Kardinal
01 Des 2011 | Rubrik: Epik - Dibaca: 2352 kali
Aku ditakdirkan Tuhan lahir di kota dengan benteng paling tangguh di dunia. Aku senang bisa mengabdi pada Tuhan di bawah bimbingan Kardinal. Beliau selalu bisa memompa semangat para ksatria. Ksatria selalu bisa menghadang serangan bangsa-bangsa penjajah. Dari mulai pasukan Gothik, Avars, Persia, Khazar dan Arab Muslim. Ya, karena aku lahir dan hidup di ibukota peradaban dunia. Konstantinopel.
Di suatu sore cerah selepas menunaikan kebaktian, seorang gadis kecil berlari ke arahku. Di bawah kemegahan gereja Hagia Sophia, dia menangis di pundakku.
“Katakan sesuatu padaku, gadis manis... Tuhan akan selalu mengasihimu,” ucapku tulus berusaha menenangkannya.
Sambil sesenggukan dia berusaha berbicara. Wajahnya muram penuh kesedihan, dia memandangku penuh harap layaknya pengharapan seorang hamba pada Tuhannya.
“Bapa, kata bunda ayah dan kakak berjuang membela Tuhan. Mereka sedang mengusir para iblis yang menyerang kota kita. Aku sedih berpisah dengan mereka, Bapa!” Mata gadis kecil itu berkaca-kaca, gurat halus di wajahnya menjelaskan betapa menderitanya anak ini. Harus kesepian ditinggalkan orang-orang yang dicintainya segini muda. Aku hampir saja menangis, aku langsung memeluknya.
“Bersabarlah, anakku. Berdoalah kepada Tuhan semoga kau diberi kekuatan untuk melewati semua ini,” aku berbisik ke telinga mungilnya. Dia sekonyong-konyong melepaskan pelukanku dan menatapku tajam. Lebih tajam dari pedang. Ketajaman tekad karena terlalu sering melewati penderitaan.
“Sampai kapan aku harus bersabar, Bapa? Kapan perang ini akan berakhir?” dia menangis lagi dan menaruh tubuhnya ke pundakku. Melepas semua beban berat yang harus ditanggung oleh gadis kecil ini.
Aku melingkarkan tanganku ke tubuhnya. Setitik air mata jatuh di pipi kiriku, ya, hanya setitik. Sebuah senyum harapan tersungging di bibirku.
“Perang pasti berakhir, anakku. Tuhan pasti akan mengirimkan Raja yang akan memberikan kedamaian bagi negeri ini. Percayalah!”
*
“Bumb!” sebuah dentuman keras memecah kesunyian kota. Aku dan Kardinal yang tengah khusyuk berdoa tak kuasa membeku dalam ketakutan. Seorang ksatria berlari menghampiri kami.
“Bapa, pasukan Arab menyerang benteng utama. Kardinal diminta segera menemui Yang Mulia Raja Konstantin 11,” keringat dingin mengalir di kening ksatria itu, dia dicengkram ketakutan yang sama dengan kami. Ya, suara-suara meriam Arab bisa membuat nyali para ksatria kami ciut. Apalagi kami rakyat, rasanya seperti mau mati.
“Jadi ini balasan dari Sultan? Sang Sultan tidak mau berdamai tanpa menaklukkan Konstantinopel. Dan Raja Konstantin juga tidak mau menyerahkan Konstantinopel begitu saja. Tidak ada jalan lain, kota ini kembali harus berperang!” Kardinal memejamkan mata sebentar, dia mengepalkan sebelah tangannya.
“Pastur!” ujarnya.
“Iya, Bapa?” jawabku
“Jagalah gereja ini sampai aku kembali,” pintanya.
“Baik, Bapa!” ujarku.
Lalu Kardinal mengikuti ksatria itu menuju kediaman Raja Konstantin. Untuk sementara seluruh rakyat masih aman di rumah-rumah mereka. Aku juga hanya bisa berdoa dan terus saja berdoa kepada Tuhan. Selama benteng kami belum berhasil ditembus, tidak ada yang perlu ditakutkan. Walaupun harus aku akui, suara meriam Arab sungguh telah membunuh setengah jiwa kami.
Diskusi berlangsung semalaman. Ketika aku masuk ke ruangan Kardianal, aku baru sadar dia sudah duduk dengan kecemasan yang amat sangat di ruangannya. Wajahnya basah oleh peluh. Bahkan saat dia mencoba minum air dari gelas porselen kesayangannya, dia meletakkan gelas itu kembali ke meja.
“Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi, Bapa?” tanyaku perlahan padanya. Ini memang bukan satu dua kali kami diserang. Walaupun menurut sejarah pasukan Arab sudah delapan abad terus menerus menyerang kota ini.
“Buruk, ini buruk sekali. Ini adalah yang terburuk dari yang paling buruk. Sultan Mehmed membawa 150 ribu pasukan!"
“150 ribu pasukan?” Aku bergidik. Ini pasukan terbesar yang pernah dikirim bangsa manapun untuk menyerang kami. Perang tidak akan berlangsung berminggu-minggu, perang ini akan berlangsung berbulan-bulan, sampai Sultan kehilangan semua pasukannya atau kami kehilangan Konstantinopel.
“Sudah tidak ada jalan lain. Kita harus meminta bantuan ke Roma,” ujarnya sambil mengambil gelas porselennya lagi.
“Roma? Aku tidak setuju, Bapa, hati rakyat akan tersakiti,” jawabku menentang.
