Untitled Document

Kategori : Komentar Cerpen Rijek

Dibaca : 2054 Kali

Dialog Terlalu Banyak, Membaca Pun Tak Enak

Sobat Nida... Sebagai pembaca, apa sih yang kita harapkan dari cerita yang kita baca? Tentu sebuah cerita bertema menarik, jalinan cerita yang terjalin apik, serta amanat cerita yang menggelitik, eh maksudnya penuh hikmah. Hehe. Tentu cerita yang seperti itu akan sangat berkesan di hati kita. Bahkan sampai beberapa saat setelah membaca, terkadang cerpen itu masih memiliki tempat di hati kita. Betul, betul, betu?

Kriteria mengenai cerpen yang bagus, tentu relatif. Tergantung dari sudut mana pembaca menilai apakah cerpen itu bagus atau tidak. Tetapi bila melihat cerpen yang sudah banyak dimuat di web Annida-Online, pasti Sobat Nida bisa melihat kriteria cerpen yang baik menurut redaksi. Baik dari segi penulisan maupun jalinan cerita.

Kali ini Nida akan membahas cerpen yang baik dari segi penulisan. Sebenarnya banyak Sobat Nida yang mengirimkan cerita pendek yang bertema unik dan menarik. Tetapi bila dilihat dari segi penulisan, cerpen itu belum memenuhi kriteria redaksi Annida untuk dimuat dalam planet cerpen. Salah satu kekurangan dari cerpen–cerpen tersebut adalah banyaknya dialog untuk menggambarkan keadaan dalam cerita yang ditulis. Memang sih, dialog dalam cerpen itu perlu, tetapi seperlunya saja. Jangan sampai mengaburkan isi cerita dengan terlalu banyak dialog antar tokoh. Dialog itu sebenarnya bisa diganti dengan teknik penggambaran deskripsi maupun narasi. Banyak cerpen yang sobat kirim lebih mendekati naskah drama dibandingkan sebuah cerita pendek. Salah satunya adalah cerpen di bawah ini.

Cerpen yang akan dibahas kali ini berjudul Cinta Masa Lalu oleh Dwi Sartikasari. Cerpen ini bercerita tentang perjalanan cerita cinta seorang Viny dalam menjaga cinta sejatinya untuk Lintang. Cerita berputar sepuluh tahun sebelumnya saat mereka masih kecil. Kemudian cerita berlanjut pada saat mereka duduk di bangku SMA. Cinta Lintang yang dulu berlabuh pada Viny kini berubah menjadi amarah karena sebuah pengkhianatan. Sekuat apapun upaya Viny membalikan keadaan, amarah Lintang tidak berubah, begitu juga dengan perangainya. Hingga Lintang disadarkan oleh sakitnya Viny yang menderita Leukimia.

Sejak awal mata disuguhkan dengan dialog-dialog antar tokoh yang khas remaja. Jalan cerita yang bermula pada masa lalu tokoh utamanya terus berlanjut pada jalan cerita hingga akhir cerita. Penggambaran tokoh, latar serta kejadian yang dialami tokoh utama hampir semuanya menggunakan dialog. Deskripsi dan narasi sangat minim sekali. Selain itu yang menjadi kelemahan adalah ujung cerita yang diakhiri dengan kurangnya suspensi atau kejutan. Tokoh utama menderita leukimia.

Selain cerpen di atas, masih banyak cerpen sobat Nida yang menggunakan teknik sama dalam membawakan cerita, yakni dengan dialog. Dialog antar tokoh tentu diperlukan, tetapi tentu dalam porsi yang sewajarnya saja, ya, sob. Apalagi bila dialog tersebut sebenarnya berisi hal-hal yang kurang penting dan bisa dihilangkan.

Cerita yang indah tentu dibawakan dengan teknik yang indah. Jadi untuk sobat Nida yang baru belajar membuat cerpen, jangan menyerah, ya... Tips dan kritik dari Nida semoga menjadi 'cambuk' tak nampak dalam berkarya. Ingat, sebuah karya tentu tak akan berhasil pada percobaan pertama. Jadi, selamat mencoba! ^___^b

 


Artikel Sebelumnya :

Untitled Document