Little Hero
19 Des 2011 | Rubrik: Kisah Sejati - Dibaca: 1424 kali
Penulis: Annisa F. Umara
Kepalaku terasa amat pusing. Nampaknya kepalaku kurang bersahabat dengan terik matahari di siang ini. Selain itu, sejak tadi pagi belum ada makanan yang mampir di perutku. He’em, mana sempat… batinku mengikuti gaya sebuah iklan makan-minuman instan. Pagi-pagi aku harus berangkat ke kampus. Setelah menunggu lama, akhirnya kuliah hari itu selesai. Perutku tak lagi bisa diajak kompromi. Kuputuskan untuk segera pulang dan makan di kost-an. Kocekku tak sesuai budget kantin di akhir bulan ini. Betapa merananya nasib anak kost-an di akhir bulan.
Langkah lemah merayap, akhirnya sampai juga aku di halte seberang fakultasku. Lama rasanya menuggu bus kampus, ditemani perut keroncongan dan kepala yang terasa semakin pusing. Walhasil aku jadi ngelamun, setengah tidak sadar, hampir ingin pingsan. Aku memain-mainkan telepon genggam tipe jadul yang sudah tujuh tahun menemani aku. Huuufft... kalau bukan karena tidak punya uang dan tahan bantingnya telepon genggam ini, sudah lama rasanya ingin membeli telepon ganggam baru. Aku melirik ujung jalan, bis kampus belum juga datang.
“Tidak tahu kah bapak supir... di sini ada seorang anak mahasiswa yang tengah kelaparan dan ingin segera sampai di kost-an?” Aku bergumam.
Aku kembali memainkan telepon genggam. Lamunanku semakin ngawur. Aku membayangkan telepon genggam yang tahan banting ini jatuh lalu masuk ke selokan tepat di depanku.
Mencoba menerka-nerka, “Siapa ya orang baik hati yang mau ngambilin ke dalam selokan? Apa ada orang yang baik hati mau ngambilin?”
“Hheemmm... kalau yang mengambil seorang wanita akan aku jadikan sahabat, kalau seorang pria akan aku....,” lamunanku terhenti.
Belum tuntas rasanya lamunanku, tiba-tiba otot tanganku melemas. Kontan saja, telepon genggam yang aku main-mainkan terlemapar cukup jauh ke lantai. Seperti yang aku bilang, telepon genggamku memang tahan banting. Casing-nya lepas berantakan. Telepon genggamku meluncur menuju cepat saluran air yang cukup dalam dan lebar di depan halte.
Ups! Ini yang namanya mimpi jadi kenyataan. Aku hanya terpana memandangi telepon genggam yang hancur berantakan. Casing belakang dan baterainya terpisah, berantakan. Casing belakang dan badan HP berhenti meluncur tepat di ujung penghalang saluran air. Tapi ternyata, ada yang lebih tragis nasibnya. Beterai telepon genggamku, tak berhenti meluncur di situ, ia terjun bebas masuk ke selokan.
“Hah?!” Aku sibuk sendiri dan berharap orang-orang di sekitar bisa membantuku.
“Gimana ngambilnya tuh, Mba?” seorang wanita di sampingku angkat bicara. Yang bertanya tidak kalah bingungnya dari yang ditanya.
Tidak mungkin aku turun ke selokan lalu masuk ke bawah penghalang saluran air. Kulihat beberapa wajah yang sedang duduk di halte. Berharap ada orang yang mau merelakan dirinya turun ke dalam selokan yang lebar dan dalam itu.
Aku lihat ada sesosok pria, tapi betapa segannya diri ini untuk meminta tolong. Hilang sudah lamunanku tentang siapa yang mau mengambil kepingan telepon genggamku yang brcerai berai.
“Lagipula, mana mungkin pria-pria berdandanan klimis itu mau turun ke dalam selokan?” Aku mencibir. Mereka terlihat tidak peduli dengan diriku.
Aku meilirik dua orang wanita yang ikut menyaksikan kemalanganku, “Hhuuuhhhh... Mba-Mba nggak bisa diharapkan!”. Aku urungkan niat untuk minta tolong ke kedua wanita tersebut.
“Minta tolong nggak ya... Kalo enggak itu sama artinya dengan aku harus membongkar celengan untuk membeli baterai baru. Hiks hiks...,” Aku tawar menawar dalam hati. Sungguh betapa malangnya nasib anak kost-an di akhir bulan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan uang harus dipertimbangkan dengan sangat matang.
“Huhuuu... sepertinnya harapan itu masih ada,” Aku menangkap sosok dua orang bocah yang sigap saat tahu bateraiku jatuh ke saluran air. Tanpa berfikir panjang aku meminta tolong kepada mereka.
“Dek, mau tolong ambilin nggak? Baterai HP kakak jatoh ke selokan.”
Dua bocah tampak berdiskusi satu sama lain. Sesigap satpam yang bertemu maling, mereka langsung menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP). Mereka memutuskan siapa yang akan turun ke saluran air (Hohooo, aku terharu).
