LIKA-LIKU KULI TINTA (Tamat)
06 Des 2011 | Rubrik: Cerbung - Dibaca: 2037 kali
“Mbak, ibu kenapa, Mbak? Sakit apa, gimana kondisinya sekarang?” tanyaku tak sabar begitu bertemu Mbak Iren yang sedang duduk gelisah di salah satu kamar wisma Anggrek.
“Mbak juga nggak tahu, Di. Tadi waktu Mbak pulang les privat, Mbak lihat ibu merintih kesakitan, lalu pingsan gitu aja,” terang Mbak Iren.
“Trus, sekarang keadaan ibu gimana, Mbak? Menurut dokter, penyakit ibu apa?” kejarku tak sabar.
“Tenang, Di. Kata dokter, ibu hanya kecapekan saja. Katanya sih gejala thypus. Untung tadi cepat dibawa ke sini. Barusan ibu sudah siuman, tapi kondisinya lemah. Tadi setelah minum obat, tak lama kemudian ibu langsung tertidur.”
Keterangan Mbak Iren membuatku sedikit bernafas lega. Syukurlah kalau memang ibu tak terserang penyakit yang berbahaya. Ya Allah, sembuhkanlah ibu, jauhkan ibu dari penyakit yang berbahaya, batinku tak henti-hentinya menggumamkan doa untuk kesembuhan dan keselamatan beliau.
*
Hanya dua malam ibu dirawat di rumah sakit. Siangnya, dokter telah mengijinkan ibu pulang. Pesan dokter, ibu harus banyak istirahat. Jangan kerja terlalu kecapekan dan menghindari pikiran yang berat-berat. Biaya pengobatan dan rawat inap, aku dan Mbak Iren patungan membayarnya. Untunglah, kemarin siang sebelum berangkat kuliah, aku sempatkan mampir ke ATM, mengambil honor menulisku, empat ratus ribu. Rencananya sih buat persediaan hari-hariku beli bensin, pulsa dan ke warnet. Tapi, tak apalah uang itu dipakai dulu buat pengobatan beliau. Toh, masih ada persediaan uang di bank yang lebih dari cukup untuk keperluan sehari-hariku.
*
“Pokoknya sekarang ibu nggak boleh terlalu kecapekan, ya. Ibu harus banyak istirahat. Untuk urusan bersih-bersih rumah, biar Aldi yang ngerjain. Kalau urusan nyiapin masakan, itu tugas Iren, Bu,” ujar Mbak Iren pelan sambil merapikan tempat tidur ibu. Sementara aku memapah ibu menuju tempat tidur.
“Nggak usah dipapah, Di. Ibu sudah sehat dan kuat, kok,” kata ibu lirih seraya berusaha melepaskan rangkulan tanganku.
“Beneran nih, ibu sudah sehat?” seraya menatap ibu.
Ibu hanya tersenyum lebar. Ah! Jarang sekali aku bisa menyaksikan ibu tersenyum seperti ini. Damai rasanya melihat beliau bisa menyunggingkan senyuman yang selama ini entah bersembunyi di kutub mana. Dan seperti yang telah kuputuskan saat menunggu ibu, aku telah berjanji dalam hatiku, akan berusaha membahagiakan hati ibu. Dan telah kuputuskan untuk menerima tawaran GTT Bu Ida demi membahagiakan hati ibu.
“Bu, Aldi sudah pikirkan kok tentang tawaran Bu Ida kemarin. Aldi akan mencobanya,” kataku pelan saat ibu telah sempurna berbaring. Kulihat beliau tersenyum lagi. Melihat rona ibu yang mencerah, walau rautnya terlihat masih agak pucat, dadaku seperti tersiram butiran-butiran es. Sejuk-damai rasanya.
“Di, nggak usah dipaksakan kalo memang kamu belum siap,” subhanallah, benarkah apa yang dikatakan ibu barusan? Jangan-jangan, aku yang salah dengar dengan kata bijaknya itu?
“Di, mulai detik ini, ibu nggak akan maksa kamu lagi untuk menjadi pegawai negeri. Ibu persilakan kamu menentukan jalan hidupmu sendiri. Hanya saja, ibu berharap, pikirkan baik-baik sebelum kamu memutuskan sesuatu. Ibu hanya nggak mau melihatmu hidup susah,” kalimat demi kalimat yang ibu lontarkan membuatku tak bisa menahan buncahan rasa haru. Rasanya mustahil bagiku untuk memercayai setiap larik kalimatnya. Kulirik Mbak Iren. Dia hanya terpagut bisu, tak ikutan berkomentar seperti biasanya. Ternyata aku baru menyadari sekarang, bahwa tak ada satupun orangtua yang menginginkan anaknya hidup menderita.
*
Hari ini Minggu. Tak seperti biasa, aku tak keluar rumah mencari koran karena di luar rumah, curah hujan masih menderas. Sejak jelang Subuh, hujan tak jua berhenti. Kuhabiskan waktu di dalam kamar, membuka dan membaca lagi majalah dan koran-koran lama sambil meneruskan meng-edit beberapa cerpen yang endingnya masih membuntu.
Senin siang, sebelum masuk kampus, kusempatkan mampir dulu ke perpus umum. Aku mau ngecek tulisanku, siapa tahu cerpenku ada yang dimuat lagi. Kebetulan di perpus umum menyediakan beragam koran harian.
Pelan kubuka halaman demi halaman koran Minggu. Darahku langsung berdesir saat kulihat namaku terpajang di sebuah halaman budaya. Cerpenku dimuat untuk kesekian kali, di koran nasional lagi. Surprise! Benar-benar aku masih belum memercayainya. Seakan tak berkedip, kubaca hingga tiga kali cerpenku itu.
Usai kuliah, sebelum pulang ke rumah, kusinggahi satu persatu loper koran, demi nyari koran hari Minggu yang telah memuat cerpenku. Kecewa, itu yang kurasa saat tak satupun loper koran yang masih menyisakan koran hari Minggu.
Besoknya, sebelum ke kampus, aku menuju perpustakaan umum terlebih dulu. Rencananya, aku mau membeli koran yang telah memuat cerpenku itu.
“Nggak boleh dibeli, Mas. Kalau mau beli, mending di loper koran saja,” kata ibu penjaga perpus itu dengan nada tegas saat kuutarakan maksudku.
“Saya sudah nyari-nyari ke loper, tapi nggak ada, Bu. Boleh ya Bu, saya beli, kan korannya sudah nggak baru lagi,” aku memohon dengan sangat lagi hormat.
“Tetap nggak bisa, Mas, walau bukan koran baru tapi itu buat dokumentasi perpus, sebab biasanya ada beberapa pengunjung yang mencari referensi koran lama,” kata-kata ibu itu terdengar mulai mengetus.
“Masa nggak bisa sih, Bu,” pantang bagiku menyerah begitu saja.
“Nggak bisa Mas, kalau mau mending difoto kopi saja,” katanya dengan nada dan raut wajah tidak suka karena aku terus ngotot.
“Nggak puas Bu, kalau difoto kopi, saya pingin yang asli,” nada bicaraku mulai menyerah pasrah.
“Sebenarnya di koran itu ada informasi apa sih, kok ngebet banget,” ibu perpus itu melirikku sinis.
“Kebetulan cerpen saya dimuat di koran itu, Bu,”
3 Komentar :
annida
hheee... mangap, eh maap, Sob...
Ga konsen nih, detik2 menjelang buka puasa. Hheee...
pantes... dia udah makan banyak penghargaan...
jadi suka baca tulisan dia disini berbagi ilmu...
hehehe
salam wa
Isi Komentar :




