Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

Menjadi Besar Karena Kritikan

23 Des 2011 | Rubrik: Dapur Penulis - Dibaca: 1099 kali

 

Penulis: Sam Edy Yuswanto*

 

Sobat Nida, pernah nggak saat tulisan kalian dimuat di sebuah media, lantas mendapatkan kritikan pedas hingga membuat kuping mendadak panas? Kalau pernah, lantas apa yang kalian lakukan? Membalas sekaligus membela diri dengan kata-kata amarah yang lebih pedas? Kalau itu yang kalian lakukan, apakah itu membuat kalian puas? Atau… malah semakin galau?

Ya. Dalam setiap karya yang kita toreh, terlebih jika telah dimuat di media massa, maka pastinya akan menuai komentar beragam dari para pembaca yang karakternya beragam pula. Ada yang memuji. Namun ada pula yang mencaci. Ada yang suka. Juga ada yang tidak suka. Saya pernah mengalaminya. Beberapa waktu lalu, saat salah satu cerpen saya dimuat di sebuah media, saya mendapat banyak komentar. Ada yang memuji, mensupport, mengkritik tapi membangun, hingga caci-maki dari orang yang menganggap karya saya itu seperti sampah (yang terakhir saya sungguh heran, kenapa dia berasumsi demikian, karena dari komentar yang masuk hanya dia melempar cacian dengan kasar, padahal tulisan saya waktu itu mengandung hikmah; mengajak kita lebih peduli dan menolong orang miskin).

Tapi, saya tanggapi kritik pedas itu dengan hati dan kepala dingin. Saya tak balas mencaci. Saya tanggapi dengan kesantunan. Apapun komentar mereka, saya anggap itu sebuah masukan yang akan melecut diri saya agar lebih baik ke depannya. Saya anggap ini ujian. Saya lekas menengok sejarah Nabi. Sungguh, dibanding dengan perjuangan dakwah Rasulullah SAW saat dicaci-maki dan dilempari kotoran oleh orang yang tak suka pada beliau, saya masih belum ada sekuku hitamnya.

Begitulah. Kritikan super pedas yang saya alami pada akhirnya tidak membuat saya terpuruk (meskipun jujur sempat galau dan sedih) apalagi sampai membalasnya dengan kritik dan caci-maki. Sekali lagi saya katakan, semua kritikan yang masuk, akan saya jadikan sebagai cambuk semangat bahwa ke depan saya harus banyak belajar lagi. Harus lebih baik lagi dalam berkarya. Itu yang selalu saya tekadkan dalam relung hati.

Di sisi lain, saya juga tak lantas takabur apalagi berbangga diri saat mendapatkan pujian atas karya yang telah dimuat dan memberikan kesan buat para pembaca. Saya menganggap, pujian hanyalah “sebuah bonus indah” atas karya yang telah kita hasilkan dengan susah payah. Bagi saya, pujian itu sejatinya sangatlah memabukkan. Bisa membuat seseorang terlena, mudah merasa puas dan akhirnya malah berakibat tak tahan banting saat berhadap realita pahit.

Sobat Nida, saya ingin berbagi pengalaman pada kalian. Pada akhir tahun 2009 silam, tulisan saya dikritik habis-habisan. Tepatnya pada tanggal 28 Desember 2009, cerpen saya “Terompet Tahun Baru” dimuat Annida-online (silakan kunjungi: http://annida-online.com/artikel-1182-terompet-tahun-baru.html ). Waktu itu masih ada rubrik “Galeri” yang diasuh oleh Mas Joni Ariadinata. Kebetulan, cerpen saya terpilih mendapat komentar dari beliau (setelah sebelumnya saya selalu bermimpi; kapan ya cerpen saya dikomentari Mas Joni? Hehehe).

Sungguh tak dinyana, cerpen tersebut—mulai awal hingga akhir dibabat habis—dikritik hingga saya tak berkutik, hehehe. Jujur, sempat rada shock dan merasa jatuh pede pokoknya. Oh my God, apakah tulisan saya seburuk itu? Hiks!

Tapi, saya coba berkepala dingin. Saat saya cerita sama teman sesama penulis, dia menguatkan saya. Bahkan dia nggak setuju 100% dengan kritikan beliau. Perlahan, saya pun bangkit. Pasang strategi baru. Mengatur siasat untuk membuktikan bahwa saya bisa membuat cerpen yang lebih baik lagi dan tentu saja sesuai dengan anjuran yang telah disampaikan oleh Mas Joni di rubrik Galeri tersebut.

