Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

MONSTER HITAM

29 Nov 2011 | Rubrik: Kisah Sejati - Dibaca: 2494 kali

Penulis: Khyarina



Sudah hampir tujuh tahun sejak peristiwa yang menggemparkan dunia itu. Orang-orang menyebutnya Tsunami. Kau tahu... sama sekali tak pernah terpikirkan dalam benakku, akan mengalami sendiri musibah yang sebelumnya hanya kupelajari sekilas di mata pelajaran fisika, dan tentu saja aku tidak akan terlalu mengingat pembahasan mengenai bencana paling dahsyat di akhir 2004 itu.


***


26 Desember 2004

Besok, tepatnya senin 27 Desember 2004, jadwal ujian semesterku adalah matematika dan sejarah. Tadi malam aku sudah berlatih dengan rumus-rumus matematika dan berencana minggu pagi menghafal teori-teori dalam catatan sejarah.

Aku cinta matematika. Senang sekali rasanya hari pertama ujian adalah mata pelajaran yang kusuka. Sedangkan sejarah, aku kurang suka, walaupun memang menyenangkan. Seperti membaca sebuah cerita, tapi cerita itu mesti dihafal sampai sedetil-detilnya, bahkan tahun terjadinya pun tak boleh silap. Membuat cerita menyenangkan menjadi memberatkan. Ironis memang, karena almarhum ayahku adalah seorang dosen sejarah, tapi tak satupun anaknya menyukai mata pelajaran itu.

Jadilah pagi itu mulai dari selesai shalat shubuh, aku telah memegang catatan sejarah, membaca pelan seraya menghafal sebisaku. Ummi sudah menyiapkan roti bakar untuk sarapan di dapur dan itu pun kubawa masuk ke kamar agar aku bisa sarapan sembari belajar. Tepat pukul 08.00 WIB, tempat tidurku seperti bergoyang (kebiasaanku belajar di tempat tidur). Terdengar teriakan Ummi dari arah dapur. "Ayah, Abang, Adek... Gempa! Yok, cepat keluar!"

Malas-malasan aku keluar kamar, kupikir gempanya pasti tidak akan terlalu berat, mungkin seperti yang dulu. Sebelum gempa 24 Desember, memang pernah terjadi gempa, tapi dengan skala yang tidak terlalu berat dan hanya sebentar saja, tak perlu sampai keluar rumah. Tapi, makin lama, rumah semakin terguncang, Ayah dan Abang sudah turun dari tingkat dua dan mereka semua berlarian ke luar lewat pintu garasi, menuju depan rumah. Aku yang hanya dengan pakaian tidur pun segera menyambar selembar kain untuk setidaknya menutupi kepalaku karena tak sempat mengambil jilbab, lalu bergegas mengikuti tiga orang terkasihku itu menuju keluar rumah.

Sesampainya di depan, ramai sekali. Tetangga-tetangga kami duduk di jalan seraya berdzikir ketakutan. Aku pun mengambil tempat di samping Ummi, ikut berdoa meski tak menjerit. Takut? Sangat! Bahkan aku yang tak sempat memakai kacamata karena buru-buru keluar, ternganga melihat dahsyatnya gempa yang berlangsung beberapa menit itu, padahal segalanya terlihat kabur dan buram. Segalanya berguncang keras, perumpamaannya seperti isi botol yang sedang dikocok. Maha Besar Tuhan, betapa kecilnya manusia. Hatiku berkata saat itu, mencoba menenangkan diri, "Apa hari ini kiamat? Allah, ini akan segera berakhir, bukan?” Ya Allah... aku tersentak! Teringat bahwa aku belum mengganti puasaku sehari lagi. Memang saat seperti itulah baru kita menyadari hutang-hutang kita. Payah!

