Dialog Enam Malam (Part 1)
20 Des 2011 | Rubrik: Cerbung - Dibaca: 4269 kali
Malam pertama – Pecah
Fitri - Ia
“Apa yang membawamu padaku, Fitri?” Ia memecah keheningan yang sesaat tercipta. Dalam nadanya terbias curiga, tak terduga, namun bahagia. Mengetahui bahwa Fitri masih ingat padanya.
“Aku rindu padamu,” jawab Fitri dengan singkat.
“Rindu? Dengan air mata itu?” Ia tak yakin. Ia tahu, rindu Fitri padanya bias.
“Ya.”
“Jangan buat aku membuat kesimpulan yang salah. Katakan yang sejujurnya. Kau tidak rindu padaku. Kau rindu padanya.”
“Tidak. Aku mengatakan yang sesungguhnya!” Suara Fitri sedikit meninggi, semakin mendesak tangisan yang sudah ditahan di tenggorokannya. Pecahlah sudah. Lagi.
“Hey, hey, Fitri… Aku tidak bermaksud menekanmu seperti itu, maafkan aku… Aku hanya ingin kau berkata jujur padaku.”
Fitri membenamkan wajahnya dengan kaki terlipat. Fitri tak mau melihatnya.
“Mengapa… Mengapa, mengapa kau tak izinkan aku?” Suara Fitri serak, tercampur dengan isak tangisnya.
“Izinkan apa, Fitri?”
“Untuk menemuimu lagi. Mengapa, mengapa tak kau izinkan aku hanya untuk menatap wajahmu saja?”
“Tidak, bukan itu maksudku…”
“Mengapa? Kau tak jawab pertanyaanku.”
Fitri mengangkat pandangannya. Saat itulah kedua bola mata Fitri bersitatap dengannya. Ada sejuta kalimat yang tak mampu Fitri ucapkan untuk mewakili perasaannya.
“Maafkan aku, Fitri… Hanya saja, ini malam pertamamu. Dan kamu bukan lagi milikku. Aku tak bisa. Maafkan aku.”
“Untuk sekali ini saja?” Fitri masih membujuknya. Ia terdiam sejenak.
“Baiklah. Dengan satu syarat. Jangan memintaku untuk memutar balikkan waktu.”
***
Fikri
Aku mengerti. Semua memang tidak berjalan sesuai dengan kehendak manusia. Namun mengapa seringkali kebijakan itu samar terlihat, tidak mampu aku raih? Tidakkah manusia diberikan hati untuk melihat semuanya dari nurani? Bukan semata dengan logika dan akal. Aku tahu, aku tidak hitam, namun juga tidak putih. Tapi aku tidak pernah mengacuhkan nurani yang selalunya mengatakan kebenaran.
Aku ingin berkaca pada malunya Utsman bin ‘Affan yang tetap saja mendapatkan kepercayaan Rasulullah untuk menikahi kedua putrinya. Aku ingin berkaca pada ‘iffah-nya Ali bin Abi Thalib yang memendam rasa cintanya pada Fathimah binti Rasulullah, namun berhasil menjadikannya sebagai pendamping hidup. Aku juga ingin berkaca pada ‘izzah-nya Umar bin Abdul ‘Aziz yang sempat terpesona pada seorang wanita muda saat ia sudah beristri, namun di saat istrinya sudah mengizinkan Umar untuk menikah lagi pada beberapa waktu kemudian, Umar menolaknya dan mengatakan bahwa ia sudah tidak tertarik lagi dengan dunia. Aku malu, aku malu pada Hanzholah yang rela meninggalkan istrinya di malam pertamanya -dalam keadaan junub- hanya demi memenuhi panggilan mulia untuk berperang. Peduli apa ia pada kematian? Tak terfikirkah dalam benaknya bagaimana perasaan istri yang ditinggalkannya? Aku malu pada seorang salafus sholeh yang mampu bersabar selama lima belas tahun hidup bersama istrinya yang berbibir sumbing, tanpa mencaci istrinya sedikitpun.
