Inspirasi dalam Berharap
16 Des 2011 | Rubrik: Resensi - Dibaca: 825 kali
Judul : Izinkan Aku Berbagi Harapan
Penerbit : OASIS Kreativita, Ufuk Press
Pengarang : Vivi Alatas
Jenis buku : Memoar, spritual
Halaman : 204 hlm.
Terbit : Oktober 2011
Sobat Nida, sering bingung saat memanjatkan doa? Meskipun tahu Allah mampu mengabulkan segala permintaan, akan tetapi doa yang kita sampaikan pada-Nya dari hari ke hari yaa itu-itu saja, tidak kreatif, kering penghayatan. Begitukah?
Kita sekedar berdoa sapu jagad, doa untuk orangtua, lantas berdoa instan seperti minta diluluskan pada ujian akhir, minta dapat pekerjaan, minta jodoh, doa itupun tidak dilanjutkan lagi setelah terkabul atau justru terlalu lama tidak dikabulkan. Benar begitu?
Rasanya kemahiran kita dalam memanjatkan harapan bisa terkatrol dengan membaca buku yang satu ini. Penulisnya merangkai goresan tintanya dengan menggunakan hati, bahkan setiap tulisan dalam buku ini awalnya ditujukan untuk dirinya sendiri.
Sebagai seorang perantau di negeri orang, tepatnya di sebuah kota kecil di Amerika yang bernama Princeton, sang penulis menjadikan aktivitas menulis sebagai metode untuk berbincang dengan hatinya. Sebagian besar tulisan ini dibuat sepuluh tahun lalu, yang kemudian ia bagikan di milis, dan menjadi sarana pelepas rindu dengan keluarga dan Indonesia.
Sederhana Namun Berbobot
Buku ini ditulis dengan sangat sederhana, seperti curhat, tapi bobotnya tidak sederhana. Karena yang dibicarakan adalah pengalaman pribadi yang berkaitan dengan harapan dan doa.
Misalnya pengalaman pribadi penulis dan suaminya saat menghadapi kenyataan sulit untuk memperoleh anak. Bertubi-tubinya pertanyaan orang sekitar serta ketakutan dikejar usia sempat membuatnya stres.
Berbagai buku dibelinya dari amazon.com, ia mencari website yang layak ditelaah mengenai fertilitas. Ia belajar chikung dari DVD, pergi ke subspesialisasi dari dokter kebidanan, dan rela menunggu di ruang praktek dokter hingga jam satu pagi. Apapun dijalani demi menimang buah hati.
Namun kemudian ia menyadari bahwa keinginan menggebu dapat menimbulkan stres yang justru berakibat buruk pada hormon kesuburan. Ia pun kemudian menyadari bahwa yang dibutuhkan justru kepasrahan, ketenangan, sembari tetap berusaha keras. Ia mempraktekkan doa-doa yang ada di al-Qur'an sambil mempraktekkan tawakal.
Dan apa yang dimaksud dengan tawakal? Dengan indah penulisnya mengutip perkataan Amru Khalid:
“Tawakal adalah tetap menjalani berbagai sarana dengan anggota badan, namun melepaskan segala sarana itu dari hati.” So, tawakal adalah pekerjaan hati... sementara itu tubuh kita harus tetap optimal dalam berusaha.
Satu bobot plus lainnya dari buku ini adalah layoutnya yang cukup berbeda dengan kebanyakan buku yang mencoba “berhemat”, baik dalam hal warna, font, maupun ilustrasi.
Buku ini cukup memanjakan pembaca dengan keindahan foto ilustrasi di setiap bab, warna kertas yang tidak menyilaukan mata, ukuran font yang cukup jelas, juga semburat warna oranye-coklat di setiap pinggiran halaman yang menambah kesan elegan.
Sedikit Noktah
Satu kekurangan yang sangat terasa sepanjang membaca buku ini adalah kesan jelas bahwa tulisan-tulisan yang dibuat tidak disengajakan untuk disusun menjadi sebuah buku. Banyak bab yang rasanya tidak saling berkaitan, sehingga terasa “suka-suka”. Bisa jadi karena gaya penuturan penulisnya yang seperti curhat, berbagi, dan mengalir apa adanya.
Kelemahan lainnya, penulis kurang memberi detail (bahkan terasa terlalu singkat) mengenai pengalaman yang justru memancing penasaran pembaca. Seperti terkabulnya doa dengan lahirnya sang buah hati, Nafisa Alia. Sehingga untuk dikategorikan sebagai sebuah memoar, buku ini masih terasa nanggung.
Yang jelas, inspirasi yang buku ini sebarkan tampaknya dapat menohok kita untuk lebih manis dalam berdoa, tidak “menyuruh-nyuruh” Tuhan untuk mengabulkan keinginan kita, akan tetapi kita pelajari juga etika dan “contekan” doa yang benar, yaitu untaian doa yang diajarkan Rasulullah Saw.
Pengen belajar “contekan” doa Rasulullah Saw. dan keluarganya? Juga ingin belajar untaian doa indah lainnya? Silakan baca buku ini... (Syamsa)
sumber gambar: cybersulut.com
4 Komentar :
tawakal adalah pekerjaan hati... sementara itu tubuh kita harus tetap optimal dalam berusaha..kata yang sangat bijak
intinya dalam berdoa pun kita tidak boleh asal berdoa, ALLAH MAHA TAHU sob, apa isi hati kita..
so, berdoalah dgn sungguh2 jika doamu ingin dikabulkan!
Saya setuju dengan kritik bahwa buku ini tidak dapat dikatakan sebuah memoar. Namun, akan lebih baik jika MEMOAR diberikan sedikit divinisi.
Dalam berdoa tentunya kita nggak boleh sombong dan rakus, jangan minta yang aneh2 pd TUHAN, dia tahu yg terbaik buat kita....hehe
buku yg menarik....
Isi Komentar :