Beberapa saat setelah itu, gempa pun perlahan berhenti. Alhamdulillah, ucap syukurku pada-Nya. Ibu-ibu mulai ribut, entah apa yang mereka bicarakan, aku tak peduli. Segera aku beranjak dari dudukku sambil berkata pada Ummi, "Mi, adek mau ganti baju sebentar di dalam, ya, terus mau ambil kacamata". Rasanya tak enak sekali, duduk di luar dengan kostum tidur dan kain yang menutup rambut seadanya, apalagi tanpa kacamata, sungguh tak nyaman.

"Iya, tapi hati-hati, ya, kalo gempa lagi, langsung keluar," Ummi menyahut. Aku berlari ke dalam rumah, cepat-cepat mengganti pakaian, memakai jilbab kurung dan mengenakan kacamata, tak lupa mengambil catatan sejarah yang tadi lupa kubawa keluar sewaktu gempa.

Baru saja kakiku akan melangkah keluar pintu, terdengar dering telepon rumahku. Nah loh?! Siapa pula itu? Sedang ribut-ribut gempa begini sempat menelepon orang. Tak jadi aku keluar, kuangkat dulu telepon itu, siapa tau penting. Baru saja kuucap “halo”, terdengar suara panik dari ujung sana. “ini Dek Ina, ya? Ummi Ayah mana? Tadi gempa di sana? Ini Om Mus.”

Hey, ternyata Pamanku yang tinggal di Jakarta. Cepat sekali info sampai ke Jakarta, padahal baru beberapa menit setelah gempa. Kujelaskan pada Paman bahwa kami baik-baik saja, gempanya memang berat tapi kami sekeluarga juga warga di sekitar rumah, semua selamat. Beliau juga tanya apa rumah kami rusak. Kubilang, tidak. Bahkan tak satu gelas pun jatuh dari tempatnya. Semua seperti sedia kala saat ditinggal berlari tadi. Pamanku pun sedikit lega dan kami menyudahi pembicaraan. Aku segera menutup telepon itu dan berlari keluar, tak mau membuat Ummi cemas karena aku terlalu lama di dalam, tanpa kutahu bahwa beberapa menit lagi kalimat “baik-baik saja” yang tadi kulontarkan pada Paman akan terpatahkan.

Sampai di luar, aku langsung menuju Ummiku, menyampaikan kalau tadi Paman menelepon. Setelah bercerita sedikit tentang pembicaraan di telepon tadi, kami berjalan ke ujung lorong bersama para tetangga, melihat gedung sebuah toko kelontong yang sempat ambruk karena gempa yang begitu dahsyat. Mulailah mereka heboh dengan apa yang dilihat. Aku yang baru saja ingat kalau besok ujian, tidak mau ikut-ikutan ribut di situ. Sebenarnya ingin juga sih, tapi ujian lebih penting!

Akhirnya aku kembali dan duduk di teras rumahku seraya menghafal isi catatan sejarah. Baru sebentar aku duduk, terdengar ribut-ribut lagi. Laki-laki dengan pakaian loreng melajukan motornya dengan cepat dan berteriak, “Air naik…! Air naik…!”. Hah...? Apa lagi ini? Air naik…? Air pasang, maksudnya? 

Seketika berpuluh manusia di lorong rumahku pada berlarian menjauhi arah laut. Ummi masuk ke dalam rumah mencari kunci mobil, agar bisa melarikan diri lebih cepat sekaligus dapat memberi tumpangan untuk nenek sebelah rumah yang tak sanggup lagi berlari. Tapi… Ajaib sekali... Kunci itu hilang, lenyap mendadak! Padahal tadi baru saja dipegang oleh Ummi sebelum gempa untuk memanaskan mesin mobil. Dan saat ini aku telah tahu hikmah di balik hilangnya kunci mobil yang sedikit banyak sempat membuat kami menggerutu saat itu. Mungkin kalau kami melarikan diri dengan mobil, saat ini kami sudah tak lagi ada di sini, aku pun tak ada di depan laptopku, mengetik cerita ini. Banyak sekali masyarakat kampung kami yang meninggal saat mencoba lari dengan mobil, karena sekencang apapun mobil dibawa, tak bisa mengalahkan tajamnya arus laut yang mematikan ratusan ribu warga Aceh itu.