Sobat Nida, saya kemudian membuat cerpen seri keduanya, bahkan judul cerpen tersebut saya ambil atas saran Mas Joni; judul yang lebih berisi dan membuat pembaca tergoda dan penasaran saat membacanya, yaitu; Terompet yang Terbakar (silakan kunjungi: http://annida-online.com/artikel-2539-terompet-yang-terbakar.html ).

Dan subhanallah walhamdulillah, cerpen tersebut akhirnya dimuat lagi di Annida-online, pada akhir tahun 2010 (tepatnya 27 Desember 2010). Pada akhirnya, saya selalu berusaha menjadikan kritikan demi kritikan sebagai sarana untuk introspkesi diri dan membuktikan bahwa saya bisa berkarya lebih baik lagi.


Seseorang yang ingin terbang, hari pertama harus belajar berdiri, berjalan dan kemudian berlari. Selanjutnya, memanjat dan menari. Untuk bisa terbang, ia tidak langsung terbang (Friedrich Nietzsche-Filsuf Jerman).

 

***

 

 

Sam Edy Yuswanto*

*Lebih dari limaratus karyanya ditolak media & lebih dari seratus karyanya dimuat di berbagai media, lokal hingga nasional.

 

 

 

Artikel Sebelumnya :

10 Komentar :
2011-12-23 14:43:33 WIB

annur

ehhehe.. aku sering kok dibabat habis bahkan dikritik sama nida 2 cerpen sekalgus... apa gak sakit hati tuh? hahha cerpen pertama sih emang yg bkin sakit tuh ampe ada yg komntar menakutkan.. yag walpun skrng blum ada cerpen yg terbit tpi tak kurang rasa semangatku...
jujur sih aku malah lebih suka dgn novel.... maknnya terkdang ada hrapan menjad novelis ktimbang cerpenis yg minimalis...
tapi berkat nida bacaannya mnjadi rasa smengat yag bergairah...
karena Annida aku jadi suka baca cerpen...syukron temni hari2ku secara online... hehe hrs online slamnya hoho.... semangat

2011-12-23 21:01:05 WIB

nabila

aku sering bwt tulisan juga tpi,karena aku minder jadi gak lagi, males juga ,terus pas ikut lomba cipta puisi dapetnya harapan ,apa yang mo diharap coba?

2011-12-24 00:41:15 WIB

CP

Sungguh, aku malahan pingin sekali mendapatkan kritik dari sebagian orang. kritik menurut aku akan membuat aku mengenali diri. Letak kesalaha, kekurangan yang terjadi karena ketidaktelitian. Atau pun dalam bahasa yang kita pakai.

Jujur. aku belum mempunyai kerya apa pun. Tulisanku di komentar pun masih amburadul. Makanya dari itu aku sangat butuh pengkritik. Ibarat seorang artis, tanpa Fans apalah arti seni mereka.

Thanks you atas sharenya mas Sam.

2011-12-24 10:46:08 WIB

Agung Dodo Iswanto

Waduh saya masih nulis cerpen di angka puluhan awal nih, masih jauhhhhhhh tapi kita percepattttt.

2011-12-25 11:23:41 WIB

Half

Membaca keterangan tentang penulis (yang paling bawah), saya jadi takjub. Saya kalah semangat. Saya bahkan belum sampai menulis 50 cerpen. Saya juga mengalami ketergantungan dengan mood.
Sepanjang pengalaman menulis saya, baru sekali cerpen saya dimuat, dan itu di media lokal. Betapa senangnya. Dan saya juga butuh kritikan dari teman-teman.
Ini linknya : http://kotaksastra.blogspot.com/2011/10/dari-surau-tempat- min-bersemayam.html

Mohon di kritik ya, karena saya juga ingin menjadi besar.

2011-12-25 13:19:13 WIB

Wahyu

wah..keren pengalaman itu mbak,,,
mbak, kalau mau memulai tulisan itu gmna? terkadang wahyu malas untuk memulainya...

2012-01-14 00:08:49 WIB

Mardiana Kappara

Tulisan yang penuh motivasi. Terima kasih.

2012-01-25 07:27:08 WIB

Nenny Makmun

terima kasih share sangat memotivasi dan insiratif membangkitkan untuk terus berkarya

2012-02-20 16:43:04 WIB

Lukman

Wah,cerita'y menginspirasi bngt tuh,aq jga lg blajr nulis,tp bkan crpen,hanya tulisan bebas tk berarah,yg biasa aq tulis karena suatu pengalaman dri,tp didlm'y disisipin kta2 bijak gtu,tp mo minta kritikan msih ragu2

2012-05-06 19:49:18 WIB

Puspita

Terimakasih atas motivasinya


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)