Air yang hendak diminum Kardinal, dimuntahkannya lagi. Setetes airpun tak sanggup mengalir di tenggorokannya. Selama aku mengabdi pada Kardinal, tidak pernah aku melihatnya sangat tegang dan ketakutan seperti ini. Seolah-olah malaikat pencabut nyawa telah mengetuk pintu kamarnya.
“Tidak ada jalan lain. Jika bantuan dari Roma tidak datang maka Konstantinopel akan tamat,” ujarnya. Sambil menundukkan tangan dan wajahnya ke atas meja.
“Aku lebih senang melihat sorban daripada topi latin,” ujarku dalam hati. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa benciku kepada orang-orang Roma.
Perang berlangsung berminggu-minggu. Benteng kami sempat dihancurkan oleh orang-orang Arab. Untunglah para ksatria bisa membangun kembali benteng sebelum pasukan Sultan mendekati benteng.
Ada desas desus bahwa pasukan Arab membuat terowongan untuk menembus benteng. Seluruh rakyat ketakutan dan mulai mengungsi ke gereja. Untunglah tidak ada tanda-tanda pasukan Sultan berhasil memasuki kota. Di Barat juga terjadi pertempuaran sengit antara Genoa Giustiniani dan armada laut Sultan. Genoa berhasil mengaramkan kapal-kapal mereka. Semangat para ksatria kami terangkat, sampai saat ini belum selangkah pun pasukan Sultan berhasil memasuki Konstantinopel.
Bantuan yang diharapkan dari Roma datang tidak sesuai dengan harapan. Jika perang berjalan seperti ini terus, peperangan tak akan pernah berakhir. Kecuali salah satu dari Konstantinopel atau pasukan Sultan runtuh.
Aku sangat percaya dengan kekuatan benteng negeri ini dan pasukan Genoa Giustiniani di Barat. Yang sangat aku khawatirkan justru pelabuhan di Timur, Golden Horn. Walaupun di selat sempit itu ada rantai besar yang meghalangi kapal. Aku takut pasukan Sultan sewaktu-waktu menembus masuk selat itu. Aku tak bisa menahan asaku untuk bertanya pada Kardinal.
“Bapa, apakah Raja Konstantin menyiapkan pasukan di Golden Horn?” tanyaku sungguh-sungguh.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan di Golden Horn. Sampai kiamat pun pasukan Sultan tak akan sanggup menembusnya. Yang harus kita khawatirkan mengapa pasukan bantuan dari Roma hanya datang sedikit. Kalau begini terus cepat atau lambat orang-orang Arab akan menguasai kota,” ujar Kardinal. Aku tidak mengerti, kondisi Kardinal semakin lama semakin buruk. Ketakutan sudah menjadi pakaiannya seolah-olah lubang pemakaman telah disiapkan untuknya.
“Apakah kau merasa tidak sehat, Bapa?” tanyaku menghawatirkannya.
“Apa? Ti-tidak, a-aku tidak apa-apa,” jawabnya gugup. “Beritahu seluruh pastur di setiap gereja di Konstantinopel. Jika keadaan memburuk, kita harus bersiap menampung anak-anak, perempuan dan orang tua sebanyak mungkin.”
“Baik, Bapa. Akan aku laksanakan!' jawabku.
Sebagai tangan kanan Kardinal aku bertugas menyampaikan titah gereja kepada rakyat dan gereja-gereja kecil lainnya. Aku setengah tidak mengerti mengapa Kardinal meminta agar gereja bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk. Apakah kami sudah pasti kalah? Apakah Konstantinopel akan jatuh ke tangan orang-orang Arab? Aku tidak tahu. Aku hanya bisa berdoa agar Tuhan menyelamatkan Konstantinopel.
29 Mei 1453, apa yang selama ini aku takutkan akhirnya terjadi. Entah dengan bantuan Jin atau Iblis, kapal-kapal Sultan berhasil menembus Golden Horn. Pekik dan teriakan aneh membahana di seluruh kota. Apa yang diduga oleh Kardinal, terjadi. Seluruh anak-anak, perempuan dan orang tua kami ungsikan ke gereja.
Perang kota tidak mungkin terhindarkan lagi, aku bergegas menemui Kardinal tapi aku tidak menemukannya di ruangannya. Aku mencari di setiap sudut gereja Hagia Sophia tapi tetap tak kutemukan juga. Padahal di saat seperti ini, Kardinal-lah yang mempunyai kunci untuk menyelamatkan kami.
5 Komentar :
sebuah awalan yang bagus,,bahasanya mengalir,dan aku sebagai pembaca menikmati di awal naskah,, tapi begitu di akhir,kok agak dipaksakan ya,saat anak kecil muncul diantara perseteruan antara pastur dan bapa..endingnya adalah kematian anak kecil dan pastur,,tapi mungkin bisa dibikin lebih halus lagi,,jadi kesannya gak dipaksakan,,,good job dan tetap semangat ^_^,,ditunggu karya selanjutnya
Deskripsi Ceritanya mampu membuat Saya seolah-olah Menyaksikan dan Mengalami Peristiwa masa itu. Top banget.....Two Thumbs buat penulisnya..
:)
Luarrr Biazzzaaa.... tidak jauh dari isi bukunya. Coba sahabat baca bukunya, judulnya "Muhammad Al-Fatih". Disana lengkap tentang penaklukan konstantinopel oleh Sultan Mehmed II. Membangkitkan semangat untuk membuktikan bahwa Islam, agama rahmatan lil 'alamin.
Isi Komentar :