Akhirnya, aku, Ummi, dan Ayah, berdiri. Bingung akan menentukan pilihan, apakah ikut berlari atau naik ke tingkat dua.

Loh, Abang mana? Aku baru sadar dia tak ada. Ummi bilang, “Setelah gempa tadi, abang langsung pergi, mau lihat Pante Pirak yang roboh, katanya”.  Ya ampun, abangku itu. Memangnya penting ya lihat Pante Pirak? Tapi mau bagaimana lagi... Aku cuma bisa berdoa, semoga Allah membuka jalan bagi dia untuk menyelamatkan diri.

Bagaimana dengan kami? Kami masih saja berdiri di situ sementara orang-orang terus berlarian. Aku yang melihat semua orang berlari, merasa bahwa ikut lari adalah pilihan terbaik. Karena saat itu di dalam pikiranku yang masih sangat awam mengenai apa yang disebut tsunami itu, airnya tidak akan terlalu membahayakan. Mungkin seperti air pasang yang biasanya juga sampai ke halaman rumah kami saat musimnya tiba. Akhirnya aku ikut berlari menjauhi arah laut. Kebetulan ada Hida, anak tetangga sebelah rumahku yang juga sedang berlari. Jadilah kami berlari berdua. Baru beberapa meter, Ummi memanggilku, “Adek, balek sini! Hida juga”.

Aku enggan kembali, kujawab, “Lari aja, Mi, sini...! Semua orang lari.”

Ummiku tiba-tiba jadi galak, beliau berteriak keras sekali, “BALIK SINI...! CEPAT NAK!”

Tanpa bantahan lagi, aku segera balik badan dan berlari kembali menuju Ummi. Hida kembali ke keluarganya, aku beranjak ke Ummi dan Ayahku. Ayah bilang, “Kita naik ke rumah ini aja, biar sama-sama”. Tetangga depan rumahku mengajak kami untuk ikut naik ke rumah mereka. Daripada kami naik ke rumah sendiri, karena ayah sedang kurang sehat, jadi, kalau beramai-ramai mungkin bisa sedikit membantu bila terjadi apa-apa.

Halaman: 1 | 2 |

Artikel Sebelumnya :

8 Komentar :
2011-11-29 23:40:36 WIB

izqye

Kok, ceritanya belum selesai ya?

2011-12-01 13:47:14 WIB

Efend

izqye; ceritanya selesai, ada dua halaman.
ceritanya sukses mengajak memori untuk berputa kembali ke masa kelam itu.

2011-12-01 22:14:44 WIB

linna

Keren banget. Bisa mengajak imajinasi pembaca terhanyut pada kejadian tragis itu.

2011-12-02 11:08:32 WIB

ayu s

mbak....bersyukurlah mbaknya dan keluarga selamat.aku...hanya diriku saja yang selamat.ibu,bapak,adikku.anakku.nenekkku semuanya meninggal mbak.dan percayalah sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.smoga musibah ini tidak terjadi lagi di tanah kita tercinta ya mbak.salam kenal

2011-12-02 11:14:36 WIB

ayu s

oya mbak satu lagi...hati hati terhadap orang yang memanfaatkan kita sebagai korban tsunami.dan menjual nama kita. .saya pernah mengalaminya.rasanya sangat sakit.tidak semua orang itu baik dan berempati.

2011-12-02 22:27:02 WIB

dhie

subhanallah....ceritanya membuat q terhanyut ddlmnya, semangat selalu!! slm kenal!!

2011-12-05 16:29:32 WIB

Mailina

Aq jadi terharu.G kebayang deh kl aq yg ngalami

2011-12-20 08:59:12 WIB

ni ina lho_

aku ikut mnangis mmbaca'a,, mngingatkn q kmbali tntang bgmna nasib tman2 SD dan MTsN q d banda aceh yg trkena tsunami,, aq khilangan kontak dgn mreka stlah pndah k mdan (alhamdulillah, aq skeluarg pindah sblm tsunami)


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)