Apa yang mereka cari… Apa yang mereka cari… Mereka adalah manusia, yang bisa tertarik dengan wanita cantik. Mereka juga manusia, yang juga mengenal cinta dan rindu. Mereka juga manusia yang dibekali syahwat. Perbedaanya hanyalah mereka lebih mencintai Allah dan surga-Nya lebih dari apapun. Dan aku?
Aku telah diberikan amanah yang tidak ringan. Lihatlah wanita ini. Ia yang kini sedang terbaring dikasurku--dulu--adalah wanita yang menurut kebanyakan orang, nyaris sempurna. Dan aku--masih kata mereka--adalah lelaki yang beruntung bisa memilikinya sebagai seorang qowwam. Seorang pemimpin. Seorang Imam. Seorang suami. Aku ragu apa yang sebenarnya ingin mereka katakan. Mereka memujiku, namun seperti ingin mengatakan, ‘kamu lelaki tak tahu diri!’.
Apapun itu, tapi lihatlah ia. Wajahnya manis. Khas wanita Indonesia. Kepintarannya tidak diragukan lagi. Dalam umurnya yang masih sangat muda, 21 tahun, ia sudah menyelesaikan strata satunya di bidang IT. Pandai bergaul. Mudah bersosialisasi. Mampu berhadapan dengan khayalak ramai, lisan maupun tulisan. Keluarganya pun tak bisa dikatakan keluarga miskin.
Tapi apa yang aku lihat darinya? Jika aku melihatnya sama seperti kebanyakan orang, itu sama saja seperti menyudutkan diriku sendiri. Aku tidak mau. Aku bukan pengecut. Mereka boleh melihat seperti itu, tapi aku tidak akan merendahkan diriku.
“Sedang menulis apa?”
Tiba-tiba suara Fitri mengejutkanku. Refleks aku me-minimize dokumen yang sedang kutulis.
“Lho, kamu belum istirahat?”
Aku melirik jam yang tergantung di dinding. 02.30 am. Aku ingat tadi ia langsung terlelap satu jam setelah pembicaraan 'tak saling menatap mata' berlangsung antara aku dan dirinya. Fitri tidak bangun dari kasur. Setengah duduk ia menoleh ke arahku sekilas.
“Aku haus.”
Tanpa perlu menunggu detik berlalu, aku bangkit menuju dispenser di pojok kamar dan kembali dengan segelas air putih. Segera ia meneguk habis air di dalamnya dan memberikan gelas kosong kepadaku.
“Kembalilah istirahat. Kau pasti lelah sekali.”
“Dan kau?”
“Akan segera menyusul,” Aku tersenyum.
10 Komentar :
mm... q suka selipan pengalaman para sahabat nabi, meski sekilas tp bs buat referensi.. lanjutan ceritanya di tunggu..
cerita yang bagus.. peracikan kata-kata yang pas.. misterius... dan membuat orang penasaran apa maksud yang ingin di sampaikan penulis.. ditunggu lanjutannya...
hm.... catetan buat kita yang belum menikah untuk meninjau kembali niat dan kesiapan untuk mengarungi kehidupan ini... dengan seseorang yang akan kita pilih atau yang memilih kita hehe..
waaahhh,, pnasarn lnjutan'a,,
da byk prtnyaan yg blm trjawb, trutama knapa fi3 brani m'ambl kptusan utk mnikahi org yg tdk dihrapkn'a utk mnjd suami'a,,
mg lanjutn'a tdk mngecwakan,,
menikah memang harus di landasi niat menikah karena allah dan ibadah sunah rasul.alhamdullilah saya sudah menikah.baca cerbung ini jdi ingat waktu baru menikah.di tunggu lanjtanx hehehe ^ _ ^
Subhanallah,,,
Jd penasaran gmn lanjutannya,insyaAllah bakalan keren nich :D
Udah lama gak baca annida,rindu rasanya,,,
Alhamdulillah sekarang sudah mulai terobati ^_^
Seunangnya hati,,,he
subhnallh bGT.... ceritax Bgus bGt... jdi Pnsran Ma klanjUtnx, nida lnnjUtnx mna,,,???? :)
Isi Komentar :




