Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

SATU IMPIAN SATU TUJUAN

15 Des 2011 | Rubrik: Dapur Penulis - Dibaca: 1465 kali

 

Penulis: Alby S

 

 

Apa cita-citamu? Ingin jadi dokter, astronot, ilmuwan, insinyur, guru, atau seorang penulis? Tentu pilihan yang terakhir tidak pernah terbayangkan, bukan? Tidak ada satu orang pun yang dengan cepatnya akan menjawab bila cita-citanya ingin menjadi seorang penulis. Karena semua anak yang terlahir pasti memiliki cita-cita yang telah tergambar dalam otaknya.

Sebuah pilihan untuk menjadi seorang penulis hanya sebuah pilihan pendamping saja. Begitulah kira-kira. Karena terbukti, banyak sekali orang dengan profesinya ternyata menyempatkan untuk bisa menulis. Sehingga terciptalah sebuah profesi sebagai penulis. Guru yang jadi seorang penulis, dokter yang juga punya kerja sampingan sebagai penulis, dan masih banyak lagi contohnya. Kemudian kembali pada diriku. Apa menjadi penulis adalah cita-citaku?

Jujur aku katakan, bila cita-citaku dulu semasa kecil hanya ingin menjadi seorang artis. Tapi sayangnya, karena di rumah saat itu tidak ada listrik, bahkan telivisi, tentu aku tidak tahu artis itu seperti apa. Yang aku tahu hanyalah dari sekedar membaca buku dan majalah hasil pinjaman dari teman kakak waktu itu. Saat mendapatkan majalah, rubrik pertama yang menjadi tujuanku adalah membaca cerpen atau kisah-kisah nyata. Ada rasa ketertarikan saat aku mulai membaca. Perlahan juga kakak memberiku bacaan berupa buku-buku serial Lupus karya Hilman Hariwijaya dan Kang Boim Lebon.

Ketertarikanku pada tulisan mulai membuatku sering berkhayal. Terkadang aku mulai asyik dengan kesendirianku dan mencorat-coret buku tulis atau lembaran kertas kosong. Dengan hanya menulis sebaris kalimat, atau kemudian mulai menulis beberapa kata yang kemudian baru aku tahu, itu istilahnya puisi. Menginjak usia dua belas tahun, aku makin gila untuk terus menulis. Hingga akhirnya duduk di bangku SMP, aku mulai menulis hal-hal yang lebih besar lagi. Aku belajar menulis cermin (cerita mini) yang mungkin sekarang lebih keren dengan istilah Flash Fiction. Kemudian meningkat pada tulisan yang lebih panjang lagi yaitu cerpen (cerita pendek). Perlahan aku ingin sekali tulisan itu mejeng di majalah-majalah yang sering aku baca. Meskipun saat itu ekonomi keluarga tidak mendukung, akupun berusaha mengirimkan tulisanku dengan menyisihkan uang saku untuk sekadar beli perangko.

Satu dua naskah tulisan telah aku coba kirimkan ke media termasuk ke majalah Annida. Namun karena nasib yang tidak mujur, tulisanku tidak ada satu pun yang dimuat. Mungkin karena aku belajar menulis secara otodidak, tentu tulisanku kurang berbobot. Hingga suatu hari aku mengenal majalah Annida yang berisikan rubrik Bengkel Cerpen Nida serta rubrik Galeri. Dari situlah aku mulai belajar memperdalam lagi bagaimana cara menghasilkan tulisan yang baik dan berkualitas. Tulisan-tulisan Harris Efendi Thahar, Kang Joni Ariadinata dan Gol A Gong telah benar-benar menghipnotisku. Ternyata menulis fiksi (yang baru kemudian aku tahu istilah itu dan sebelumnya aku hanya tahu itu cerpen saja) bukan hanya menulis dengan khayalan semata. Cerita fiksi yang bagus bukan hanya cerita kosong belaka. Tapi alangkah bagusnya bila cerita itu mengandung ilmu pengetahuan dan pesan moral yang bisa membawa pencerahan bagi pembaca. Cerita fiksi juga boleh diangkat dari hal-hal nyata yang disamarkan sehingga cerita itu bukan cerita rekaan dan kosong belaka. Tapi cerita yang benar-benar berisi dan berbobot.

