Untitled Document

Kategori : Komentar Cerpen Rijek

Dibaca : 2818 Kali

Akhir Cerita yang Begitu Miris

 

Sobat Nida, sebagai penulis cerpen tentu pasti memiliki beberapa kendala dalam menghasilkan sebuah cerpen. Kendala setiap cerpenis pasti berbeda. Ada beberapa yang sulit untuk mengawali cerita, ada beberapa yang sulit menentukan judul cerita, ada pula yang sulit mengakhiri jalan cerita.

Alhasil banyak dari cerpenis mengakhiri jalan cerita dengan cara yang sangat klise. Yakni dengan kematian peran utama atau peran lainnya dalam cerita. Lucunya, banyak Sobat Nida yang mengirimkan cerita dengan akhir yang sama, yakni dengan salah seorang tokohnya menderita leukemia.

Seperti cerpen di bawah ini yang berjudul Sakura , Aku Menantimu Di sini dan Salju, Jangan Turun Hari Ini. Keduanya ditulis oleh Weny Widiastuti. Akhir ceritanya sama, yakni salah satu tokohnya menderita Leukemia atau yang biasa kita kenal dengan sebutan penyakit darah.

Pada cerpen pertama, kita akan menemui jalan cerita yang berlatar di negeri Sakura pada awal mulanya. Tokoh aku mengobati kerinduannya dengan wanita yang dicintainya melalui seorang gadis yang bermain alat musik di bawah pohon sakura. Gadis itu bernama Sasa alias Sakura, seseorang yang pada akhir cerita dijelaskan meninggal akibat penyakit Leukemia.

Pada cerpen yang kedua, cerita berlatar di negeri yang bersalju (tidak dijelaskan latar tempat dengan rinci). Ken, sahabat Hana, adik tokoh aku, tiga tahun yang lalu meninggal karena sebuah penyakit berat yang diderita Ken. Setiap kali salju turun, Hana selalu bertanya di mana Ken? Sang tokoh Aku merasa, salju yang mengingatkan adiknya Hana, pada Ken. Tokoh aku berharap, salju jangan turun lagi, agar Hana bisa melupakan sahabatnya yang meninggal akibat Leukemia.

Sobat Nida, berbagai cara bisa ditempuh untuk mengakhiri sebuah cerita dalam cerpen. Mengakhiri cerita dengan tokoh utama atau tokoh lainnya dengan kematian, tidak salah. Tetapi karena cara mengakhiri cerita seperti ini begitu banyak dipakai orang, akibatnya menjadi sebuah hal yang klise. Cerita tak harus berakhir dengan kematian. Apalagi kematian itu dengan meninggalkan surat wasiat. Wah, cara itu lebih umum lagi, Sob. Tidak ada kejutan.

Bila ingin mengambil contoh berdasarkan cerita yang sudah terkenal, cobalah tengok novel fonemenal, Harry Potter. Pada serial ketujuh, pengarang yakni J.K Rowling begitu mendapat tekanan, akan seperti apakah akhir cerita itu berujung. Banyak yang menyarankan, tokoh utama mati bersama musuh besarnya. Tetapi kenyataannya, sang pengarang mengubah “opini” pembaca dengan akhir cerita yang lain sama sekali. Akhir cerita diakhiri dengan bijak oleh pengarangnya.

Sobat Nida, seperti yang Nida pernah bahas sebelumnya, tidaklah sulit menghasilkan sebuah cerita yang bagus. Asalkan cerita itu memiliki tema yang unik, jalan cerita menarik, penggarapan cerita terjalin apik, serta tentu saja ending yang klasik. Lhoo?

Maksudnya ending yang mengejutkan dan penuh hikmah. Jangan lelah untuk terus mencoba, Sob, karena sesungguhnya begitu banyak cara untuk berhasil. Banyaklah berlatih dan teruslah membaca. Jangan bosan juga mengirim cerpen ke redaksi Annida. Siapa tau Sobat Nida menjadi penulis besar nantinya. Aamiin... ^___^

 

 


Artikel Sebelumnya :

Untitled Document