku terhadap wanita-wanita yang mengaku saudara. Jika bertemu teman di jalan menanyakan siapa wanita yang bersamaku, aku jawab dia saudaraku. Lagi dan lagi aku selalu menjawab saudara. Bukankah semua muslim bersaudara?
Hari itu aku dan Nadin asyik menceritakan siapa-siapa yang membuat aku rapuh hingga tak sengaja aku mengatakan, “Inilah mereka wanita berparas munafik!”
Tatkala hatiku merasa tenang ketika sudah menceritakan satu persatu sifat teman Liqo baruku kepada Nadin. Gayung bersambut, tak lama Nadin ikut menceritakan tentang ketidaksukaannya dengan seseorang yang sudah kukenal. Kami sama-sama tidak menyukainya karena sifatnya yang terkadang membuat kami tak dapat mengertinya.
“Ups…,” Aku mendengar suara azan berkumandang, dan memutuskan untuk menghentikan smsan dengan Nadin.
Setelah selesai azan, aku mengambil air wudlu. Tak sadar aku malah terpeleset di kamar mandi. Sakit sekali hingga membuat kakiku terkilir dan membengkak. Entah kenapa saat aku duduk sambil mengipas-kipas kakiku, aku mengingat Nadin dan orang-orang yang ramai kusebut dalam smsku barusan. Aku merasakan musibah ini adalah sentilan dari Allah karena aku sudah terlalu banyak membuat noda hitam pada hatiku.
Dan aku ingat akan hadist yang mengatakan:
"Janganlah kalian menyakiti kaum Muslim, janganlah menjelekkan mereka, janganlah mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesama Muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan, siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun ia berada di tengah tempat tinggalnya." (dari Abdullah bin 'Umar)
Ya, aku dan Ana adalah muslim. Walaupun dia bertindak tidak baik denganku dan mengguncingku, aku bisa apa? Selain mengingatkan atau berdo’a memohon ampun mungkin aku memang memunyai kesalahan. Tapi setidaknya aku sama saja sedang membongkar aib keburukannya. Ketika dia membongkar keburukanku aku malah terbawa hanyut ikut dengan arus ombak yang tengah menerpaku. Aku ikut lalai bahkan saling membuka aib. Namun bedanya aku membukakan aib seseorang kepada orang lain yang tak mengenalnya. Tapi tetap saja kesalahan orang lain aku dapat melihtanya, namun kesalahanku yang menggunung tak dapat dilihat, sekalipun itu hanya bayangannya saja.
Seorang sahabat muslim memang harus menjaga ucapan dan perilakunya agar tak menyakiti orang lain. Dan apabila salah satu di antaranya saling membenci dalam sangkar dan tak terlihat, haruslah ada sahabat yang bisa membimbing ke jalan yang benar. Beruntung aku cepat menyadarinya ketika kakiku terkilir. Alhamdulillah, Allah cepat membuatku sadar hingga kumalu dan ingin menangis di hadapan-Nya.
Bukankah komunikasi yang baik sesama saudara adalah saling mengingatkan bila sunyi, merindukan bila jauh, memahami bila keliru, menasehati bila lalai, dan memaafkan bila terluka? Alangkah indahnya ukhuwah jika semua karena Allah... "Uhibbukum fillahi ta'ala, ya Ukhtiy... Aku mencintai kalian karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, wahai saudai-saudariku."
Seketika aku tersadar dan berusaha mengingatkan Nadin juga untuk tidak membahas perkara yang membuat kita hina di hadapan-Nya. Hari itu juga, di antara kami banyak perubahan. Nadin lebih dewasa menyikapinya. Jika di antara kami ada yang ”bablas” ketika curhat tentang seseorang atau sebaliknya, kami berusaha mencari keindahan di sela-sela kegundahan dan kegalauan hati. Dan solusi terbaik yaitu sikap bijak dan membawa perubahan yang lebih baik.
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mengasihi dan menyayangi adalah bagaikan satu tubuh, jika salah satunya merasa sakit maka seluruh tubuh (merasakan sakit) menjadi demam dan tidak bisa tidur'' (HR. Muslim)
Sedikit share tentang Adab Bergaul:
-
Ikhlas karena Allah semata
-
Mudah memafkan
-
Tidak segan untuk berterima kasih
-
Menjauhi sifat dengki
-
Selalu bersifat malu
-
Menampakkan kegembiraan dan wajah yang ceria
-
Menghindari prasangka buruk.
-
Menghargai pendapat orang lain.
-
Bersikap Tawadhu'
-
Menyimpan rahasia
Terima kasih
Halaman: 1 |
14 Komentar :
wah, trims udah ingatkan kita juga ya... memng tnpa sadar kita malah berbuat hal yg sama dgn org yg kta bicarakan. semoga ke depanny kita jdi lbh baik.
syukron nida sudah dimuat...
buat pembelajaran kita semua yang sedang mencari RIdlo-Nya...agar menjadi lebih baik... amin...
alhamdulillah tnpa sdar ana sdah ingat ttg arti dan cinta sahabat yg sesungguhnya,,,pgertiannya ibrt dakwah onlie yg tiap hari mengingatkan ana dan membuat ana lbih bersyukur lg kpd ALLAH sang pencipta,,,yg jga tlah mengirimkn sosok shbt sprti itu kpd ana,,,alhmdulillah
syukron..rabb dekatkanlah kami dgn hamba2 yg mencintaimu agar bertambah ketakwaan kami, bertambah kokoh ikatan persaudaraan kami.
MAKA DARI ITU JANGAN SALAH SANGKA TERHADAP ORANG LAIN, KAN ISLAM MENGAJARKAN AGAR SELALU BERPERASANKA BAIK TERHADAP ORANG LAIN
syukran, dah ngingatin...yuuukkk mekarkan sifat husnuzan...Allahu Akbar!!!!!!!!!
Isi Komentar :