Anak yang bertubuh lebih kecil akhirnya turun, sebelumnya mereka bertukar sandal. Dasar selokan terlihat becek. Hanya anak-anak yang mau masuk ke saluran air sambil becek-becekan. Dengan rasa harap-harap cemas, aku menunggu seorang anak yang masuk ke dalam selokan. Aku dan salah seorang anak yang lain memandu dari atas selokan. Orang-orang di sekitar halte hanya menjadi penonton setia.
Hampir lima menit kami mencari baterai yang warnanya samar dengan dasar selokan. Alhamdulillah, berkat perjuangan bocah berhati mulia itu, baterai telepon genggamku masih bisa terselamatkan. Senang rasanya, seperti baru saja menyelamatkan seekor anak kuda yang terjebak di dalam sumur. Heheee.
Setelah si anak yang rela berkorban tanpa pamrih itu naik, sesegera mungkin kuucapkan terima kasih dari hati yang terdalam. Kusambut pahlawan kecilku dari medan pertempuran. Hehehee.
“Mau dibelikan apa? Kan sudah bantu kakak...,” tanyaku dengan sedikit basa-basi. Sungguh, sebenarnya aku jadi ingat isi dompet yang tidak lagi tebal.
“Enggak usah, Ka,” meraka menjawab kompak dengan malu-malu.
“Huhuuuu... sungguh pengertian sekali, tau saja kalo kakakmu ini sedang tak punya uang,” Aku membatin.
Kupastikan dengan benar bahwa mereka menolak tawaranku. Ya, mereka tetap tidak mau menerima imbalanku.
“Namanya siapa aja nih?” Kutanyakan nama mereka satu persatu. Berharap doaku untuk mereka terkabul, meski aku tidak membalas kebaikan mereka dengan materi.
“Aku Fitra,” bocah yang berbadan lebih kecil menyebut namanya. Ia anak yang merelakan dirinya masuk ke selokan.
“Aku Nandif, Ka,” ia menyebut namanya seraya membersihkan sendal yang kotor karena air selokan. Nandif ialah anak yang meminjamkan sandalnya untuk dipakai menginjak selokan.
Aku tersenyum, “Aku akan memasukkan nama kalian ke dalam doaku,” batinku.
Setelah itu, kami kembali ke posisi duduk masing-masing. Kubersihkan bateraiku dari kotoran selokan. Baru aku sadari, betapa aku harus tetap bersyukur meski hanya memiliki telepon genggang tipe jadul. Namun, ia sangat berarti dan kubutuhkan selama ini.
“Hiks-hiks, mudah-mudahan masih bisa dipakai,” aku berharap dalam hati.
Tidak terasa, rasa laparku hilang sejenak. Bus kampus pun tidak lama kemudian datang. Aku naik ke dalam bus dan tetap memerhatikan mereka. Bocah-bocah berhati mulia. Aku akan mengingat kebaikan kalian, semoga Alloh membalas kalian dengan kebaikan yang berlimpah. Aamiin...
Halaman: 1 |
11 Komentar :
setting bus kampus dan halte yang punya selokan dalam itu, mengingatkan aku pada halte bus kampus UI (maaf sebut merk). Cerita yang menyentuh sekali. Jarang sekali ada orang dewasa yang mau membantu seperti kedua anak kecil itu. Sepertinya kita pun harus banyak belajar dari anak-anak..
Biasa aja! Meski di dalamnya ada pesan moral tapi menurutku ceritanya gak terlalu menarik karena ceritanya mengalir lurus tanpa ada greget!
Cool .
Aku gak bisa ngebayangin kalo ntar jadi mahasiswa, yang harus nge kost.. haha
hmmm....miriss... mngenaskan jd ank kost an...
sabar...tetep semngat....dan bersyukur....karna dibalik tu semua ada nikmat nya dan hikmah nya...
isi cerpennya bagus, bisa buat gambaran bagi yang mau kost. terus berkarya ya...
akarui cha, tepat sekali! kejadiannya memang di kampus UI ^^
for all, terimakasih komentarnya...semoga kisahnya bisa mengisnpirasi :)
ALHAMDULILLAH ya mba hapenya masih bisa dipakai...ALLAH itu sesuai dengan prasangka hambanya, kalau kita berpikir baik insyaallah baik hasilnya, dan juga sebaliknya...mudah-mudahan bisa saling menasehati dalam kebaikan ya mba...AMIN.
alhamdulillah..iyup betul sekali..
amin amin..semoga selalu bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yaa ^^
trims hindriyanihisyam
berharap akhirx yg membantu pria dewasa, trus jd suami...atw adik2 itu jd adik asuh...ternyta hy doa, ya lumayanlah lebih realistis...oale aku juga dulu mahasiswi kere, mending sekarang py hp, jaman q dulu masih pager...itu juga kalangan tertentu banget...jadi y kudu bersyukur emang dan byk nabung, selesai kuliah biar py tabungan byk hasil nabung uang kiriman, seperti dq...wlwpun akhir habis stelah nikah...soale nikah pas kuliah...heheheh
kalau kisah sejati ada honornya gag ya, kalau dimuat?
kok yang di rubrik kirim tu1isan cm Cerpen,Epik,Travelstory,Cerpen Ngocol,Cerbung dan Serial aja?
Isi Komentar :