Nah, dari sanalah aku mulai menggali ide-ide yang ada di otakku. Aku pun mulai belajar peka terhadap lingkungan sekitar agar tulisanku benar-benar berisi. Bukan suguhan cerita yang hanya membohongi pembaca saja. Perlahan aku mulai melirik cerpen-cerpen di majalah Annida. Kembali timbul keinginan untuk mencoba kembali mengirimkan tulisan ke sana. Cerpen dengan judul Setrika Arang Emak berhasil menghiasi kolom cerpen Nida. Tentu saja aku sangat senang bukan alang kepalang. Meskipun itu bukan cerpen pertama yang berhasil dimuat oleh media. Namun Annida menjadi tolak ukur tersendiri bagi tulisanku.

Apakah setelah itu aku harus puas? Tidak! Kembali mengingat cita-cita dan impiamn aku pun memutuskan. Aku ingin menjadi penulis. Berbagi cerita dengan semua orang.

Perlahan tapi pasti, aku niatkan dalam hati untuk terus mewujudkan impianku. Secara perlahan pula, dunia baru aku jajaki. Seiring berjalannya waktu dengan pembelajaran yang tekun dan tak pernah kenal putus asa, aku mewujudkan impianku. Beberapa tulisanku mulai dimuat di media massa. Bahkan tidak jarang aku pun diminta untuk menjadi salah satu pemateri atau trainer dalam acara-acara kepenulisan yang ada di kotaku. Inilah sebuah perjungan. Sebagai catatan, janganlah takut untuk belajar dan belajar bila ingin mewujudkan sebuah impian. Jadikanlah impian sebagai tujuan yang akan menyemangati perjalanan kita. Satu hal lagi, jangan pernah takut untuk menjadi seorang penulis. Karena menjadi seorang penulis itu sangat gampang, namun yang sulit adalah bagaimana menjaganya agar tetap eksis dan selalu produktif. Inilah kunci bila ingin menjadi seorang penulis. Niatkan lillahi ta’ala bila jalan yang kita pilih adalah hidayah-Nya. Insya allah akan ada jalan bagaimanapun sulitnya.



Pamekasan, Desember 2011 

 

 

 

BIODATA PENULIS

 

Karya Dimuat :

Buku terbit :

  • Antologi Puisi “Cinta Dini Cinta Senja” Pamekasan, 2006

  • Antologi Puisi “Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010” Dewan Kesenian Mojekerto, 2010

  • Antologi Cerpen “Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010” Dewan Kesenian Mojekerto, 2010

  • Antologi Cerpen “Bunga-Bunga Layang” Halaman Moeka Publishing, 2011

  • Antologi “Lelaki Beraroma Ayah” Hasfa Publishing, 2011

 

Naskah remaja dimuat :

  • Cerpen “Setrika Arang Emak” Majalah Annida 2007

  • Cerpen “Jelaga” Buletin Activa 2007

  • Cerpen “Kejujurann Yang Ternoda” Majalah Tera 2009

  • Cerpen “Malang Yang Disayang” Majalah Strory 2011

 

Naskah anak dimuat :

  • Cernak “Iri Seperti Beri-beri” Majalah Mentari, 2011

  • Cernak Fabel “Kecil-Kecil Berilmu” Majalah Mentari, 2011

  • Cernak Fabel “Tarian Kunang-Kunang” Majalah Mentari, 2011

  • Cernak Fabel “Nyanyian Hen” Majalah Mentari, 2011

  • Cernak Fabel “Arti Sebuah Kepercayaan” Majalah Mentari, 2011

  • Cernak Fabel “Bukti Kesetiaan” Majalah Mentari, 2011

  • Cernak Dongeng “Putri Sembunyi” Majalah Mentari, 2011

  • Cernak Dongeng “Binder Buat Si Bandel” Majalah Mentari, 2011,

  • Cernak Fabel “Si Usil Yang Merugi” Majalah Mentari, 2011

  • Dll.

 

 

 

Artikel Sebelumnya :

4 Komentar :
2011-12-16 10:06:40 WIB

Nuraini Alkimya

Saya juga masih belajar nih! Do'ain ya moga bisa cepet ngikut jejaknya! *Berharap*

2011-12-17 09:00:59 WIB

Alby S.

pastinya. Kita saling doa mendoakan. yang terpenting jangan pernah ada kata takut untuk belajar. teruslah berjuang dan tetap semangat demi meraih impian.

2011-12-25 09:58:50 WIB

QS. Emmus

Impian Alby nggak cuma satu, lo. Pasti sebentar lagi bakal terwujud semua. Amin... Tulisan ini menyemangati banget!

2011-12-26 13:23:32 WIB

rara syaila

berfokuslah pada satu impian,jangan bercabang2 supaya hasilnya sempurna.


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)